30 Langkah Menuju Kesucian (4)

Cinta Itu Tinggal Bersama

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000)

St. Gertrudis | Foto: Pinterest

Doa

“Engkau mencintaiku lebih dulu ya Tuhan. Sayang, aku mengatakan bahwa itu hanya sebagai sejarah, seakan-akan hanya sekali Engkau mencintaiku lebih dulu. Jika aku bangun di waktu pagi dan mengangkat jiwaku kepadaMu, Engkau sudah ada lebih dulu. Engkau mencintaiku lebih dulu. Jika aku mengundurkan diri dari kesibukan sehari-hari dan mengangkat pikiran jiwaku kepadaMu, Engkau lebih dulu menantiku. Aku tidak tahu berterimakasih, dan aku sering berkata bahwa Engkau hanya satu kali mencintaiku lebih dulu. Ampuni aku, Tuhan!” – (Soren Kierkegaard)

Pengajaran

Mencintai itu tinggal bersama. Apa peran Kristus untuk kebahagiaan kita? Kristus adalah Sang Mesias, Yang Terurapi. Segala sesuatu diciptakan oleh-Nya. Ia adalah kebijaksanaan abadi. Ia sabda yang menjadi manusia.

Kitab Amsal menulis begini, “Ketika Ia (Allah) menetapkan dasar-dasar bumi (menciptakan) aku ada sertaNya…. aku bermain-main di atas muka bumiNya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku!”(Ams 8:30-31). Ia senang “berada bersama anak manusia!”

Kepada St. Gertrude, Yesus bersabda, “Aku tidak sungguh sukacita jika tidak berada bersama kalian!” Apa tujuan manusia diciptakan?” St. Agustinus memberi jawaban, “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri, ya Tuhan Allahku! Hatiku gelisah sebelum beristirahat bersama diri-Mu!”

Memiliki Allah sebagai milikku dan aku dimiliki oleh-Nya secara pribadi itulah tujuan penciptaan. Aku bisa memiliki Allah karena Ia terlebih dahulu mencintaiku. Ada kata Ibrani ahave dalam bahasa Inggrisnya to give and to love.

Mencintai artinya memberi. Allah memberikan diri-Nya kepada manusia dalam aneka cara termasuk alam semesta. Alam semesta dan isinya itu seperti huruf-huruf dari nama-Nya yang penuh berkat, tanda indah dari telapak kaki-Nya, gema dari suara-Nya dan pantulan dari wajah-Nya yang berseri. “Sungguh surga dan bumi, serta semua isinya, berteriak kepadaku, agar aku mencintaiNya,” kata St Agustinus.

“Akar pemberian diri Allah itu adalah belaskasih,” tandas St.Thomas Aquinas. “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu!” (Yer 31:3). Untuk menikmati kasih Allah perlu relasi yang matang. Selama kita masih di dunia, pemahaman dan cinta kita akan Allah masih tertutup oleh kegelapan dan terhalang oleh ribuan ketidaksempurnaan kita. Apa yang kita perlukan agar pemahaman kita akan Dia semakin berkembang? Kita harus ingat sinar kebaikan Allah yang tak terbatas. Ia memberi kepada kita kekuatan supernatural, perangkat ilahi. Ia menciptakan kita sebagai pahlawan keutamaan. Jurang antara kita dan Allah telah dijembatani oleh Putera-Nya yang terkasih. “Kita sekarang melihat melalui cermin, tetapi suatu saat dari muka ke muka…” kata St. Paulus (1Kor 13:12).

St. Yohanes berkata, “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu bahwa apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti Dia sebab kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya!” (1Yoh 3:2).

Untuk lebih memahami cinta Allah kepada kita, biklah kita ingat kasih Allah kepada manusia pertama di saat masih bersatu denganNya. Allah dengan lembut berkata kepadanya, “cinta akan langgeng dalam relasi yang matang!” (St. Ignatius).

Di bawah bayangan tipis di sore hari, Allah berjalan-jalan mengunjungi Adam, melihat dia, ngobrol dengannya; kehadiranNya, wajahNya dan sabdaNya membuat Adam penuh dengan kasih. Allah membuat Adam menjadi seorang raja yang menguasai taman itu dan Ia mengisinya dengan rahmat yang berlimpah. Ia penuh sukacita memberi, dan Adam pun penuh sukacita menerimanya.

“Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih,” kata Nabi Hosea (Hos 11:4). Walau setan telah menghancurkan ikatan kasih itu tetapi hati Allah tidak pernah berubah. Selama ciptaan masih menghadap-Nya sebagai Pencipta, ia akan menemukan belaskasih Bapa yang siap memberi diri-Nya secara bebas, kembali mencintai-Nya agar bisa mencintai lagi, dan melupakan masa lalu. Setiap orang dari kita mesti mengingat saat-saat indah ketika Sang Guru memberikan diriN-ya kepada kita, mungkin acapkali tidak terasa setelah sekian lama.

Namun pemberian diri Sang Guru itu adalah firdaus di bumi ini. Gerbang surga Firdaus mungkin tertutup untuk sementara, tetapi malaikat yang membawa pedang (Kej 3:24) selalu siap membantu dan membukakan gerbang itu untuk kita. Ketika airmata kesedihan mengalir dari mata kita dan kita satukan dengan airmata Sang Penebus, benih pengampunan dan kasih Ilahi bersemi kembali di hati kita. Kita perlu terus-menerus membina relasi yang matang agar merasakah kasih-Nya.

Buket Rohani

“Aku penuh sukacita karena bersamamu!” Sabda Tuhan kepada St Gertrudis.

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.