Alexander Sapta Dwi Handoko adalah anak dari Ignatius Atmosuwito dan Patricia Tuminah. Ia lahir di Yogyakarta pada tanggal 11 Desember 1963. Ia lahir di lereng gunung Mintaraga dan bertumbuh di lingkungan daerah Jali, Gayamharjo yang sebagian besar adalah petani. Selain itu, ia bertumbuh di tengah-tengah umat katolik yang kuat berdevosi kepada Ibu Maria di Gua Maria Sendang Sriningsih.
Ia menjalani pendidikan dasar di SD Kanisius Klaten Jawa Tengah. Ia harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk pergi ke sekolah. Pada masa-masa itu, ia jatuh hati dengan Perayaan Ekaristi. Ia tertarik dengan romo yang memimpin dan memberikan tanda salib di kening. Apalagi romonya sering mengunjungi rumahnya. Selain itu, keluarga besar Sapta banyak yang menjadi imam, bruder dan suster.

Lingkungan tersebut mendorongnya selepas lulus dari SMP Pangudi Luhur di Dalem untuk masuk ke seminari Santo Petrus Kanisius Mertoyudan pada tahun 1979. Cukup mengherankan memang mengingat ia berasal dari Yogyakarta namun setelah lulus Seminari Mertoyudan, ia memutuskan untuk bergabung dengan Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Kakak perempuannya pernah menyatakan ketidaksetujuannya. Namun Sapta memantapkan hatinya untuk melayani umat Katolik di Sumatera.
Pada tahun 1983 Ia menjalani pembinaan masa postulat dan novisiat di Gisting, Lampung. Setelah mengucapkan kaul pertama pada 20 Juli 1984, ia melanjutkan studi filsafat dan teologi di Wedhabakti Yogyakarta.
Frater Sapta kemudian menjalani masa orientasi Pastoral di Paroki St Mikael Tanjung Sakti. Pada tanggal 20 Juli 1989, ia mengucapkan kaul kekal di Skolastikat SCJ Yogyakarta. Kemudian Frater Sapta diutus untuk mengikuti program ESL dan Basic Accounting di Hales Corner, USA pada tahun 1989 -1991.
Sekembalinya ke Indonesia, ia menyelesaikan program imamat sampai pada tahun 1992 dan melanjutkan masa penpas di Paroki St. Lidwina Bandarjaya. Pada tahun 1993, tepatnya tanggal 25 Agustus ia menerima tahbisan diakon di Seminari St Paulus Palembang. Tiga bulan kemudian, 25 November 1993, ia menerima tahbisan Imamat di Paroki St Yosep, Palembang dari tangan Mgr. Soudant.

Sebagai imam Dehonian Indonesia, Rm. Sapta telah menjalankan beragam tugas:
1993 – 1994: Pastor rekan di Paroki St. Lidwina Bandarjaya, Keuskupan Tanjung Karang
1994 – 1995: Pastor rekan di paroki Kabar Gembira Kotabumi, Keuskupan Tanjung Karang, sekaligus menjabat sebagai anggota komisi Keuangan SCJ Indonesia.
1995 – 2004: Ekonom SCJ Indonesia dan pastor paroki St. Stefanus, Keuskupan Agung Palembang
2004 – 2010: Superior Provinsial SCJ Indonesia, koordinator Superior SCJ Asia, Dewan Imam Kapal dan Dewan Konsultores KAJ.
2010 – 2011: Tahun Sabatikel di Bologna – Italia dan Toronto – Kanada
2011 – 2013: BPH Yayasan Musi Palembang
2013 – 2016: Penasehat provinsial SCJ Indonesia, Ketua Yayasan Musi Palembang dan Penasehat APTIK
2016 – 2018: Superior Provinsial SCJ Indonesia, Anggota komisi keuangan Jenderal SCJ, Dewan imam Kapal, Dewan Konsultores KAJ, Anggota Dewan pembina Yayasan Musi Palembang, Penasehat APTIK, anggota gugus tugas investasi APTIK
2018 – 2019: Anggota Dewan Jendralat SCJ di Roma
2019 – 2023: Ketua YPKLD

Romo Sapta, sepulang dari Roma, mendedikasikan dirinya dalam bidang pendidikan. Ia tinggal di Rumah SCJ Jakarta. Di sela-sela perutusannya di YPKLD, Romo Sapta rupanya tetap memberikan hati dan tangannya untuk komunitas.
Kesaksian Br. Yuwono yang pernah sekomunitas di Pengikat, Sungai Buah pada tahun 1998 dan kemudian bersama lagi di Rumah Damai Dehon, mengatakan bahwa Romo Sapta adalah pribadi yang energik.
Ia tidak bisa diam untuk urusan rumah. Ia membersihkan rumah, menata rumah, merawat tanaman dan mengurus binatang peliharaan. Romo Sapta termasuk kuat bekerja sampai malam hari di kantor. Hal serupa juga dibuatnya selama di Rumah SCJ Jakarta.
Baginya mengurusi rumah itu penting. Bersama para karyawan dan konfrater yang berkarya di Yayasan Katolik Leo Dehon, Romo Sapta berusaha untuk mewujudkan cita-cita Pater Dehon dalam kerasulan bagi orang muda. Sampai akhirnya tugas untuk membangun Sekolah Yos Sudarso selesai dan diresmikan.

Hari-Hari Terakhir Pada bulan April 2023 setelah paskah, dalam suatu kesempatan perjumpaan dengan seorang konfrater, ia mengatakan bahwa kini ia merasa mudah capek. Ia merasakan badannya tidak seperti dulu.
Memang setelah pernah terserang Covid, Romo Sapta merasakan adanya perubahan besar dalam kesehatan dirinya. Pada pertengahan Mei, pernah pula ia mengatakan kondisinya kurang fit, khususnya setelah bersama tukang membereskan bekas kapel di Rumah SCJ dan memperbaiki genteng depan yang bocor. Ia meminta agar misa harian dirayakan sore hari.

Pada tanggal 17 Mei 2023 romo Sapta melakukan perjalanan ke Lampung bersama Romo Purwanto untuk menghadiri acara perayaan para suster HK dan dilanjutkan rapat Yayasan (YPKLD). Pada hari Sabtu ia telah mengatakan bahwa badannya kurang enak.
Pada Minggu, 21 Mei, ia melakukan perjalanan pulang ke Jakarta. Pada tanggal 22 Mei 2023, tepatnya sore hari, romo Sapta telah wafat di Biara Rumah SCJ Jakarta. Semoga Romo Sapta beristirahat dalam damai. **Sekretariat SCJ
