Misteri Sakramen Mahakudus (18)

Tidak Sopan Bila Tidak Menghadapnya

(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)

“Dalam keheningan Ia bertakta,

Dalam keheningan Ia mencurahkan kasih,

Dalam keheningan Ia menuntun kekasih-Nya,

Dalam keheningan pula Ia mengalami luka karena cinta!”

Salib dengan korpus | Foto: https://i.pinimg.com/

Pengajaran

Pada dasarnya, dalam Ekaristi, Tuhan Yesus tidak lagi menderita. Karena setelah kebangkitan, Dia dimuliakan, tidak bisa lagi menderita secara fisik. Tetapi suatu hari Ia menampakan diri kepada St. Margareta Maria dengan wujud “Ecce Homo” (lihatlah manusia itu, Yesus bermahkota duri dengan berlumuran darah dari luka-lukaNya) berkata kepadanya, “Ada lima jiwa yang telah dikhususkan untuk pelayanan-Ku (imam) melukai Aku, karena mereka menyambut Komuni Suci dengan tidak hormat!” Dari peristiwa ini berarti dosa-dosa kita bisa membuat Hati Yesus terluka dan “tersalibkan” lagi. Maka Dia tetap menderita, walau tidak secara fisik tatkala kita tidak memiliki sikap hormat kepada-Nya.

Sebuah pengandaian: suatu hari Yesus duduk di sebuah takhta di desa Adiluhur. Di desa itu tinggal para gembala miskin. Dia seorang raja yang ingin dekat dan menunjukkan kasih-Nya kepada mereka. Betapa tidak sopannya bila orang-orang di situ tidak menyambut-Nya atau tidak menghadap-Nya.

“Ia datang kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, tetapi mereka tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11).  Nyatanya sekarang Ia bertakhta dalam Sakramen Mahakudus. Dia datang dan bertakhta dalam Sakramen Mahakudus karena mencintai kita. Betapa tidak sopannya, bila kita tidak menghadap-Nya.

Jawaban Jiwa

Ah, Tuhan Yesus, karena cinta-Mu kepadaku, Engkau berada dalam Sakramen Mahakudus. Bisakah aku siang dan malam menggunjungi dan tinggal bersama-Mu?

Para malaikat mampu dengan penuh kasih memuji-Mu siang malam karena mereka tidak terikat oleh ruang dan waktu. Bagaimana dengan diriku yang masih di dunia ini? Pasti tidak bisa seperti mereka. Tetapi betapa tidak sopannya bila aku tidak menghadap-Mu dalam Sakramen Mahakudus!

Sebaliknya, betapa terhiburnya hati-Mu tatkala aku meluangkan waktu untuk tinggal di depan altar-Mu barang satu jam dalam sehari. Ya Yesus, sungguh aku rindu tinggal di depan altar-Mu dan “bersama para malaikat aku hendak mengidungkan mazmur bagi-Mu! Ya, aku akan memuji namaMu karena Engkau baik dan penuh kasih setia (Mzm 137).

Oh Roti Para Malaikat, Roti Surgawi! Aku mencintai-Mu tetapi baik Engkau maupun aku tidak pernah puas! Aku mencintai-Mu, tetapi dengan cinta yang terlalu sedikit tak sebanding dengan cinta-Mu kepadaku.

Yesusku, bukalah hatiku untuk memahami betapa indah dan mengagumkan kalau aku mencintai-Mu dengan sepenuh hati. Buatlah hatiku dijauhkan dari aneka cinta duniawi, dan berilah aku tempat khusus hanya pada cinta Ilahi-Mu saja. Penuhilah aku dengan kasih-Mu dan satukan dengan diri-Mu.

Setiap hari Engkau turun dari surga ke altar kami. Inilah yang membuat aku tidak berpikir lain kecuali mengasihi, menyembah dan menyenangkan hati-Mu. Aku mengasihi-Mu dengan segenap jiwa dan perasaanku.

Jika Engkau mempermudah cintaku kepada-Mu, itu tidak akan sia-sia, sebaliknya mengembangkan kasihku kepada-Mu dan kasih itu pasti semakin bernyala dalam diriku. Dengan demikian aku yakin bahwa aku semakin mencintai-Mu, dan bertambah-tambah menyenangkan hati-Mu! Tuhan Yesus, kekasihku, berilah aku cinta!

Visitasi kepada Bunda Maria

Ya Bunda Maria, engkau seperti rumah sakit umum bagi orang miskin yang sakit. Ke mana perginya orang miskin yang sakit menderita? Ya ke rumah sakit umum! Kami ini orang berdosa, seperti orang miskin yang sakit tak tertanggungkan. Ke mana kami mendapat perlindungan?

St. Basil dari Seleucia menjawab: “Pergilah ke rumah sakit umum jiwa-jiwa, Bunda Maria!” Di sana para pendosa akan menemukan perlindungan karena Bunda Maria adalah ibu yang penuh belaskasih dan tidak pernah menolak siapa pun yang datang kepadanya. Allah telah memperkenankan dia menjadi “rumah sakit umum” tempat menerima, merawat dan menyembuhkan para pendosa. 

Demikian juga St. Ephrem  memanggilmu Bunda, “Pelindung para pendosa!” 

Karena itu, ya Ratu surgawi, kalau aku jatuh ke dalam dosa dan berteriak kepadamu engkau tidak bisa menolakku. Sekalipun aku ini rapuh, lemah dan menjijikkan, harapanku hanya ada padamu karena Allah telah menciptakan engkau menjadi pelindung kaum penderita.

Demi namamu yang kudus ya Maria bundaku, aku letakkan diriku pada mantolmu. Engkaulah pelindung para pendosa, ya benar, engkau bundaku! Maka engkaulah pelindung dan harapan keselamatanku. Jika engkau menolak aku, ke mana lagi aku harus berlindung?

Bunda Maria, engkaulah pelindungku, selamatkanlah aku! ** Romo Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.