Mengapa Gereja Katolik Mengadakan Air Suci?

Apa itu air suci dalam Gereja Katolik? Kapan kita menggunakannya? Dapatkah kita memberkati sendiri air suci? Bagaimana jika air suci itu sudah lama? Bolehkah dibuang?

Untuk mengetahui jawabannya, simak artikel ini sampai habis. Jika ada pertanyaan silahkan tulis di kolom komentar!

Air Suci adalah salah satu sakramentali dalam Gereja Katolik. Mengapa Gereja Katolik menggunakannya? Dasar bagi Gereja dalam menggunakan air dalam peribadatan adalah tindakan Allah sendiri. Dalam kitab Kejadian, di saat awal penciptaan, dikatakan bahwa Roh Allah melayang melayang-layang di atas permukaan air (Kejadian 1:2).

Roh Allah melayang-layang di permukaan air | Foto: google.com

Lewat peristiwa ini, Gereja mengajarkan bahwa air, yang semula telah dinaungi Roh Allah ini, dapat menjadi sarana penyelamatan dan pengudusan (bdk. KGK 1218). Karena itulah, air suci menjadi salah satu sakramentali dalam Gereja Katolik.

Dalam Kitab Suci Perjanjian lama, kata air suci pun beberapa kali disebut. Misalnya dalam Kitab Bilangan, di katakan seorang imam yang membawa air kudus dalam suatu tempayan tanah, kemudian memungut debu dari lantai Kemah Suci dan membubuhnya ke dalam air itu (bdk. Bilangan 5:17).

Sumur di dekat Bait Suci yang digunakan untuk pentahiran sebelum beribadah | Foto: google.com

Dalam Kitab Imamat, kerap kali dituliskan bahwa orang yang dalam keadaan ‘najis’ harus menahirkannya dengan membasuh diri mereka menggunakan air. Begitupun para imam Yahudi, membasuh tangan dan kaki mereka dengan air, sebelum masuk ke Bait Suci mempersembahkan kurban (bdk. Keluaran 30:20).

Kitab Suci Perjanjian Baru juga mengisahkan bagaimana air menjadi sarana pengampunan dosa, lewat peristiwa pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis (lih. Markus 1:4). Lalu, air disucikan oleh Tuhan sendiri, saat Dia mengambil bagian dalam baptisan Yohanes di Sungai Yordan.

Kristus, yang dengan baptisan-Nya menyucikan air baptis | Foto: google.com

Lalu, apa itu air suci dalam Gereja Katolik? Air suci adalah air yang telah diberkati oleh imam Katolik. Setidaknya kita mengenal dua jenis air suci dalam Gereja Katolik seturut fungsinya. Pertama, air yang digunakan dalam ritual baptisan. Kedua, air yang digunakan dalam ritual pemberkatan. Biasanya, air suci maupun air baptis diberkati pada malam paskah. Namun, tidak menutup kemungkinan, di hari-hari lain, jika diperlukan.

Kapan kita menggunakan air suci?

Tentu pertama kali kita menggunakan air suci saat kita dibaptis, di mana air baptis dicurahkan di kening kita, sambil imam yang membaptis menyerukan nama Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Kita dibaptis menggunakan air baptis | Foto: google.com

Kedua, air suci dapat digunakan dalam aneka pemberkatan. Misalnya pemberkatan rumah, kendaraan, tempat usaha, maupun benda-benda rohani.

Air suci digunakan memberkati benda-benda sebelum kita gunakan | Foto: google.com

Ketiga, air suci dapat digunakan sebagai tanda tobat. Dalam beberapa Misa, air suci direcikkan kepada umat beriman, sebagai pengganti doa tobat. Gereja mengajarkan, air suci berdaya menghapus dosa-dosa ringan.

St. Thomas Aquinas mengajarkan begini, “Dengan merecikkan air suci, hutang dosa ringan dihapuskan.”

Air suci juga digunakan dalam ritus tobat | Foto: google.com

Keempat, untuk mengingat kita pada baptisan yang telah kita terima. Ingat ya, sebelum Covid-19, gereja-gereja Katolik selalu menempatkan bejana-bejana air suci di depan pintu. Setiap kita yang mau masuk ke gereja, mengambil air suci dan dengan khidmat membuat Tanda Salib, sambil mengingat kembali peristiwa pembaptisan kita.

Mencelupkan tangan ke dlaam air suci lalu membuat Tanda Salib mengingatkan kita akan rahmat baptisan yang telah kita terima | Foto: google.com

Kelima, air suci dapat menjadi sarana untuk mengusir iblis. Ingat film eksorsisme, seorang imam eksorsis selalu merecikkan air suci kepada mereka yang kerasukan roh jahat dan roh itu ketakutan.

Salib dan air suci dipakai dalam ritus eksorsisme | Foto: google.com

St. Teresa dari Avila punya pengalaman di mana saat iblis mendekatinya, ia mengusirnya dengan air suci. Dia berkata begini, “Saya sering mengalami bahwa tidak ada yang dijauhi oleh setan, tanpa kembali, selain air suci.”

Pertanyaannya, apakah kita boleh memberkati air suci sendiri? Tidak boleh, ya guys! Air suci kita, orang Katolik, haruslah diberkati oleh seorang klerus, seorang yang menerima tahbisan. Bawalah air yang ingin diberkati kepada pastor untuk diberkati.

Imam memberkati air suci dengan mendaraskan doa yang diajarkan Gereja | Foto: google.com

Lalu, apakah kita boleh menyimpan air suci di rumah? Boleh! Air suci boleh disimpan oleh umat sebagai sarana perlindungan Tuhan terhadap yang jahat.

Apakah air suci yang sudah lama boleh dibuang? Air suci maupun benda-benda yang telah diberkati, jika sudah rusak, tidak boleh dibuang di sembarang tempat. Kamu bisa membuangnya di sakrarium, yang adalah tempat membuang benda-benda yang telah diberkati, maupun membakarnya. Jika masih ragu, silahkan mengembalikannya kepada imam di paroki kamu.

Sakrarium atau sumur suci tempat membuang barang-barang yang telah diberkati | Foto: google.com

Itulah beberapa hal yang dapat kita ketahui tentang air suci yang digunakan dalam Gereja Katolik. ** Kristiana Rinawati (Tulisan ini diolah dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published.