Membawa Kabar Baik bagi Hidup Bersama

Tugas dari setiap orang adalah membawa kabar sukacita bagi hidup bersama. Namun selalu saja ada godaan untuk membawa kabar bohong tentang sesama kita.

Ada seorang perempuan yang dituduh melakukan selingkuh dengan suami orang lain. Padahal ia tidak pernah melakukan hal itu. Perempuan itu merasa sangat terpukul. Ia tidak ingin dihujat oleh masyarakat di desanya, karena ia tidak melakukannya. Ia tidak tinggal diam. Suatu hari ia mendatangi sumber gosip yang ia temukan dari sejumlah penyelidikan.

Dia tidak memarahi sumber gosip itu. Dia mengajaknya ngobrol baik-baik, agar orang yang membuat kabar bohong itu menyadari dirinya. Namun sang sumber gosip yang sekaligus penyebarnya itu tidak mau menerima. Dia merasa telah dituduh telah menyebarkan kabar bohong itu.

Sambil memelototi perempuan itu, dia berkata, “Saya tidak mau dituduh sebagai tukang gosip. Itu kan benar-benar terjadi. Mau saya buktikan?”

Perempuan itu mempersilahkan penggosip itu untuk membuktikan. Dia memberinya waktu selama satu minggu. Namun setelah satu minggu berlalu, tidak ada bukti yang diperoleh. Meski begitu, penggosip itu tidak mau meminta maaf atas perbuatannya. Sebaliknya perempuan itu justru mendatanginya. Dia memberikan pengampunan atas kesalahan penggosip itu. Relasi mereka pun menjadi lebih baik.

Jangan Meniup Kapas

Kita hidup dalam dunia yang sering kali arogan. Ada orang-orang yang merasa diri tahu banyak hal lalu dengan seenaknya meluapkan isi hatinya. Padahal belum tentu luapan isi hati itu benar. Bisa saja salah dan tidak berkualitas. Namun orang merasa apa yang dikatakan itu benar adanya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berhati-hati dalam menyebarkan berita atau informasi kepada orang lain. Mengapa? Karena berita yang kita sebar itu seperti kapas yang beterbangan kian kemari. Perempuan yang digosipkan itu mengalami kerugian atas berita bohong itu. Semestinya dia menjalani hidupnya dengan tenang, namun dia menjadi resah setelah berita bohong tentang perselingkuhan.

Kita mesti selalu memverifikasi informasi atau berita yang kita terima. Kalau informasi itu benar, kita boleh meneruskannya kepada orang lain dengan pertimbangan hal itu berguna bagi kehidupan banyak orang. Membuat verifikasi berarti kita mau meneliti kebenaran dari berita tersebut. Kita tidak ingin meniup kapas yang kemudian terbang ke mana-mana tanpa kita bisa kumpulkan lagi.

Orang beriman tentu senantiasa hati-hati dalam menebarkan berita bohong. Yang semestinya diberitakan adalah berita gembira yang benar yang membawa sukacita bagi banyak orang. Mari kita terus-menerus membawa berita gembira bagi kesejahteraan bersama. Tuhan memberkati.

** Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.