Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Begitu iman Kristen. Tapi, pernah ga sih kalian bertanya-tanya, bagaimana nasib orang yang lahir dan meninggal sebelum Yesus? Apakah mereka tidak selamat? Tapi kan mereka sama dengan kita, makhluk ciptaan Bapa di surga?

Nah, hari ini adalah jawabannya. Yes! Hari Sabtu Suci, yang merupakan puncak tri hari suci paskah. Pada hari ini, Gereja mengenangkan Tuhan Yesus yang terbaring di kubur. Dalam Katekismus Gereja Katolik Nomor 635 dijelaskan bahwa pada hari Sabtu Suci, Tuhan Yesus turun ke dunia orang-orang mati. Tujuannya agar orang-orang mati yang mendengar suara Putera Allah juga memperoleh kehidupan.
“Dengan demikian Kristus turun ke dunia orang-orang mati Bdk. Mat 12:40; Rm 10:7; Ef 4:9., agar “orang-orang mati mendengar suara Anak Allah… dan mereka yang mendengar-Nya, akan hidup” (Yoh 5:25). Yesus, “Pemimpin kehidupan” (Kis 3:15), datang “supaya memusnahkan dia, yaitu iblis, yang berkuasa atas maut dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut” (Ibr 2:14-15). Kristus yang telah bangkit, sekarang memegang di tangan-Nya “segala kunci maut dan kerajaan maut” (Why 1:18), dan “dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (Flp 2:10).” KGK 635
Dalam Homili Tua tentang Sabtu Suci dilukiskan bahwa Allah Putera, yang tertidur dalam kematian ‘dagingnya’ membangunkan manusia yang tertidur sejak zaman baheula. Dikatakan bahwa Tuhan Yesus pergi mencari Adam, leluhur kita, dan domba-domba yang hilang. Ia membebaskan Adam dan Hawa dari penderitaannya.

Yesus dilukiskan sebagai Allah-nya Adam dan Hawa, juga sebagai anak mereka dalam kemanusiaan-Nya. “Demi engkau Aku menjadi anakmu, Aku, Allahmu! Bangunlah, hai orang yang sedang tidur. Aku tidak menciptakan kamu, supaya kamu ditahan dalam penjara dunia orang mati. Bangunlah dari orang-orang mati. Akulah kehidupan orang-orang mati!” (Homili Tua Sabtu Suci).
Dalam Sabtu Suci, Gereja bersiap merayakan Paskah Tuhan. Malam hari, Gereja merayakan Vigili Paskah atau malam suci kebangkitan Tuhan. Gereja menyalakan ‘api baru’ pada lilin-lilin paskah, tanda cahaya Kristus yang bangkit bersinar menghalau kegelapan maut. Bunyi alat-alat musik dan dentang lonceng Gereja, serta bell putera Altar dibunyikan tatkala madah kemuliaan dinyanyikan secara meriah, seolah menyatukan perayaan liturgi dunia dan surga. Bacaan-bacaan liturgi Vigili Paskah pun mengisahkan tentang penciptaan dunia mula-mula dan penciptaan baru yang digenapi dalam diri Kristus.
Biasanya juga, dalam Vigili Paskah, Gereja membaptis para katekumen. Air baptis menyimbolkan kehidupan yang dipulihkan. Umat Katolik seluruh dunia juga membarui janji baptis. Liturgi Vigili Paskah dimahkotai dengan Perayaan Ekaristi, yang menjadi ‘kurban tak berdarah’ Kristus di atas altar.
Pada Vigili Paskah, kesedihan dan perkabungan atas wafat Tuhan berubah menjadi sukacita, kegelapan berubah menjadi terang baru, dan harapan sukacita kita akan kehidupan baru dan kekal diperbarui, melalui seruan khas paskah, Alleluia. **
Kristiana Rinawati
