Sekalipun Napoleon Bonaparte pernah berkata: “Tidak ada sesuatu pun sebagai kebetulan; yang ada adalah nasib yang salah nama,” ungkapan kebetulan sering kita dengar. Tak jarang, kita mendengar ungkapan-ungkapan begini, “Kebetulan dia bisa mengerjakan ujian walaupun soal-soalnya sangat sulit”; “Kebetulan dia sedang punya rejeki maka ia bisa membayar hutang-hutangnya sampai lunas”; “Kebetulan orangtuanya datang tepat pada waktunya sehingga anaknya selamat dari marabahaya”. Karena itu, kita perlu memahami makna “kebetulan” supaya kita “betul-betul” memahaminya.
Makna “Kebetulan”
Biasanya istilah “kebetulan” itu dikaitkan dengan peristiwa. Sebagai hal yang berkaitan dengan peristiwa, “kebetulan” mengisyaratkan ketidaksengajaan. Dengan demikian, “kebetulan” adalah ungkapan tentang ketidaksengajaan yang mendatangkan kebaikan. Ketika pernyataan “kebetulan” diungkapkan, ada sebuah peristiwa yang tidak sengaja, tetapi ketidaksengajaan itu mendatangkan kebaikan. Dengan ini, istilah “kebetulan” menunjukan sifat “betulnya”, yaitu kebaikan yang hadir dalam ketidaksengajaan. Misalnya, ungkapan-ungkapan ini: “Kebetulan kamu datang tepat waktu, kami sedang membutuhkan bantuan”; “Kebetulan soal-soal ujian yang keluar adalah bahan yang saya pelajari tadi malam”; “Kebetulan hari ini hujan deras sehingga benih yang baru disemai langsung tumbuh”.
Selanjutnya, istilah “kebetulan” berkaitan dengan kebaikan. “Kebetulan” menjadi ungkapan tentang kebaikan yang tidak sengaja. Pada umumnya, tindakan baik adalah tindakan yang disengaja. Ketika orang mau melakukan tindakan baik, ia menghendakinya dengan sengaja. Seturut pengalaman kita, tindakan baik merupakan hasil dari pertimbangan dan keputusan seseorang. Dalam pertimbangan dan keputusan, orang melakukan tindakan baiknya secara sengaja. Akan tetapi, istilah “kebetulan” yang berkaitan dengan tindakan baik adalah hasil dari ketidaksengajaan. Artinya, kebaikan yang lahir dari peristiwa “kebetulan” tidak direncanakan; kebaikan ini tidak lahir dari pertimbangan dan keputusan yang dikehendaki.
Berkaitan dengan istilah “kebetulan”, kita mengenal juga kata “kebenaran”. Kata “betul” dan “benar” dalam kehidupan harian sering disamakan begitu saja; “benar” sama dengan “betul” dan “betul” sama dengan “benar”. Dengan demikian, apakah kata “kebetulan” dan “kebenaran” juga memiliki arti yang sama? Sekalipun kata “betul” dan “benar” seringkali disamakan artinya, tidaklah demikian dengan “kebetulan” dan “kebenaran; Misalnya, jika kita mengatakan “Hakim itu membela kebenaran”; tidak dapat dikatakan “Hakim itu membela kebetulan”. Demikian juga, “Para pahlawan selalu membela kebenaran”; kalimat ini tidak bisa dikatakan “Para pahlawan selalu membela kebetulan”. Karena itu, kata “kebetulan” dan “kebenaran” mempunyai perbedaan.
Kata “kebetulan” yang berakar pada kata “betul” berhubungan dengan kepastian yang eksak. Kata “betul” berkaitan dengan ilmu-ilmu yang dapat diukur secara akurat-tepat, seperti matematika, logika, dan ilmu alam. Ketika sebuah jawaban diafirmasi dengan kata “betul”, jawabannya “akurat-tepat-pasti” yang tidak dapat diganggu gugat karena sifat kepastiannya yang eksak; jawabannya tidak dapat ditawar-tawar lagi dan tidak ada kemungkinan lain lagi. Tampaklah bahwa kepastian eksak itu bersifat statis. Sementara itu, kata “kebenaran” berkaitan dengan kepastian yang mungkin. Kepastian yang mungkin adalah kepastian yang masih terus-menerus bisa digali; kepastiannya bersifat dinamis yang terus mempunyai kemungkinan kedalamannya. Kepastian yang mungkin ini ibarat orang yang menggali tambang minyak. Para petambang akan berhenti ketika minyak ditemukan. Itu tidak berarti seluruh lahan minyak sudah ditemukan. Ketika petambang menggali lagi akan ditemukan lahan minyak yang lain. Di sinilah, makna “kebenaran” lebih luas cakupannya daripada “kebetulan”.
Lebih jauh, ada perbedaan “kebenaran” dan “kebetulan” dalam wilayah operasionalnya. Pernyataan “kebenaran” mempunyai wilayah operasionalnya dalam penilaian metafisika, moral, dan agama. Berkaitan dengan metafisika (kajian yang melampaui hal fisik), ketika berbicara tentang “kebenaran”, kita sedang berurusan dengan kesesuaian antara subjek dan objek; Apakah subjek yang mempersepsi sesuai dengan objek yang dipersepsi? Apakah yang ditangkap oleh subjek sesuai dengan kenyataan objeknya.
Berkaitan dengan moral (kajian tentang tingkah laku manusia), pembicaraan “kebenaran” berkaitan dengan tindakan manusia. Kebenaran adalah kecocokan tindakan manusia sesuai dengan martabatnya sebagai makhluk berakal budi. Jika manusia tidak melakukan tindakannya sesuai dengan akal budi, maka ia tidak melakukan kebenaran. Selanjutnya, kebenaran itu berkaitan dengan agama (kajian yang berkaitan dengan Allah). Pada dasarnya, setiap agama memperjuangkan kebenaran. Kebenaran dalam agama diukur dengan kehendak Allah sebagai asal dan tujuan manusia. Jika manusia mampu melaksanakan kehendak Allah dengan baik, maka ia sedang menghayati “kebenaran” dalam hidupnya (hanya sayangnya, di sini ada persoalan bahwa kehendak Allah tidak selalu identik dengan kebenaran, karena nyatanya kehendak Allah itu ditafsirkan oleh pikiran manusia yang bisa keliru). Sementara itu, pernyataan “kebetulan” itu mempunyai wilayah operasionalnya dalam peristiwa kehidupan. Kebetulan yang bermakna ganda, yaitu “ketidaksengajaan yang membawa kebaikan” dan “kebaikan yang tidak disengaja” itu berhubungan dengan “peristiwa kehidupan”. Peristiwa kehidupan adalah kejadian-kejadian di dunia ini. Persisnya, ketika kita berbicara tentang “kebetulan”, kita sedang berbicara kejadian dalam hidup kita.

Kebetulan yang Tidak Betul
Berkaitan dengan perihal “kebetulan”, ada dua pandangan yang ekstrim. Di satu pihak, ada kepercayaan bahwa peristiwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semua sudah ditentukan oleh Allah. Di lain pihak, ada kepercayaan bahwa peristiwa di dunia ini hanya kebetulan. Seluruh kejadian di dunia sifatnya kebetulan saja; seluruhnya bersifat ketidaksengajaan belaka.
Pertama, berdasarkan kepercayaan tidak ada yang kebetulan, Allah telah menentukan segalanya (takdir). Kepercayaan ini disebut sebagai “takdir”. Dalam kepercayaan ini, seluruh kejadian di alam sudah ditentukan oleh Allah dan sudah digariskan oleh Allah. Karena semuanya sudah ditentukan oleh Allah, tidak ada peristiwa kebetulan dalam dunia ini. Secara khusus, hidup manusia itu sudah ditentukan oleh Allah sehingga manusia hanya mengikuti penentuan yang sudah dibuat Allah. Manusia itu ibarat “wayang” di tangan Allah sebagai “Sang Dalang” dan dunia ini adalah “panggung” tempat wayang-wayang dimainkan oleh “Sang Dalang”. Kepercayaan akan takdir ini semakin ditegaskan, ketika manusia berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang tragis dalam hidupnya. Berkaitan dengan kepercayaan akan takdir, kita bisa mengajukan pertanyaan. Apakah kepercayaan tentang “takdir” adalah jawaban atas peristiwa yang sulit dijelaskan dalam pengalaman tragis manusia? Ketika jawabannya, Allah menghendaki sebagai takdir Allah, maka seluruh pertanyaan tidak layak untuk diteruskan lagi. Lalu, apakah kepercayaan tentang “takdir” adalah penghiburan atas nasib buruk yang menimpa manusia? Ketika jawabannya, nasib buruk adalah takdir Allah, kita diwajibkan untuk menerimanya tanpa pertanyaan dan sanggahan. Alasannya adalah bahwa Allah yang baik menghendaki nasib buruk ini sebagai cara menyatakan kebaikan-Nya. Karena itu percayalah, ada rahmat kebaikan di balik nasib buruk ini, karena Allah yang membuatnya, maka Dia pulalah yang akan memberikan kebaikan-Nya. Inilah penghayatan peristiwa dalam hidup manusia sebagai takdir.
Kedua, kepercayan tentang seluruh peristiwa kehidupan itu kebetulan (bukan takdir). Kepercayaan ini mendasarkan diri pada otonomi dari peristiwa itu sendiri. Setiap peristiwa tidak ada yang merencanakan, mengatur, dan menentukannya. Seluruh peristiwa bersifat kebetulan saja, bahkan proses terjadinya pun semata-mata buta karena tidak ada tujuannya. Hal ini diyakini oleh Jean-Jacques Monod sebagai ahli biokimia: “Proses yang sama sekali buta dapat menurut definisi mengarah pada apa pun; bahkan dapat mengarah pada visi itu sendiri…. Tuntutan ilmiah pertama adalah objektivitas dari alam penelitian: alam tidak mempunyai maksud atau tujuannya” (Chance and necessity).
Ada pandangan yang menyatakan bahwa alam semesta ada, karena kebetulan ada. Bagi kita, pandangan ini sulit diterima. Kita sudah terbiasa meyakini bahwa alam semesta diciptakan Allah. Sekurang-kurangnya, kita sangat yakin bahwa alam semesta tidak ada dengan sendirinya. Keberadaan alam semesta itu ada yang mengadakan. Dasarnya adalah “ada akibat, pasti ada sebab; ada asap, pasti ada api”. Karena itu, keberadaan alam semesta, pasti ada yang menciptakan. Akan tetapi, kita sulit menerima bahwa alam semesta itu ada, karena kebetulan ada. Menurut pandangan ini, alam semesta ada sudah dari sejak awalnya. Akibatnya, alam semesta tidak memiliki permulaan sebagai kisah penciptaan. Dengan menyatakan tanpa permulaan, alam semesta bersifat abadi dan alam semesta tidak diciptakan (ab aeterno). Mau tidak mau, pandangan ini menyiratkan bahwa Allah tidak ambil bagian dalam penciptaan alam semesta. Karena tidak ada permulaan, penciptaan, dan Sang Pencipta, pandangan ini menyatakan bahwa alam semesta terjadi kebetulan saja; entah bagaimana, alam semesta berada di jagad raya ini.
Selain alam semesta, keberadaan manusia juga kebetulan. Keberadaan manusia di alam semesta ini juga kebetulan. Pandangan ini tidak mengakui bahwa proses evolusi terarah kepada kelahiran spesies manusia. Karena itu, jika ada pengetahuan yang menyatakan bahwa seluruh proses evolusi terarah kepada manusia sebagai pusat alam semesta, pandangan ini menolaknya. Keberadaan manusia bukan bagian dari seluruh proses evolusi alam semesta. Sebaliknya, keberadaan manusia hadir di tengah alam semesta seperti “sebuah peristiwa yang sekonyong-konyong belaka”. Manusia hadir di alam semesta sebagai peristiwa kebetulan belaka. Jean-Jacques Monod menegaskan dengan jelas: “Alam semesta tidak mengandung kehidupan juga tidak biosfer demi manusia. Pada akhirnya manusia mengenal bahwa ia sendirian dalam keluasan alam semesta yang tak memiliki jiwa, yang di luar darinya manusia hadir hanya sebagai peristiwa kebetulan. Nasibnya dan tugasnya tidak dituliskan di mana pun. Kerajaan di atas atau kegelapan di bawah; keadaan ini baginya mesti dipilih (The Eerie Silence, 25).
Jika keberadaan alam semesta dan manusia sebagai peristiwa kebetulan, kita juga bisa menghayati hal yang sama. Aku bisa menghayati yang sama: “Aku ada karena kebetulan saja”. Sadar atau tidak, kita menghayati peristiwa kebetulan tentang keberadaan kita. Aku seperti hadir sekonyong-konyong ke dunia melalui pasangan ibu dan bapak kita. Kita seperti pertemuan sel telur dan sel sperma lalu berkembang menjadi aku. Aku dilahirkan dalam keluarga yang tidak aku pilih. Semua serba kebetulan; semua serba ketidaksengajaan. Hal ini seperti masuk akal. Padahal, ketika kita meyakini diri kita sebagai peristiwa kebetulan, kita sedang kehilangan akan keagungan hidup. Sebaliknya, kita sedang menghayati hidup sebagai musibah. Kalau aku dilahirkan dalam situasi tidak beruntung, hidup menjadi musibah. Seandainya, aku dilahirkan dalam situasi beruntung, hidup hanya kebetulan saja. Ujung-ujungnya sama, kita sedang kehilangan akan kekaguman terhadap hidup itu sendiri.
“Kebetulan” dalam bahasa Inggris adalah accident (noun) yang mempunyai arti: “kebetulan” sekaligus “kecelakaan”. Berdasarkan artinya ini, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Hidup yang dipandang sebagai “kebetulan” menyiratkan “kecelakaan” di dalamnya. Jika kejadian alam semesta, keberadaan manusia di dunia, dan kehadiran kita sendiri diyakini sebagai “kebetulan” saja, kita sedang berada dalam “kecelakaan” (accident). Hidup yang diyakini sebagai kebetulan adalah hidup yang kehilangan asal dan tujuannya. Padahal, asal dan tujuan merupakan identitas dan arah kehidupan. Adalah celaka ketika kita tidak memiliki identitas diri dan arah perjalanan hidup. Jika kita tidak tahu dari mana asal kita dan ke mana tujuan kita, kita benar-benar celaka (by accident becomes accident by).
Kebetulan yang Betul
Tentu saja, kita tidak ingin celaka dalam hidup. Kita dapat menghindarinya dengan menghayati asas kehidupan bukan sebagai peristiwa kebetulan. Supaya kita dapat menghindari keyakinan yang mencelakakan, kita perlu menegaskan makna “kebetulan yang betul” untuk mengoreksi keyakinan yang keliru “kebetulan yang tidak betul”.
Pertama, “kebetulan yang betul” berkaitan dengan kejadian alam semesta. Alam semesta yang diyakini sebagai ab aeterno berarti sudah ada “dari sononya”, berciri abadi, dan tidak butuh Sang Pencipta; keyakinan ini menyiratkan bahwa kejadian alam semesta itu merupakan peristiwa kebetulan. Dengan kata lain, alam semesta terjadi “entahlah begitu”, karena alam semesta tidak mempunyai permulaan sebagai momen penciptaan. Padahal, alam semesta itu mempunyai permulaan sebagai momen penciptaan oleh Sang Pencipta. Dengan menyatakan alam semesta mempunyai awal dan diciptakan oleh Sang Pencipta, alam semesta ini tidak hadir secara kebetulan, tapi hasil sebuah perencanaan Sang Pencipta; karena setiap penciptaan mengandaikan perencanaan. Bahkan sesuatu yang diciptakan tidak hanya hasil perencanaan, tetapi juga mempunyai tujuannya.
Lebih jauh, “kebetulan yang betul” dalam penciptaan alam semesta adalah hasil dari kebebasan Allah. Allah bebas menciptakan dunia ini. Tidak ada keharusan bahwa dunia ini harus diciptakan. Dalam kebebasan Allah, dunia ini bisa ada atau tidak. Kebebasan Allah dalam menciptakan dunia berarti tidak ada paksaan apa pun yang membuat Allah harus menciptakan dunia. Tetapi, atas rencana kehendak-Nya yang bebas, Allah menciptakan alam semesta dengan segala isi. Dalam rencana kehendak-Nya, jelas sekali bahwa penciptaan bukan peristiwa kebetulan, melainkan peristiwa perencanaan Ilahi.
Kedua, “kebetulan yang betul” berkaitan dengan keberadaan manusia. Ternyata, keberadaan manusia merupakan hasil proses evolusi yang panjang. Menurut Stephen Hawking, umur alam semesta sampai sekarang sudah 13,8 miliar tahun. Hawking mau mengatakan bahwa alam semesta mulai ada sejak 13,8 milyar tahun lalu. Sebelumnya tidak ada alam semesta. Dalam perjalanan evolusi alam semesta, Bumi yang kita tempati sudah berumur 4,567 miliar tahun. Artinya, planet Bumi baru mulai ada sejak terjadi tabrakan bintang kembar dengan segala proses kondensasinya yang telah berumur 4,567 milyar tahun. Dalam proses evolusi geologis ini, manusia mulai hadir di permukaan Bumi dengan “manusia pertama di Afrika Selatan yang diyakini sebagai “Adam dan Hawa” tahun 259.000 lalu. Evolusi biologis manusia ini berkembang dalam perkembangan manusia bercocok tanam yang telah berumur 10.000 tahun lalu, sementara evolusi manusia dalam peradabannya baru 5.000 tahun lalu. Kalau kita perhatikan dari proses evolusi ini, ada suatu perkembangan dan keterarahan. Evolusi kosmologis, evolusi geologis, dan evolusi biologis ini menunjukkan perkembangan dan keterarahan: dari alam semesta, bumi, makhluk hidup sampai kepada manusia sebagai “binatang yang berpikir”. Apakah dengan perkembangan yang terarah ini kita masih mengatakan peristiwa kebetulan? Apakah ini suatu kebetulan yang terarah dengan segala peristiwa yang membawa kepada keberadaan manusia sebagai “puncak evolusi”? Sekurang-kurangnya, hal ini adalah kebetulan yang betul, karena dalam peristiwa evolusi yang menempatkan manusia sebagai “puncak evolusi” yang berasal dari “Akal Misteri” yang merencanakan keberadaan manusia di jagad raya di permukaan Bumi ini.
Theilhard de Chardin menyatakan secara retoris, “Tetapi, jika ruang dan waktu yang berkelanjutan secara umum diterima sebagai rencana kerja belaka yang di dalamnya pikiran kita dapat meneruskan untuk maju, hal ini menjadi lebih perlu bahwa kita mesti setuju atas kodrat dan keterarahan besar tentang perjalanan yang padanya kita dilahirkan (manusia berada di alam semesta ini). Apakah itu berupa peristiwa pusaran tertutup, atau peristiwa spiral yang terbatas, atau peristiwa ledakan yang hebat?… Apa yang kita yakini? Lebih jauh, dimasukkan dalam perubahan sebagaimana kita sekarang, apakah kita memiliki suatu titik pandang yang darinya kita mungkin melihat tentang ke arah mana aliran kosmik membawa kita?” (The Future of Man, 86). Dengan pernyataan dan sekaligus pertanyaan retoris, Chardin mau menyatakan keberadaan manusia di alam semesta ini bukan hasil kebetulan, melainkan hasil proses alam yang sedemikian rupa membawa kita berada di sini sebagai manusia yang adalah “puncak dari seluruh evolusi”.
Ketiga, “Kebetulan yang betul” berkaitan dengan kehadiranku di dunia. Jika kita terus-menerus meyakini bahwa kehadiranku di dunia ini hanya kebetulan saja, maka kita akan kecewa, marah, dan frustrasi. Kita akan menghayati hidup sebagai musibah, petaka, dan terkutuk. Kita akan menjadi jiwa pemberontak terhadap diri sendiri, sesama, dan dunia. Inilah kecelakaan yang ditimbulkan oleh diri sendiri. Sebaliknya, jika kita percaya, sekurang-kurang, bahwa kehadiran kita adalah “kebetulan yang disengaja”, maka kita mulai melihat keagungan hidup. Apalagi, jika kita percaya bahwa kehadiran kita masing-masing berada dalam perencanaan Ilahi sejak awal dunia, kita mulai mengalami keagungan hidup yang sejati. Pengalaman ini melahirkan sukacita, pembebasan, dan rasa syukur. Kepercayaan ini mengandaikan iman, karena kita perlu melampaui akal budi untuk sampai pada keagungan hidup itu sendiri.
Martin Buber menyimpulkan, “Kisah iman itu berada dalam aliran ‘peristiwa yang terjadi hanya sekali’ (kebetulan yang betul) yang dibentangkan oleh pengetahuan. Seluruh tatanan penting dari analogi dan tipologi tentang iman memang sangat diperlukan untuk pergulatan roh manusia, tetapi untuk menapakkan rohnya ketika pertanyaan dari si penanya mengarah kepada kita, tidak selalu bisa kita jawab. Memang, hidup yang dihidupi diuji dan disempurnakan dalam aliran ‘peristiwa yang terjadi hanya sekali’ (yang adalah peristiwa ‘kebetulan yang betul’ – I and Thou, 30).
Pematangsiantar, 30 Maret 2020
Tantum Amor Dei
Leo Agung Srie Gunawan SCJ
