Membangun Persahabatan Sejati

Friendship – Foto: cdn2.psychologytoday.com

“Persahabatan tidak ada sangkut pautnya dengan harta, jabatan dan popularitas. Persahabatan sejati lahir dari kasih, ketulusan, kepercayaan, kejujuran, kesetiaan dan kebersamaan,” kata seorang bijaksana.


Pada zaman Tiongkok Kuno, ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing galak. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, namun tetangganya tidak pernah mau peduli.


Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba milik petani, sehingga terluka parah. Petani itu merasa tak sabar. Dia memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim itu mendengarkan cerita petani itu.


“Saya bisa saja menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang sahabat dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang Anda inginkan, sahabat atau musuh yang jadi tetangga Anda?” tanya hakim itu.


Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang sahabat. Hakim itu berkata, “Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi untuk menjaga domba-domba Anda, supaya tetap aman namun juga akan membuat tetangga Anda tetap sebagai sahabat.”


Pak Hakim kemudian membisikan solusi tersebut kepada petani. Mendengar solusi hakim, petani itu setuju. Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga anak domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak dari tetangganya. Anak-anak si pemburu sangat senang menerima hadiah dari petani. Mereka mulai bermain dengan domba-domba tersebut.


Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengurung anjing-anjing miliknya. Sejak saat itu, anjing-anjing itu tidak pernah mengganggu domba-domba petani itu lagi. Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani.
Sebagai balasannya, petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi sahabat yang baik.

Perlu Berkorban
Hidup bersama dibangun oleh saling menyapa. Orang saling memberikan perhatian, sehingga sesama memiliki ketenangan dalam hidup. Orang tidak merasa terintimidasi oleh perbuatan-perbuatan sesamanya. Melalui sapaan yang baik, orang justru mendapatkan sahabat yang baik pula dalam hidupnya. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena ketika ada gangguan orang merasa bahwa gangguan itu mesti dimusnahkan.


Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk selalu mengutamakan penyelesaian penuh persaudaraan, ketika terjadi suatu masalah dalam hidup bersama. Hakim itu memberikan suatu solusi yang sangat baik bagi petani itu. Petani itu berani mengorbankan sedikit miliknya demi membangun persahabatan dengan tetangganya. Hidup bertetangga bahkan menjadi lebih harmonis.


Orang mesti mencari jalan-jalan terbaik untuk mengubah suasana yang runyam menjadi riang gembira. Orang tidak boleh terpaku pada hal-hal yang kaku. Orang tidak boleh terjebak dalam egoisme dirinya. Mengapa? Karena ketika egoisme menguasai diri, orang hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Orang hanya menukik ke dalam diri dan kepentingan dirinya sendiri. Orang seperti ini juga tidak berani berkorban bagi kepentingan yang lebih besar.


Orang beriman mesti berani mengorbankan diri demi membangun persahabatan sejati. Tidak mudah membangun persahabatan sejati dalam dunia yang sering dilanda oleh persaingan demi persaingan ini. Namun yakinlah, ketika Anda mau berkorban demi hidup bersama, Anda akan mendapatkan lebih banyak hal positif bagi hidup Anda. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.