Ada elemen tertentu yang membedakan perziarahan dan turisme yang bersifat simbolis. Turisme merupakan perjalanan untuk rekreasi, sedangkan perziarahan merupakan perjalanan iman. Ziarah melambangkan pertobatan, dan pertobatan adalah suatu proses untuk terus berjalan maju secara rohani. Singkatnya, seorang peziarah adalah seorang yang terus berjalan. Perubahan batin, berkembangnya iman, dan penyembuhan rohani, inilah yang menjadi tujuan dan suatu ziarah.

Peziarah, Bukan Touris
Sambil berjalan dalam perziarahan anda, berdoalah. Terkadang baik juga bila Anda menjual diri dari kelompok untuk menyendiri agar suasana dalam batin Anda terpelihara. Carilah suatu sudut yang sepi dan hening, sendirilah di sana selama kurang lebih setengah jam sambil merenung dan berdoa.
Saya pribadi untuk mendengarkan desiran suara angin yang lembut atau arahkan perhatian pada hati anda untuk mendengarkan suara Tuhan yang berbicara lembut di kedalaman lubuk jiwa. Dengan cara beginilah nabi Elia akhirnya dapat menangkap suara Allah. Nabi Elia telah berusaha mendengarkan Dia di dalam kebisingan dan kekerasan suasana yang ada di gunung Horeb.

Allah ternyata tidak ada di dalam badai angin, tidak juga di dalam bumi yang bergoyang ataupun dalam api. Allah hadir dalam keheningan dan kesunyian. Karenanya janganlah pergi ziarah dengan maksud berwisata; lari dari realitas hidupnya. Pergi untuk menemukan jawaban dari semua kegelisahan hidupnya.
Dalam realitasnya, memang manusia sering bertanya tentang eksistensinya, siapa penyebab keberadaannya itu. Pertanyaan yang muncul semacam itu bukanlah sesuatu yang asing lagi untuk dibahas.

Hal ini sudah seringkali didengar dan menjadi sebuah pertanyaan yang mengandung makna terdalam bagi manusia dalam realitas. Di dalam realitas manusia bertanya tentang siapa dirinya, sesamanya, asal-usul keberadaannya, siapa penyebab utama sehingga ia ada sejauh yang ada berdasarkan apa yang dirasakan, diamati dan dialaminya itu.
Dalam lingkaran pertanyaan itu, berziarah merupakan salah satu cara untuk menemukan eksistensi “Manusia” dalam realitas. Dalam peziarahan itu, manusia mencari keheningan, ketenangan hidup dan kebijaksanaan. Eksistensinya merupakan proses bagi dirinya dalam menemukan jati diri sebagai seorang peziarah.

Sebelum berlangkah pada tahap selanjutnya peziarahan bagi eksistensi manusia mempertemukan dirinya dengan dua dunia yakni, dunia yang jahat (kegelapan) dan dunia yang baik. Peziarahan bagi “Manusia” memiliki makna yang penting dan mendalam.
Dalam realitas, peziarahan membawa “setiap manusia” untuk hidup lebih baik. Berziarah di kompleks situs Tentara Salib menjadi kesempatan untuk secara jernih melihat peristiwa dan saat membangun jiwa kesatria dalam menghidupi iman. Beriman secara militan bukan suam suam kuku. Destinasi rohani yang kami, Magdatama Group, kunjungi hari ini (03/06) membantu menyegarkan dan menumbuhkan militansi iman.

Bukit Zaitun
Bukit Zaitun merupakan salah satu dari tiga bukit di punggung bukit yang panjang di sebelah timur Yerusalem, sebuah lokasi yang memiliki banyak peristiwa alkitabiah. Bukit ini menjulang lebih dari 800 meter, ia menawarkan pemandangan Kota Tua dan sekitarnya yang tak tertandingi.
Bukit yang juga disebut Gunung Zaitun ini mengambil namanya dari fakta bahwa ia pernah ditumbuhi pohon zaitun. Dalam Perjanjian Lama , Raja Daud melarikan diri ke Bukit Zaitun untuk melarikan diri ketika putranya Absalom memberontak (2 Samuel 15:30). Setelah Raja Salomo berpaling dari Tuhan, dia membangun kuil-kuil kafir di sana untuk dewa-dewa istri asingnya (1 Raja-raja 11:7-8).

Yehezkiel mendapat penglihatan tentang “kemuliaan Tuhan” naik dari kota dan berhenti di Bukit Zaitun (Yehezkiel 11:23). Zakharia menubuatkan bahwa dalam kemenangan terakhir kekuatan kebaikan atas kekuatan kejahatan, Tuhan semesta alam akan “berdiri di atas Bukit Zaitun” dan gunung itu akan “terbelah dua dari timur ke barat” (Zakharia 14:3 -4).
Dalam Perjanjian Baru, Yesus sering melakukan perjalanan melintasi Bukit Zaitun dengan berjalan kaki selama 40 menit dari Bait Suci ke Betania. Dia juga pergi ke sana untuk berdoa atau beristirahat. Dia turun gunung dengan kemenangannya masuk ke Yerusalem pada Minggu Palem, dalam perjalanan menangisi kehancuran kota di masa depan (Lukas 19:29-44). Dia berdoa di sana bersama murid-muridnya pada malam sebelum dia ditangkap (Matius 26:30-56). Dan dia naik ke surga dari sana (Kis. 1:1-12).

Gereja Pater Noster
Gereja Pater Noster di Bukit Zaitun bagi umat Kristiani menjadi situs untuk mengenang ajaran Kristus tentang Doa Bapa Kami kepada murid-muridnya. Di dinding sekitar gereja dan beranda berkubahnya, terpasang terjemahan Doa Bapa Kami dalam 140 bahasa yang terrtulis di atas plakat keramik berwarna-warni; termasuk Bahasa Indonesia.

Menurut tradisi lama, Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami di dalam gua yang saat ini berada di bawah gereja. Gua di bawah Gereja Pater Noster di zaman Yesus berada di dekat puncak gunung, sebuah tempat terpencil dan terlindung bagi sekelompok kecil orang untuk berkumpul. Referensi paling awal tentang ajaran Yesus di gua itu ada dalam apokrif Kisah Yohanes , yang berasal dari abad ke-2, tetapi tidak secara khusus menyebutkan Doa Bapa Kami.

Informasi lainnya menegaskan bahwa Ketika Kaisar Constantine membangun gereja tiga tingkat di situs tersebut pada tahun 330, dimaksudkan untuk memperingati Kenaikan Kristus. Gereja bersejarah ini hanya dikenal sebagai Eleona (dari kata Yunani yang berarti “zaitun”).

Gua tersebut juga diyakini terkait dengan ajaran Yesus tentang penghancuran Yerusalem dan Kedatangan Kedua (Matius 24,25). Oleh karena itu, di kala Tentara Salib membangun sebuah gereja di sini pada abad ke-12, mereka menyebutnya Pater Noster (Bapa Kami). Awalnya, Peziarah hanya melihat kata-kata doa Bapa Kami yang tertulis dalam bahasa Ibrani, Yunani dan versi Latin. Namun, saat ini berbagai versi bahasa sebab banyak Orang dari berbagai negara berziarah di tempat bersejarah tersebut.

Dalam kacamata biblis, Injil menunjukkan bahwa Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami setidaknya dua kali. Matius 6:5-15 memiliki ajaran ini sebagai bagian dari Khotbah di Bukit di Galilea; Lukas 11:1-4 mencatatnya saat Yesus sedang dalam perjalanan dari Galilea ke Yerusalem.

Kolam Bethesda
Arkeologi telah memungkinkan sebuah kolam di Bethesda di Yerusalem diidentifikasi sebagai tempat salah satu mukjizat Yesus. Ini adalah penyembuhan orang lumpuh yang telah menunggu selama 38 tahun sampai seseorang membantunya masuk ke dalam kolam “ketika air diaduk”. Sebuah peristiwa yang diyakini memiliki kekuatan penyembuhan. Kisah Injil mengatakan Yesus memberi tahu orang itu, “Berdirilah, ambillah tikarmu dan berjalan”, dan segera dia sembuh (Yohanes 5: 2-18).


Lokasi Kolam Bethesda, sebenarnya serangkaian waduk dan kolam obat. Berada di Muslim Quarter di Kota Tua Yerusalem, sebelah utara Temple Mount dan sekitar 50 meter di dalam St Stephen’s atau Lions’ Gate. Saat itu gerbang tersebut disebut Gerbang Domba, karena di sinilah domba dibawa ke Bait Suci untuk dikorbankan.
Dalam catatan Injilnya, Yohanes menggambarkan kolam itu memiliki lima serambi, di mana terdapat banyak orang cacat buta, timpang, dan lumpuh. Karena tidak ada kolam seperti itu yang ditemukan, sejarah situs itu lama dipertanyakan.

Beberapa mengklaim bahwa Yohanes telah menemukan detail dari lima serambi untuk mewakili lima kitab Musa, yang akan digenapi oleh Yesus. Akan tetapi, pada tahun 1900-an, para arkeolog di Bethesda menggali dua waduk besar yang dipisahkan oleh tanggul batu yang lebar.
Bentuknya persegi panjang, dengan empat serambi bertiang di sekeliling sisinya dan satu di seberang tanggul tengah. Kolam dan pemandian terkait di Bethesda (yang berarti rumah belas kasihan) tampaknya diyakini memiliki kekuatan penyembuhan. Bukti tempat suci penyembuhan telah ditemukan di sebelah timur kolam, termasuk representasi marmer dari organ yang disembuhkan, seperti kaki dan telinga.


Menurut tradisi kuno, Bethesda juga merupakan tempat tinggal kakek nenek dari pihak ibu Yesus, Anne dan Joachim; dan tempat kelahiran ibunya, Mary. Gereja St Anne, dibangun sekitar tahun 1140, berdiri di dekatnya. Kompleks yang berisi kolam dan gereja yang dimiliki oleh pemerintah Prancis dan dikelola oleh White Fathers Itu juga berisi museum dan seminari Yunani-Katolik (Melkite).
Situs rohani ini antara lain memberi hikmah bahwa militansi iman dapat bertumbuh baik bila pewarisan iman kepada generasi berikutnya berjalan mulus. Orangtua punya kewajiban memberikan yang terbaik bagi anaknya. Salahkan yang terbaik itu adalah iman kekatolikan. Hal ini pernah dijanjikan saat prosesi perayaan S. Perkawinan.

Betfage
Desa Betfage dikenang sebagai titik awal masuknya Yesus dengan kemenangan ke Yerusalem pada hari yang diperingati sebagai Minggu Palem. Sebuah sikap heroik yang menampilkan sikap militan dalam melaksanakan kehendak Bapa-Nya.

Diyakini lokasi persis desa tersebut di lereng timur Bukit Zaitun dan dekat Betania. Desa Betfage dianggap sebagai jangkauan terluar kota Yerusalem, batas perjalanan hari Sabat (900 meter) dari kota, dan titik terjauh di mana roti dapat dipanggang untuk digunakan di Bait Suci. Nama dalam bahasa Ibrani berarti “Rumah buah ara mentah”, mengingat bahwa di daerah ini Yesus mengutuk pohon ara tanpa buah menjadi layu (Matius 21:18-22) .
Kenangan kemenangan Yesus masuk ke Yerusalem disimpan di sebuah gereja Fransiskan yang dibangun di samping jalan curam yang menurun dari Bukit Zaitun ke arah timur menuju desa El-Azariyeh (Bethany kuno) dan jalan raya Yerusalem-Jericho. Di sinilah perjalanan Minggu Palma tahunan ke Yerusalem dimulai. Sebuah tradisi yang dimulai pada masa Tentara Salib.

Getsemani
Taman Getsemani, dekat kaki Bukit Zaitun, disebutkan dalam Perjanjian Baru sebagai tempat Yesus pergi bersama murid-muridnya untuk berdoa pada malam sebelum dia disalibkan. Taman itu, seluas sekitar 1.200 meter persegi, sangat dikenal oleh para murid karena dekat dengan jalur alami dari Kuil ke puncak Bukit Zaitun dan punggung bukit menuju Betania.
“Beberapa fakta yang perlu kita ketahui tentang taman Getsemani diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, Lokasi bukit taman Getsemani. Taman Getsemani terletak di kaki Bukit Zaitun Yerusalem. Untuk mengunjungi Taman Getsemani dapat dilakukan melalui Amman, Yordania, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat. Sebelum sampai ke Yerusalem pengunjung akan melewati Jembatan Allenby, yang menjadi titik pemeriksaan imigrasi oleh otoritas Israel.

Pemeriksaan cukup ketat dan tidak jarang pengunjung dilarang masuk ke Yerusalem. Puji Tuhan, kita semua boleh masuk. Kedua, tempat Yesus berdoa. Berdasarkan kisah di Perjanjian Baru, Taman Getsemani merupakan tempat Yesus bersama murid-muridnya sering berkunjung. Tempat ini membuat salah satu murid Yesus yang berkhianat, Yudas Iskariot mudah menemukan-Nya ketika malam penangkapan. Di tempat ini, Yesus merasa sangat ketakutan dan bersungguh-sungguh berdoa. Karena terlampau takutnya itu, hingga peluh Yesus menjadi serupa tetesan darah ke tanah. K
etiga, Di taman ini terdapat pohon zaitun abadi. Konon katanta disini terdapat pohon zaitun yang sudah sangat tua, yang berusia mencapai 900 tahun. Banyak yang bilang pohon-pohon zaitun ini tidak akan mati, kecuali dengan ditebang atau dibakar. Bisa dikatakan bahwa pohon-pohon zaitun ini adalah saksi hidup Yesus dan murid-muridnya yang dulu sering bermukim di tempat ini.
Salah satu pesona Taman Getsemani adalah Anda dapat berhadapan langsung melihat kota Yerusalem ketika tengah berdiri di taman ini” urai Parel, panggilan akrab guide tours lulusan doktor sejarah Kitab Suci di Jerman yang didapat oleh Magdatama group untuk menemani peziarahan 1 bruder dan 19 imam dari berbagai Keuskupan di Indonesia ini.

Getsemani, dalam bahasa Yunani Gesthēmani, dan bahasa Ibrani, Aram Gat Šmānê yang merupakan sebuah taman di kaki bukit Zaitun, Yerusalem. Tempat ini dipercaya sebagai tempat Yesus berdoa yang terakhir kali sebelum disalib. Kata Gethsemane muncul pada Injil Matius dan Injil Markus yang berbahasa Yunani. Kata ini berasal dari bahasa Assyria yang berarti alat penghasil minyak. Injil Matius dan Injil Markus menyebutnya dengan arti tempat.
Injil Yohanes mengartikan kata Gethsemane sebagai taman, dan mengatakan bahwa Yesus memasuki sebuah taman bersama dengan murid-muridnya. Nama dalam bahasa Ibrani berarti “pers minyak”. Minyak masih diperas dari buah delapan pohon zaitun kuno dan berbonggol-bonggol yang memberikan taman karakter abadi. Di samping taman adalah Gereja Semua Bangsa, dibangun di atas batu karang tempat Yesus diyakini berdoa dalam penderitaan sebelum dia dikhianati oleh Yudas Iskariot dan ditangkap.

Sekitar 100 meter sebelah utara gereja terdapat Gua Getsemani, tempat Yesus dan murid-muridnya sering berkemah di malam hari. Di gua alam ini, diyakini, para murid tidur sementara Yesus berdoa. Dekat gua adalah Makam Maria, di mana tradisi Kristen menyatakan bahwa Bunda Yesus dimakamkan setelah dia “tertidur” dalam kematian.
Di taman Getsemani berdiri batang-batang keriput dari delapan pohon zaitun beruban. Mereka menciptakan suasana spiritual bagi pengunjung taman Getsemani. Pohon-pohon juga menghasilkan dugaan tentang usia mereka. Apakah mereka menjadi saksi bisu Penderitaan Yesus pada malam sebelum dia meninggal Israel memiliki banyak pohon zaitun kuno.

Dua di kota Arraba dan lima di Deir Hanna telah ditentukan berusia lebih dari 3000 tahun. Akan tetapi, pohon-pohon Getsemani yang ada saat ini tidak berdiri pada zaman Kristus. Sejarawan Flavius Josephus melaporkan bahwa semua pohon di sekitar Yerusalem ditebang oleh orang Romawi untuk peralatan pengepungan mereka sebelum mereka merebut kota itu pada tahun 70 M.
Penelitian yang dilaporkan pada tahun 2012 menunjukkan bahwa tiga dari delapan pohon purba berasal dari pertengahan abad ke-12 , dan kedelapannya berasal dari stek dari pohon induk tunggal. Beberapa buah zaitun Getsemani mungkin adalah keturunan dari yang ada di taman pada zaman Kristus.
Ini karena ketika pohon zaitun ditebang, tunas akan tumbuh kembali dari akarnya untuk membuat pohon baru. Pada tahun 1982 University of California melakukan uji penanggalan radiokarbon pada beberapa bahan akar dari Getsemani. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa kayu mungkin berumur 2300 tahun.

Apa yang terjadi dengan buah dari pohon zaitun Getsemani? Saat dipanen setiap tahun, minyaknya diperas untuk pelita Getsemani dan bijinya digunakan untuk membuat manik-manik rosario, yang diberikan oleh Kustos Fransiskan di Tanah Suci kepada para peziarah terkemuka.
Di taman itu terdapat Gua Getsemani berada di sepanjang lorong sempit berdinding yang mengarah ke kanan dari halaman terbuka di depan Makam Maria. Gua alam, seluas sekitar 190 meter persegi, pada dasarnya tidak berubah sejak zaman Yesus.

Diyakini sebagai tempat para murid tidur sementara Yesus berdoa, dan di mana Yesus dikhianati oleh Yudas dan ditangkap. Mungkin juga lokasi pertemuan malam hari Yesus dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-21). Di atas altar utama adalah representasi Yesus Berdoa di antara para Rasul, sedangkan lukisan di atas altar samping menggambarkan Asumsi Perawan dan Ciuman Yudas. Pada tingkat yang lebih biasa, figur perunggu di bawah altar utama menggambarkan dua murid yang sedang tidur .
Gua ini juga dikenal sebagai Gua Pers Zaitun. Di sebelah kanan altar sebelah kanan ada lubang di dinding. Tingginya tepat untuk menahan salah satu ujung balok kayu yang, ketika dibebani di ujung lainnya, menekan buah zaitun yang dihancurkan ditumpuk dalam keranjang anyaman longgar.
Pada abad ke-4 gua itu menjadi sebuah kapel. Lantainya diaspal dengan mozaik putih tempat kuburan kemudian digali. Lebih dari 40 kuburan, terutama dari abad ke-5 hingga ke-8, telah ditemukan. Selain nilai historis yang fantastis, berziarah ke tempat ini mengingatkan bahwa inilah lokus penting yang sarat makna tentang militansi iman yang diperagakan oleh Yesus.

Pertama, Mensyukuri Anugerah Iman, Beriman Secara Militan
Berziarah dan merayakan Ekaristi di beberapa situs rohani hari ini, khususnya Kapel Getsemani saya terinspirasi perihal pentingnya militansi iman dalam merayakan Tahun Syukur ini. Paham tentang militansi sering dipersempit sebagai perjuangan yang keras, sejajar dengan paham radikalisme.
Sejatinya, militansi yang berarti jiwa heroik atau semangat perjuangan yang tinggi. Makna militansi harus kita luruskan, jangan sampai menjadi samar antara fanatik dan militansi akibat ekspresinya yang sebagian besar dianggap berhaluan keras. Ada beberapa ekspresi dari militansi, yaitu: 1. Berpartisipasi melalui pikiran, tenaga, keahlian, harta untuk tercapainya tujuan kelompok. 2. Aktif di dalam kelompok tersebut. 3. Memperbaiki apa-apa yang keliru yang ada dalam kelompok tersebut. 4. Pembelaan terhadap kepada kebaikan.
Beriman secara militan bercirikan totalitas, loyalitas, radikalitas. Dengan adanya hal ini ada harapan kecil bahwa umat katolik yang ada saat ini dapat memberikan apa itu yang dinamakan umat beriman yang militan-totalitas; umat beriman loyalis dan radikal.

Pertama, totalitas. Arti totalitas begitu kompleks dan tidak semudah yang diucapkan. Totalitas, mungkin bukan hanya total pada satu jenis pekerjaan. Tapi, sebaiknya kita bisa terlatih untuk multi tasking. Dan era globalisasi pun menuntut kita untuk memiliki skill multi disiplin ilmu, bukan hanya pada core-competence saja. Memang artinya tidak setengah-setengah, tidak seperempat. Bila berbicara totalitas juga itu tidak akan jauh-jauh dari kata “sepenuhnya” dan “niat”.
Totalitas sama artinya dengan membangun fondasi yang kuat untuk melakukan sesuatu. Ibarat sebuah rumah, fondasi yang terencana dengan baik karena totalitas, akan membuat rumah kokoh dan tahan lama. Kelak, jika diperlukan beberapa penyesuaian terhadap rumah tersebut, maka fondasi tersebut takkan perlu diubah banyak karena sudah tentu menjadi penyokong yang kuat.

Lain lagi jika diibaratkan sebuah pertunjukan, maka totalitas sejak awal dapat dicontohkan pada memperhatikan detail hingga membuat beberapa pilihan skenario jalannya acara. Pada pertunjukan seperti wayang orang dan juga teater, totalitas sejak awal dapat dilihat secara jelas pada persiapan kostum, make up, hingga konfirmasi ulang mengenai susunan kemunculan seorang tokoh atau pergantian babak. Mungkin susah memulai totalitas, namun itu bukan berarti hal yang mustahil dilakukan. Apabila dilatih untuk dijalankan berkali-kali, maka kelak sikap totalitas akan menjadi sebuah kebiasaan.
Sebuah sikap yang menunjang proses pembangunan karakter untuk menjadi lebih baik. Atas alasan inilah, anggota umat beriman yang hendak menikah dipersiapkan oleh Gereja agar kelak setelah melangsungkan sakramen perkawinan kedua mempelai secara total menyadari tugas dan tanggungjawabnya sebagai suami istri yang akan menanamkan nilai kepada anak yang akan dikaruniakan Allah ke tengah-tengah keluarga. Anak pun meniru karakter totalitas suami istri.

Kedua, Loyalitas
Loyalitas adalah hal kedua yang wajib dimiliki dalam sebuah militansi katolik. Loyalitas itu adalah sebuah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari pergerakan. Loyalitas itu berkaitan dengan pendirian, dengan komitmen. Loyalitas itu sangat penting dalam pergerakan. Dengan adanya sebuah loyalitas yang dimiliki dalam sebuah militansi, maka hal pertama tadi (totalitas) akan semakin kuat adanya. Komitmen keyakinan atau kesetiaan dalam sebuah pergerakan militansi akan memberikan dampak yang nyata.
Totalitas dan loyalitas dalam sebuah militansi memang mempunyai kesinambungan yang sangat erat. Keduanya tidak akan bisa dilepaskan begitu saja. Analoginya, sebuah sikap perjuangan yang didasari oleh sebuah pergerakan itu tidak akan bisa menjadi nyata apabila sebuah niat tidak ada dan sebuah keyakinan itu tidak ada.
Bagaimana dikatakan sesuatu itu sebagai sebuah pergerakan kalau niat dan keyakinan atau komitmen belum dimiliki? Kesimpulannya adalah, sikap-sikap yang dimiliki itu haruslah memiliki sikap totalitas dan sikap loyalitas tersebut. Rasanya mustahil apabila dalam sebuah militansi akan memberikan dampak positif kalau totalitasnya dan loyalitasnya saja masih belum juga bisa dikatakan baik dan benar.

Ketiga, Radikalitas
Unsur penting yang harus ada dalam umat beriman yang militan dengan loyalis dan totalitas yaitu radikal. Kesadaran akan panggilan yang militan begitu radikal. ‘Radikal’ di sini diartikan bukan ‘tanpa pikir panjang’ atau ‘secara bodoh’ atau ‘secara ekstrem liar’ sebagai kebalikan ‘bijaksana’. Radikalitas tidak terletak pada sikap kekerasan melainkan ‘sampai ke radix’ (akar), sampai ke akar masalahnya. Menjadi militan tidak dapat hanya menyangkut baju, rambut atau kulit, melainkan harus sampai ke hati, ke akar kepribadian. Kita dipanggil untuk mengikuti Yesus tidak hanya setengah-setengah tetapi secara total terlibat dan mengakar.
Sekarang ini iman yang radikal dibutuhkan karena yang ditawarkan dunia bisa menggoyahkan keyakinan. Iman yang radikal adalah iman yang berakar bahkan mengakar. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, akar berfungsi syarat hidup untuk memperkokoh tanaman dan mengirimkan air serta zat-zat makanan ke bagian tumbuhan yang memerlukan, selain ada juga akar yang berfungsi sebagai alat respirasi dan alat reproduksi vegetatif. Mengakar berarti menjangkau atau menyerupai akar, menjadi akar. Iman yang mengakar adalah iman yang mencengkeram sumber yang menghidupkan dan memperkokoh, bahkan diharapkan menjadi sumber kehidupan dan kekuatan itu sendiri. Dari iman yang mendalam itulah tumbuh berbagai buah.
Orang Kristiani berkeyakinan, akar itu Yesus Kristus. Tanpa-Nya, tidak ada kekristenan. Dia menghidupkan dan memperkokoh Gereja. Orang Kristiani diharapkan radikal dalam beriman, tanpa menjadi radikalis atau jatuh dalam radikalisme. Pribadi yang radikal dalam beriman adalah pribadi yang memiliki Kristus sebagai akar kehidupannya dan menggantungkan diri pada Kristus sebagai sumber kehidupan dan kekuatan. Pribadi yang radikal dalam beriman merupakan pribadi yang meng-Kristus, menyerupai Kristus atau menjadi Kristus yang lain (alter Christi).
Umat beriman yang militan yang radikal hidup dengan sikap kritis dan reflektif. Dengan sikap kritis, mereka memilih nilai apa yang akan mereka perjuangkan. Dengan pola berpikir kritis, mereka mencari cara, bagaimana nilai-nilai itu bisa jadi nyata di dalam dunia. Orang militan hidup dengan prinsip yang teguh, namun fleksibel pada tataran perilaku di dalam proses mewujudkan prinsip itu.

Keempat, Berani Benar
Militansi tidak hanya melulu, loyalitas, totalitas dan radikalitas; karena Kristus mengatakan kepada pengikut-Nya harus menjadi Garam dan Terang maka dibutuhkan kesaksian. Titah untuk menjadi Terang dan Garam sering disandingkan dengan: “Jika ya, hendaklah kamu katan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37). Dari pernyataan ini umat Kristiani harus berbicara benar (parrhesia)
Istilah parrhesia berasal dari bahasa Yunani “pan” yang berarti “semua” dan “rhesis” atau “rhema” yang berarti “ekspresi”, “apa yang dikatakan”, “pidato atau perkataan”. Kata ini juga mengandung makna keahlian untuk berbicara, kehalusan, keterbukaan, keterus-terangan, kebebasan dalam berbicara dan mengatakan kebenaran. Unsur keberanian untuk mengatakan kebenaran berarti mengatakan apa yang benar karena si subyek tahu bahwa apa yang ia katakan adalah benar.
Lebih tepat parrhesia merupakan suatu aktivitas verbal dalam mana pembicara mengungkapkan relasi personalnya dengan kebenaran dan siap menanggung risiko karena ia sadar bahwa menceritakan kebenaran merupakan suatu tugas untuk mengembangkan dan menolong orang lain (atu dirinya sendiri). Dalam parrhesia pembicara menggunakan kebebasannya dan lebih memilih kejujuran daripada persuasi, kebenaran daripada kepalsuan atau diam, risiko mati daripada hidup dan rasa aman, kritik daripada kebohongan dan kebajikan moral daripada kepentingan diri dan apathy moral.

Filsuf Foucoult menunjukkan unsur-unsur yang harus dimiliki oleh parrhesiast. Pertama, bila hendak menceriterakan kebenaran berhubungan dengan praktek, hidup dan pengalaman. Kedua, harus ada juga seseorang yang dapat meneruskan kebenaran ini kepada orang lain. Agar kebenaran itu sampai kepada orang lain dengan baik, maka secara berproses orang lain itu harus dihubung-hubungkan dengan kebenaran yang sama. Ketiga, pembentukan kepribadian menjadi penting karena di sini kita berhadapan dengan persoalan moral dan etis yang menuntut kebajikan dan kualitas yang harus dimiliki setiap orang yang berbicara kebenaran.
Di sinilah kita mengingat ungkapan: “Kata-kata mengajar namun teladan menarik”. Pengajaran dan kata-kata dapat menghantar orang kepada suatu pengetahuan yang lebih sempurna tentang sesuatu, namun teladan hidup dapat menarik lebih banyak orang kepada hidup yang lebih baik dalam tata moral dan etis. Pengajaran dan kata-kata seseorang sama sekali tidak berarti kalau itu tidak didukung oleh sikap dan cara hidupnya sendiri.

Mungkin sangat baik bila kita melihat beberapa teks Kitab Suci di mana Yesus sangat menuntut para pengikut-Nya menjadi seorang militan sebagai konsekuensi kemuridan. Di tengah dunia yang hedonis dan konsumeris Yesus meminta pengikutnya untuk selalu hidup bebas dari hal-hal duniawi apalagi bila semakin menjauhkan diri dari Yesus (Luk 9:57-62 dan Mat 26:25-26).
Bentuk militan lain yang diajarkan-Nya yaitu keberanian untuk mengerasi diri sendiri mengingat bila bersama Yesus harus memikul salib (Mat 16:21-24; 17:15). Pembaptisan merupakan pintu masuk untuk memulai hidup militan namun bila hal ini belum terlaksana seorang kristen harus bersedia untuk dilahirkan kembali (Yoh 3:3) menjadi anak kecil (Mat 18:4) dan mengambil tempat terendah (Mat 20:26) bahkan harus hancur seperti biji gandum (Yoh 14:24-26). Bersedia untuk menjadi seperti yang disebut di atas, dapat membawa umat beriman pada konflik dan ketegangan sebagai buah loyalitas, totalitas, radikalitas dan parrhesia terhadap pesan Injil.
**Widhy

Wow… Indah sekali mo… hanya melihat dari gambarnya saja udh sangat berkesan.
Rasanya juga kepengen kesana…
Sungguh luar biasa tempat2 Ziarah yg membuat iman smkn dikuatkan dn mengangumi semua yg diciptakan Tuhan melali tangan2 manusia yg sungguh profesional