“Belas Kasihan dan Kedermawanan sebagai Bekal Perjalanan”
Am 6,1a.4-7; 1Tim 6,11-16; Luk 16,19-31

Yesus masih dalam perjalanan menuju Yerusalem. Setelah menyampaikan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan menyampaikan cerita tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Secara singkat diceritakan, ada seorang yang kaya, yang hidup serba berkecukupan dan ada seorang yang miskin, sakit, dan serba kekurangan. Keduanya sama-sama meninggal. Yang seorang dibawa malaikat ke pangkuan Abraham dan yang lain menderita sengsara di alam maut.
Kemudian terjadilah dialog antara Abraham dengan orang yang di alam maut. Karena sangat menderita di alam maut, ia meminta agar Lazarus “melayaninya” dengan menyejukkan lidahnya di api penyiksaan. Dia juga berharap agar anggota keluarganya tidak mengikuti jejak hidupnya apalagi sampai masuk ke dalam tempat yang penuh penderitaan (ay, 28). Oleh karena itu, ia meminta kepada Bapa Abraham agar menyuruh Lazarus memperingatkan saudara-saudarinya yang masih hidup di dunia. Tetapi jawab Bapa Abraham: “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (ay.31).
Dives yang kaya dan lō ‘ēzer yang tidak berdaya
Lukas memperkenalkan dua tokoh protagonist dalam perumpamaannya, yang satu orang kaya dan yang lain seorang bernama Lazarus. Dalam teks Vulgata (Latin) orang kaya itu dikenal sebagai Dives: “Homo quidam erat dives”, (Luk 16,19). Kata “Dives” dalam Vulgata dipakai untuk menerjemahkan kata Yunani πλοὺσιος (plousios, kaya). Orang yang kaya ini dideskripsikan dengan pakaian dan kebiasaan makan-nya. Dia memakai jubah ungu dan kain halus serta bersukaria dalam kemewahan setiap hari (ay. 19).
Sementara yang lain hanyalah seorang ‘pengemis’ yang tidak mempunyai apa-apa bernama Lazarus. Nama Lazarus dalam perumpamaan ini mungkin adalah sebuah nama simbolis dari kata ibrani לֹא עֵזֶר (lō ‘ēzer, yang tidak berdaya, yang ditinggalkan) atau kependekan dari kata Eleazar, Allah yang menolong. Orang miskin hidup dengan iman dan mengikuti jejak Abraham, sedangkan orang kaya adalah seorang yang egois, yang mementingkan diri sendiri.
Yesus mengutuk semua orang kaya?
Dalam perumpamaan tentang Dives yang kaya dan lō ‘ēzer yang tidak berdaya, Tuhan Yesus sama sekali tidak mengutuk semua orang kaya. Dia juga tidak mengatakan bahwa semua orang miskin akan masuk surga. Yesus pun tidak mempertanyakan bagaimana orang kaya itu mendapatkan uangnya atau memiliki harta kekayaannya. Orang kaya tidak selalu sama dengan orang jahat. Ada begitu banyak orang kaya yang sangat peduli kepada sesamanya, menjadi benefactor yang murah hati bagi yang sangat membutuhkan. Kita bisa mengingat cerita tentang Zakheus, kepala pemungut cukai, yang menjamu Yesus di rumahnya (Luk 19,1-10). Tetapi orang kaya dalam cerita yang disampaikan Yesus menutup mata terhadap orang yang membutuhkan yang duduk di luar gerbangnya. Dia dihukum karena ketidakpeduliannya (ay.20-21).
Hal yang sama berlaku terhadap si miskin. Orang miskin tidak selalu merupakan orang baik. Matius, misalnya mencatat perumpamaan tentang orang-orang yang diberi talenta untuk dikembangkan. Tetapi seorang yang diberi satu talenta tidak mau memperkembangkannya dan akhirnya dihukum dan “dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di mana akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Mat 25,14-30). Lukas juga mencatat perumpamaan tentang mina di mana orang ketiga yang diberi satu mina itu tidak mau memperkembangkannya dan karena itu dianggap sebagai seteru raja yang harus dibunuh (Luk 19,20-27). Tetapi orang miskin dalam cerita Yesus kali ini hidup menurut iman bapa Abraham dengan mengandalkan Tuhan.
Perumpamaan ini mengingatkan para pendengar dan pembaca Injil Lukas bahwa kesombongan sering menyertai kekayaan. Orang kaya itu melihat Lazarus di surga, di “pangkuan Abraham” (ay. 22). Sementara itu, dia sendiri sangat membutuhkan pertolongan dan sekarat karena kehausan. Di alam maut pun dia kelihatan masih membawa kesombongannya. Dia berteriak, “Bapa Abraham, … Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku” (ay. 24). Dia menganggap dirinya bisa memanggil orang lain sebagai pelayan seperti ketika masih di dunia.
Ketika Abraham menjelaskan perbedaan situasinya dulu dan sekarang serta tiadanya kemungkinan untuk datang dari tempat Abraham ke tempat orang kaya itu berada sekarang, dia kembali berteriak, “Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia (Lazarus) ke rumah ayahku” (ay.27). Kesombongan orang kaya ini tetap dibawa sampai ke liang kubur. Barangkali itu juga bagian dari dosanya. Orang miskin dalam cerita Yesus itu tidak mengeluh tentang keadaannya di dunia ini. Dia juga tidak bermegah ketika Abraham “memangkunya” di surga. Dia hanya menerima apa pun yang datang dari Tuhan.
Adakah niat baik untuk pertobatan?
Orang kaya yang berada dalam ḥades atau tempat hukuman itu tidak mengucapkan kata-kata pertobatan. Mungkin karena dia menyadari bahwa kondisi siksaannya permanen. Dia memang berseru, “Bapa Abraham, kasihanilah aku” (ay.24). Akan tetapi, seruannya untuk belas kasihan itu bukanlah seruan pertobatan melainkan permohonan bantuan yang muncul dari situasi putus asa. Bahkan, statusnya sekarang tampaknya tidak mempengaruhi keangkuhannya karena ia memandang Lazarus sebagai hamba yang dapat dikirim Abraham ke tempatnya dan mendinginkan lidahnya dengan setetes air. Orang kaya itu hanya memikirkan dirinya sendiri dan kebutuhannya, dia sama sekali tidak memikirkan kebutuhan orang lain, seperti Lazarus.
Dengan perumpamaan tentang Dives yang kaya dan lō ‘ēzer yang tidak berdaya ini, tampaknya penginjil Lukas ingin mengajak para pembacanya untuk mengingat kembali kisah Yesus tentang bendahara yang tidak jujur, yang dengan cerdik menunjukkan belas kasihan kepada para peminjam harta milik tuannya dengan memberi sedekah demi mendapatkan tempat untuk dirinya sendiri setelah dipecat. Yesus menasihati murid-murid-Nya untuk melakukan hal yang sama dengan mengandalkan belas kasihan-Nya dan memberi sedekah kepada orang-orang seperti Lazarus. Dengan demikian mereka akan diterima ke dalam kemah abadi (Luk 16,9). Orang-orang seperti Lazarus ini adalah sesama yang akan menjadi “teman” di meja perjamuan abadi Kristus.
Pesan singkat
Kekayaan belum tentu merupakan tanda kebenaran hidup seseorang. Kekayaan bukanlah satu-satunya tanda perkenanan Tuhan. Demikian sebaliknya, kemiskinan bukanlah tanda ketidaksenangan atau hukuman Tuhan. Tuhan tidak membenarkan dan memuliakan orang berdasarkan tingkat kekayaan yang dimiliki seseorang di dunia ini. Orang kaya itu tidak menggunakan kekayaannya untuk memberi sedekah kepada Lazarus yang miskin yang menunggu uluran tangan di pintu gerbangnya. Kekayaan orang kaya menjadi kutukan yang menyebabkan siksaan abadi. Perilaku lahiriahnya yang suka makan berlebihan dalam kemewahan menunjukkan bahwa di dalam hatinya ia bukanlah seorang yang dermawan dan berbelaskasihan, melainkan seorang yang angkuh dan sombong.
Quezon City 2022 @donjustin
