Hari Orang Sakit Sedunia ke-31: Yang Sehat Merawat Yang Sakit dan Yang Sakit Tetap Berjuang

Hari Orang Sakit Sedunia ke-31 tahun ini jatuh pada Sabtu (11/02). Charitas Hospital Palembang, yang adalah rumah sakit Katolik, menyemarakkan acara ini dengan Perayaan Ekaristi di Kapel Biara Charitas Pusat. Tema yang diangkat pada hari itu adalah “Rawatlah Dia: Belas Kasih Sebagai Reksa Penyembuhan Sinodal.

Ekaristi Hari Orang Sakit Sedunia ke-31 dirayakan di Kapel Biara Charitas. Perayaan dipimpin oleh Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, didampingi oleh Romo Surawan Pr dan Romo Suwanto SCJ | Foto: Kristiana Rinawati/ Komisi Komsos KAPal

Selama ini, Charitas Hospital tidak hanya fokus pada penyembuhan pasien dari segi kesehatan fisik, namun juga kesehatan spiritual. Ini diwujudkan melalui pelayanan pastoral care. Pelayanan ini berlaku untuk semua agama, di mana mereka dikunjungi oleh pemuka agama masing-masing, agar meskipun dalam keadaan sakit, mereka tetap dapat merasakan kehadiran Tuhan yang mereka imani.

Tentang sakit, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, selebran utama, mengatakan ini bagian dari hidup. “Sakit menyatakan bahwa kita terbatas. Kita yang berpangkat, mempunyai kemampuan luar biasa di dunia ini, ternyata kita rapuh,” katanya.

Suasana Ekaristi Hari Orang Sakit Sedunia ke-31 | Foto: Kristiana Rinawati/ Komisi Komsos KAPal

Sakit yang kita alami, menurut bapak uskup, tidak hanya soal fisik, tapi juga sakit karena kelemahan dosa.

“Oleh karena itu, dalam sakit kita berdoa agar kita dikuatkan oleh Tuhan, diurapi oleh Roh. Kita yang sehat berbelas kasih, seperti Tuhan. Memberikan pelayanan terbaik kita kepada mereka yang sakit,” katanya.

Mengapa kita harus melayani yang sakit? Menurut Uskup Agung Sudarso, ini karena Yesus hadir dalam diri orang-orang yang miskin dan menderita, juga dalam diri mereka yang sakit.

Lantas, mengapa kita yang sakit harus berjuang? Karena Tuhan telah menjadi manusia, tanda Dia ingin menemani kerapuhan kita. “Ini sesuai dengan teladan Allah, yang menjadi manusia dalam diri Yesus. “Yesus, ketika Dia menjadi manusia, Dia juga mengalami kerapuhan. Dia disalibkan, jatuh bangun. Dia mengalami keterbatasan manusia. Tidak lain, karena Tuhan ingin menemani kita dalam sakit,” tuturnya.

Lagi pula, hidup tidak berhenti pada sakit dan kematian, katanya, “Namun di dalam Yesus, kita juga memperoleh kehidupan.” Maka, kata bapak uskup, “Waktu sakit, kita diharapkan mengarahkan hati kita kepada Yesus. Yesus yang bangkit dari kematian, itulah harapan kita.”

Dalam Ekaristi yang dihadiri oleh puluhan orang sakit ini, diadakan pengurapan. Mereka yang sakit maju dan menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit, tanda bahwa Tuhan senantiasa Bersama kita, bahkan dalam keadaan sakit.

Usai Ekaristi, Charitas Hospital juga memberikan bingkisan kepada mereka yang sakit di bangsal-bangsal rawat inap. **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.