30 Langkah Menuju Kesucian (2)

Bersatu dengan Perbuatan Yesus

Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.

Doa

Tuhan Yesus, berilah aku mata yang mampu melihat-Mu dalam ciptaan. Lidah yang memuji dan membicarakan Engkau; dan tekad untuk mempersembahkan seluruh hidupku kepada kehendak-Mu saja
sehingga perbuatan kami seperti perbuatan-Mu. Amin.

Bersatu dengan perbuatan Yesus | Foto: pinterest

Pengajaran

Yesus adalah model hidup kita. Cintakasih Tuhan Yesus lebih nyata dalam perbuatan daripada dalam perkataan. Perbuatan kita akan bersatu dengan perbuatan Yesus, bila cintakasih kita seperti cintakasihNya, yaitu lebih nyata dalam perbuatan daripada dalam perkataan. Seperti Yesus, di setiap saat dan di setiap kesempatan, bila kita bisa terlibat dalam perbuatan, kita menghidupi prinsipNya, yaitu, ”Makananku adalah melakukan kehendak BapaKu!” (Luk 2:49).

Kapan prinsip itu hidup dalam diri kita? Di saat kita membiarkan diri dikuasai oleh hal-hal yang ilahi seperti Yesus, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk……” (Luk 4:18). Yesus berkarya dalam kuasa Roh Kudus. Sampai sekarang Dia bertindak dalam diri kita seperti St Fransiskus de Sales meyakini bahwa, “Yesus di pikiranku, Yesus di tanganku, di hatiku, di lidahku, di mataku, di telingaku dan di kakiku!” Yesus adalah Sang Emanuel, Allah beserta kita. Maka bila hati kita terbuka pastilah kita mampu menyadari seperti St Fransiskus itu.

Walaupun demikian kita tetap sadar bahwa ada perbuatan yang tidak mampu kita lakukan seperti yang Yesus lakukan, misalnya menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, dan mukjizat lainnya. Di sisi lain kita tidak boleh melupakan janji Sang Guru, “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan yang Aku lakukan bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar….” (Yoh 14:12).

Mengapa jarang terjadi mukjizat melalui perbuatan kita? Karena hanya sedikit orang yang dengan total membiarkan diri menjadi instrumen Allah. Sering hidup kita mandul karena kita dikuasai oleh cinta diri. Bila kita menginginkan Allah bekerja melalui tindakan kita, kita harus bertindak seperti para orang suci bertindak. Mereka memelihara hidup rohani secara disiplin ketat; mereka bermatiraga, berpuasa dan tak kunjung henti berdoa.

Panggilan pokok kita ialah hidup bersatu dengan-Nya. Apakah hidup bersatu dengan Kristus adalah panggilan khusus untuk para pastor, suster, orang kudus yaitu orang yang dipanggil secara khusus? Jawabannya: tidak! Semua orang kristiani dipanggil untuk bersatu dengan Yesus. Mempercayakan diri dan bersatu dengan Allah adalah dasar hidup kristiani.

Dalam panggilan ini tidak ada kekecualian. Tuhan Yesus memanggil kita semua, “datanglah kepadaKu” Siapa yang diundang itu? Kita semua. Bisa jadi mereka itu adalah para pekerja kasar, pengusaha, petani, para penderita dan sebagainya. Yesus ingin menarik mereka semua ke dalam hatiNya, maka Ia menambahkan, “Datanglah kepadaKu, semua yang lelah dan berbeban berat, dan Aku akan memberi kelegaan kepadamu!” (Mat 11:28).

Bila aku seorang mistikus, tentu aku akan menghabiskan waktu berjam-jam membenamkan diri dalam Hati Kudus Yesus dalam kontemplasi. Bila aku sedang sakit, sedih dan kacau dimana aku membutuhkan sukacita, maka aku akan menyerahkan semua kekuatiranku kepadaNya; aku berlindung pada Yesus. Tuhan kita tidak minta agar kita menjadi pertapa semua.

Semua orang kristiani dalam status apa pun, atau dalam keadaan apa pun, dipanggil untuk hidup bersatu dengan Kristus. St Fransiskus de Sales mengatakan, “Devosi harus dipraktekan secara berbeda oleh seorang ratu, atau pekerja kasar, atau seorang janda, perawan, atau wanita nikah. Semua itu diatur oleh kekuatan tubuh dan tugas masing-masing secara berbeda!”

Apa pun situasi atau status hidupnya, kita semua diharuskan untuk memperhatikan panggilan menuju kesempurnaan hidup ini. St. Katharina yang dikenal sebagai mempelai surga, yang mempunyai pengalaman ekstase (seperti trance) toh ia sering menikmati sukacita ketika melihat ayahnya di depan tungku, meniup api, memasak daging, memanggang roti atau melakukan pekerjaan rumah tangga yang biasa dan sepele. Mata hatinya mampu melihat Allah dalam diri ayahnya; Bunda Maria dalam diri ibunya dan para rasul dalam saudaranya. Dia melihat bahwa semua orang yang bekerja sebagai orang yang sedang melayani Allah di halaman surga!”

Kesimpulannya, panggilan kesucian atau bersatu dengan Kristus adalah panggilan yang terbuka untuk semua orang, tidak ada kekecualian. Semua orang dalam situasi apa pun dipanggil untuk hidup suci – bersatu dengan Allah. Umur, situasi hidup, kesehatan atau apa saja tidak akan menghalangi hidup suci, hidup bersatu dengan Allah. Hidup suci atau hidup sempurna adalah hidup seperti dan di dalam Yesus secara konsisten. Ini berlaku untuk semua orang sebagaimana dikehendaki Tuhan kita, “datanglah, dan ikutilah Aku!”(Mrk 10:21).

Resapkan

“Tinggallah dalam kasih-Ku. Aku telah memanggilmu, sahabat!” (Yoh 15:9.15)

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.