Kisah Peziarah: Napak Tilas Hidup Yesus

Manusia: Makhluk Peziarah

Homo Viator  (makhluk peziarah) adalah istilah yang diperkenalkan oleh filsuf Eksistensialisme, Gabril Marcel, dalam buku yang berjudul Homo Viator: Introduction to a Metaphysic of Hope. Istilah ini mengacu pada konsep yang menganggap bahwa kehidupan mulai dari kelahiran hingga kematian sebagai sebuah proses perziarahan. Ziarah di sini berarti ‘perjalanan’ dalam hidup dari lahir hingga mati. Ziarah secara spiritual bisa saja memiliki arti ‘perjalanan menuju’ atau untuk mencapai kesucian tertentu. Salah satu caranya adalah ‘berkunjung’, sesuai arti kata “ziarah” itu sendiri.

Romo Widhy bersama peziarah dari Indonesia | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Bagi orang katolik, ziarah sangat penting untuk meningkatkan iman, terutama dalam menghayati yang tertulis di dalam Kitab Suci. Dengan mendatangi tempat-tempat ziarah yang berkaitan dengan Kitab Suci, umat akan lebih mudah memahami isi Kitab Suci, baik itu ketika Kitab Suci dibacakan di mimbar atau membaca sendiri.

Romo Widhy bersama tour guide Indonesia | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Lewat ziarah, umat juga akan memiliki gambaran yang tepat tentang kehidupan Yesus, sehingga iman kepada-Nya semakin bertumbuh. Dengan berziarah, umat diajak untuk semakin mengimani yang diajarkan Gereja. Sebab, Rasul Paulus pernah berkata, kalau Yesus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman kita. Iman kristiani kita berpusat pada kebangkitan Kristus. Dan peristiwa itu terjadi di Yerusalem.

Interior Gereja St. Petrus Yope | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Saya, mahluk peziarah, meyakini bahwa peziarahan utama manusia ialah suatu perjalanan hidup menuju Sang Khalik, Allah Maha-Kasih. Dia, awal dan tujuan peziarahan setiap ciptaan. Peziarahan utama itu diasah dan di pertajam melalui perziarahan hidup sehari-hari. Berkat kebaikan Keluarga Bapak Antonius Jansen Wongso Sengkono, Saya bersama 18 imam serta seorang Bruder dari berbagai Keuskupan dan Kongregasi, boleh menghayati diri sebagai makhluk peziarah dalam program Ziarah Holyland dari tanggal 29 Mei ’23 sampai 06 Juni ’23. Setelah perjalanan panjang dari Jakarta menuju Hongkong, lalu lanjut ke Tel Aviv Israel. Berikut goresan tinta peziarahan tersebut.

Ikan Paus yang menelan Yunus | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Bersama Magda utama, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Kota Yope. Saat ini namanya Jaffa. Di tempat ini kami mengunjungi situs ikan paus yang menelan Nabi Yunus. Di sini, kami diajak memaknai arti komitmen akan perutusan Tuhan. Jika Tuhan memanggil maka tak ada daya manusia yang bisa menolak. 

Kisah Nabi Yunus di telan ikan adalah inspirasinya. Komitmen itu perlu terus diperbarui, maka kami mengunjungi Gereja St Petrus di Yope. Gereja yang diyakini sebagai tempat di mana St Petrus mendapat penglihatan perihal binatang yang halal dan haram. Makna terdalam adalah pentingnya memurnikan komitmen dalam mengikuti panggilan Tuhan. Inilah introduksi ziarah kami untuk masuk ke kota suci. Pertobatan dan komitmen yang terus dimurnikan akan menghantar orang masuk Yerusalem Surgawi.

Yerusalem | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Yerusalem: Kota Suci

Yerusalem adalah Kota Suci bagi agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Banyak orang berziarah ke sana. Yerusalem adalah kota kecil. Luasnya hanya sekitar 126 kilometer persegi, lebih kecil dari Jakarta Utara yang memiliki lahan sebesar 142 kilometer persegi. Meski demikian, Yerusalem memiliki catatan sejarah panjang. Kota itu sudah 20 kali dihancurkan dan dibangun kembali selama rentang 30 abad. Kota itu juga memiliki arti penting bagi tiga agama Abrahamistik: Yahudi, Kristen, dan Islam.

Gereja St. Petrus di Yope | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Yerusalem memiliki tempat suci maka digelari sebagai Tanah Suci. Di sana terdapat empat kota suci, yaitu Yerusalem, Hebron, Tzat, dan Tiberias. Di antara keempat kota itu, Yerusalem dianggap sebagai tempat paling suci sebab Bait Allah berdiri di sana sejak dulu.

Gua Elia | Foto: Romo Widhy

Di Yerusalem pula Abraham mengorbankan anaknya, Ishak, di Gunung Muriah. Bukan hanya peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Lama, kisah Perjanjian Baru juga terpatri di tanah itu. Berdasarkan penemuan arkeologis terbukti Yesus lahir, tumbuh, berkarya, dan wafat di wilayah sekitar Yerusalem. Umat Kristiani pun meyakini, Yerusalem menjadi Tanah Suci karena karya penyelamatan Yesus bergulir dari tempat ini dan menyebar ke seluruh dunia. Inilah lokus penting dalam ziarah kami yang bertajuk ‘napak tilas hidup Yesus’.

Gereja di Kana | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Kana: Saat Tuhan Menjawab Keterbatasan Manusia

Kana di Galilea dirayakan sebagai tempat mukjizat pertama Yesus. Ini sebenarnya adalah tempat dari dua mukjizat publik pertamanya di Galilea: perubahan air menjadi anggur dan penyembuhan anak seorang pejabat jarak jauh yang berjarak 32 km di Kapernaum .

Kana | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Pada kesempatan pertama, Yesus dan murid-murid pertamanya muncul di pesta pernikahan, kemungkinan pesta pernikahan kerabat dekat ibunya, Maria. Anggur habis – mungkin karena tamu tambahan itu belum dilayani – dan Maria berpaling kepada Putranya untuk mengatasi rasa malu (Yohanes 2: 1-11). “Wanita, apa perhatianmu dan aku?” dia menjawab. “Waktuku belum tiba.” Tetapi dia bertahan dan Putranya mengubah enam toples berisi lebih dari 550 liter air (setara dengan lebih dari 730 botol) menjadi anggur berkualitas .

Gereja di Kana | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Mukjizat ini penting bagi karya  pastoral. Kehadiran Kristus di pesta pernikahan, dan campur tangan ilahi-Nya untuk menyelamatkan tuan rumah dari rasa malu, dianggap sebagai meterai-Nya pada kesucian pernikahan dan, seperti yang dikatakan oleh Catholic Encyclopedia , “atas kesopanan untuk bersukacita dengan rendah hati pada kesempatan seperti itu”. Insiden itu juga dilihat sebagai argumen melawan teetotalisme. Pelayanan dalam pastoral pun perlu bersikap seperti Maria; tak perlu cemas berlebihan sebab Tuhan Yesus ada. Dialah jawaban atas segala persoalan hidup kita. Inilah alasan penting pula mengapa kami diajak berziarah di tempat tersebut.

Gereja St. Yoseph | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Menimba Keutamaan St. Joseph

Sebuah peristiwa istimewa dikala rombongan peziarah bisa merayakan Ekaristi di Gereja St. Joseph-Nazareth pada Hari Selasa, 30 Mei 2023. Sebuah tradisi turun menurun menegaskan bahwa Gereja St Joseph di Nazareth dibangun di atas bengkel pertukangan suami Perawan Maria. Tetapi tidak ada bukti bahwa gua tempat gereja itu dibangun adalah bengkel Joseph. Bahkan jika ini adalah situs rumah Keluarga Suci, gua itu tidak mungkin merupakan bengkel pertukangan dalam pengertian modern.

Romo Widhy bersama suster yang melayani para peziarah yang hendak Misa | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Gereja St. Joseph adalah gereja Katolik Roma Fransiskan di Kota Tua Nazareth, Israel Utara modern. Dibangun pada tahun 1914 di atas sisa-sisa gereja yang jauh lebih tua. Gereja tersebut terletak dekat dengan Gereja Kabar Sukacita. Dibangun dengan gaya Kebangkitan Romawi. Situs bangunan ini berjarak 50 menit berjalan kaki dari Nazaret. Kisah lain mengatakan, Gereja Santo Joseph ini diyakini dibangun di lokasi rumah keluarga kudus, di mana Yesus kecil bersama kedua orang tua-Nya tinggal bersama di sini. Di bagian bawah gereja ini terdapat bekas rumah keluarga kudus.

Santo Joseph seringkali tidak terlalu menonjol dalam keseharian umat kristiani. Padahal dialah kepala keluarga kudus. Seorang suami bagi Maria, dan ayah dari Yesus. Dialah yang mengungsikan isteri dan anaknya ke Mesir. Jasanya tentu tidak terhingga. Mengunjungi Gereja ini, kita diingatkan kembali akan peranan dan kemuliaan hati St. Joseph. Berziarah ke sini berarti saat menimba keutamaan dari St. Joseph.

Bercermin dari Surat Apostolik ‘Patris Corde’ (Berhati Bapa) dari Paus Fransiskus; kita sebagai makhluk peziarah diundang untuk menghidupi 7 keutamaan yang diteladankan St. Joseph.

Santo Yoseph, bapak asuh Yesus | Foto: pinterest

1] Bapa penuh kasih

Ia suami Maria, ayah Yesus. Ia mendedikasikan status dan hidupnya demi Keluarga Kudus. Seluruh hidupnya adalah pelayanan bagi Tuhan.

2] Bapa yang lembut dan penuh cinta

Ia menyaksikan Yesus yang tumbuh penuh kebijaksanaan. Sebagai ayah ia melindungi anaknya dengan penuh kasih dan kehangatan.

3] Bapa yang taat

Paus  mengajak kita merefleksikan bahwa selain fiat Maria, ada pula ‘fiat Joseph’. Ia taat pada kehendak Tuhan. Maria telah mengatakan janji kesetiaanya pada Tuhan: terjadilah padaku menurut kehendak-Mu. Demikian pula Joseph memperlihatkan fiatnya sebagai ayah Yesus. Dan Yesus sendiri pada saatnya di taman Getsemani, menyatakan fiat-Nya kepada Allah Bapa: ‘bukan kehendak-Ku melainkan kehedak-Mu lah yang terjadi. Joseph  mendidik Yesus dengan contoh sikap taat.

4] Bapa yang siap menerima

Ia menerima Maria dengan tulus hati. Ia percaya pada kata-kata Malaikat Tuhan. Ia figur seorang pria yang menghormati perempuan. Ia tak mau mempermalukan Maria. Ia pria yang bukan hanya berpikir logis, tetapi terutama bertindak sensitif. Joseph memberi teladan bagi kita untuk melawan kekerasan bagi perempuan.

5] Bapa yang berani dan kreatif

Joseph tidak lari dari kesulitan. Dalam situasi sulit, ia berani memilih tindakan yang bukan menurut pilihannya sendiri. Dalam situasi dilematis ia menjadi ‘mukjizat’ bagi keselamatan Maria dan anak Yesus. Ketika tidak ada tempat bagi Maria di Betlehem, Joseph menyediakan palungan yang nyaman. Ketika harus mengungsi dari ancaman Herodes, ia tegar melindungi dan menyelematkan keluarga. Ia percaya tangan Tuhan menyertai.

6] seorang bapa pekerja

Joseph adalah seorang tukang kayu. Ia bekerja keras menghidupi Keluarga Kudus. Ia adalah pelindung para pekerja. Paus Leo XIII dalam Ensiklik Rerum Novarum merefleksikan peran Yosep sebagai pekerja. Yesus belajar bekerja dan melayani dari sang ayah, Joseph. Kita patut berdoa dan menghormati para pekerja yang mendedikasikan hidupnya bagi umat manusia.

 7] Bapa tersembunyi (a father in the shadows)

Figur Joseph sebenarnya menampilkan sifat Allah Bapa sendiri yang selalu mengasihi Anak-Nya. Relasi Yesus dan Joseph adalah bayangan dari relasi Yesus dengan Bapa-Nya di surga. Joseph  adalah figur penyertaan Bapa dalam seluruh hidup Yesus Putra-Nya di dunia.

Foto bersama para peziarah dari Indonesia | Foto: dokumentasi pribadi Romo Widhy

Keheningan menyelimuti segalanya tentang Joseph. Ini adalah sebuah aura dari kedalaman kontemplasi. Santo Joseph selalu bersatu dengan Allah dan mengandalkan peran-Nya, baik dalam pekerjaan harian maupun pada saat istirahat. Ia mengingatkan kita akan keutamaan batin dan hidup kontemplatif.

Gambaran St. Yoseph bagi kita adalah seorang pekerja yang tenang, juga yang menderita dalam ketenangannya. Saya tertegun dikala menyadari bahwa St. Joseph tak mengeluh dalam melakukan kehendak Tuhan, misalnya harus melarikan diri ke Mesir.

Pantas kita bertanya pada diri kita sendiri: “Apakah saya cukup memiliki keheningan dalam hidup? Apakah saya cukup meluangkan waktu untuk berdoa? Apakah saya terlalu banyak berbicara hingga mudah berdusta, menggosip atau memfitnah? Atau, apakah saya sungguh meneladan St. Joseph, yang memiliki integritas dan ketenangan. Talk less do more!!!

**Widhy

One thought on “Kisah Peziarah: Napak Tilas Hidup Yesus

  1. Bagus Romo, seperti kita ikut ziarah jg kesana dn smkn byk pengetahuan dn mengenal tempat2 ziarah

Leave a Reply

Your email address will not be published.