Meditasi Minggu Biasa XV Tahun Liturgi C

“Samaritanus Bonus, Si Penjaga Hukum Tuhan”

Ulangan 30,10-14; Kolose 1,15-20; Lukas 10,25-37

Para Rasul dan ketujuh puluh murid yang lain sepertinya masih memperbincangkan berbagai peristiwa dan pengalaman yang minggu lalu mereka dapatkan dalam misi “mewartakan Kerajaan Allah sudah dekat” (Luk 10,9). Mereka duduk dalam kelompok-kelompok kecil di sekitar Yesus. Sesekali terdengar riuh rendah disertai gelak tawa di sana-sini. Beberapa dari tujuh puluh murid itu tampaknya mengisahkan pengalaman yang menarik bagi teman-teman sekitarnya.

Sedangkan di kelompok yang lain mereka tampak serius mendengarkan kisah salah seorang dari mereka. Mungkin ada peristiwa mengharukan atau malahan pengalaman ditolak lagi di tempat yang mereka kunjungi, seperti yang belum lama ini mereka alami saat masuk Samaria.“Samaritanus Bonus, Si Penjaga Hukum Tuhan” Para Rasul dan ketujuh puluh murid yang lain sepertinya masih memperbincangkan berbagai peristiwa dan pengalaman yang minggu lalu mereka dapatkan dalam misi “mewartakan Kerajaan Allah sudah dekat” (Luk 10,9).

Mereka duduk dalam kelompok-kelompok kecil di sekitar Yesus. Sesekali terdengar riuh rendah disertai gelak tawa di sana-sini. Beberapa dari tujuh puluh murid itu tampaknya mengisahkan pengalaman yang menarik bagi teman-teman sekitarnya.

Sedangkan di kelompok yang lain mereka tampak serius mendengarkan kisah salah seorang dari mereka. Mungkin ada peristiwa mengharukan atau malahan pengalaman ditolak lagi di tempat yang mereka kunjungi, seperti yang belum lama ini mereka alami saat masuk Samaria.

Yesus pun tampak duduk di antara murid-murid dan para pendengar lainnya. Sesekali Yesus tersenyum mendengar kisah-kisah yang diceritakan murid-murid-Nya. Juga beberapa kali Yesus memberikan komentar, tanggapan dan pengajaran atas peristiwa-peristiwa yang dialami murid-murid-Nya. Begitulah kurang lebih suasana komunitas Yesus dan para murid-Nya.

Siapa sesamaku manusia?

Para murid mendadak diam. Suasana menjadi lengang. Seorang ahli Taurat berdiri dan mengajukan pertanyaan dengan maksud untuk mencobai Yesus. “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus tidak menjawab, sebaliknya Yesus bertanya balik kepada ahli Taurat. Yesus tahu bahwa si ahli Taurat itu sudah memiliki jawaban atas pertanyaannya sendiri. Dan benar saja, ahli Taurat memberikan jawaban yang merupakan ringkasan dari Dekalog. Dia menyebutkan Peraturan Emas (golden rule) yang menggemakan Shema Israel dari Ul 6,4-5 dan mengkombinasikannya dengan Im 19,18: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Mungkin, ahli Taurat itu sebenarnya mau mengomentari kisah-kisah dari tujuh puluh murid yang baru pulang dari misi mereka. Ahli Taurat ini jangan-jangan kuatir kalau Yesus dan komunitas para murid-Nya memiliki paham yang berbeda tentang kata “sesama”. Karena itu, untuk membenarkan dirinya, dia bertanya lagi, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Baginya, dan bagi orang Yahudi secara umum, “sesama” adalah orang sebangsanya, orang keturunan Israel murni atau tulen (bdk. Im 19,16.18). Orang asing, termasuk orang Samaria, tidak mereka dipandang sebagai sesama karena mereka bukan keturunan Israel murni.

Samaritanus Bonus, si Penjaga Hukum Tuhan

Menanggapi kerisauan hati ahli Taurat, Yesus menceritakan suatu perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Perumpamaan yang diceritakan Yesus ini sungguh mengejutkan, bukan saja untuk ahli Taurat tetapi juga untuk para rasul dan para pendengar Yesus lainnya. Masih sangat segar dalam ingatan Yohanes dan Yakobus, anak-anak Zebedeus, bagaimana orang-orang Samaria memperlakukan Yesus dan para murid lainnya beberapa waktu yang lalu.

Sebenarnya, tidak seorang pun berharap Yesus akan menyelesaikan kisahnya. Bagaimana mungkin seorang Samaria dijadikan model pelajaran moral dan spiritual bagi seorang ahli Taurat dan bagi orang Yahudi mengingat permusuhan mereka selama ini? Bahkan, seandainya orang yang dirampok dalam cerita Yesus itu tidak dalam keadaan setengah mati, barangkali ia pun akan mengusir musafir dari Samaria yang menolongnya itu.

Tetapi tindakan orang Samaria ini sungguh luar biasa.

“Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali” (Luk 10,33-35).

Sesungguhnya, kekuatan dari perumpamaan Yesus ini dapat dirasakan dalam terang Shema — yakni, perintah untuk mencintai Tuhan dengan totalitas keberadaan seseorang. Shema dibacakan setiap pagi dan setiap malam oleh setiap orang Israel yang setia. Imam dan orang Lewi, yang diceritakan dalam perumpamaan, pun telah melantunkannya pagi itu sebelum mereka melewati sesama orang Yahudi yang setengah mati itu, dan mereka mengucapkannya lagi saat matahari terbenam.

Pengabaian mereka terhadap sesama terapit oleh Shema, pernyataan-pernyataan saleh tentang cinta kepada Tuhan pada waktu pagi dan petang. Sebaliknya, orang Samaria, yang dibenci dan dianggap musuh, memperlihatkan diri sebagai penjaga dan pelaksana Hukum Tuhan. Dia mencintai orang yang dijumpainya di jalanan seperti dirinya sendiri, dan dengan ini menunjukkan bahwa dia mencintai Tuhan dengan sepenuh hatinya.

Pesan singkat

Cinta kepada sesama mengindikasikan suatu relasi yang otentik dan sehat dengan Tuhan. Samaritanus bonus adalah contoh yang tepat untuk menimbang kadar relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Di sisi lain, sering kali orang-orang yang dengan lantang menyatakan ide-ide tertentu adalah penghina paling keras dan terbesar terhadap ide-ide yang sama. Dalam hal ini, Ahli Taurat, Imam dan orang Lewi menyadarkan kita untuk waspada terhadap bahaya ini.

Quezon City-Philippine 2022 @donjustin

Leave a Reply

Your email address will not be published.