Kita Adalah Inter Mirifica

Refleksi Siapa Kita mengawali Rapat Pleno Nasional Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2022, Selasa, (23/8) di Denpasar, Bali. Sadar akan jati diri dapat membantu para ketua Komisi KOMSOS keuskupan dalam mengemban tugas pelayanan mereka.

“Siapa kita? Kita adalah orang yang membantu uskup dan keuskupan. Kita belajar untuk memiliki semangat sendiri,” kata Mgr. Hilarion Datus Lega, Ketua Komisi KOMSOS KWI.

Dia mencontohkan dirinya yang melayani di KWI. “Saya bekerja di KWI ini membantu para uskup. Gereja Katolik inilah yang tidak langsung saya layani. Dalam refleksi, saya tidak pernah berasal dari struktural. Saya benar-benar hanya pastor paroki. Saya tidak tamat dari universitas kepausan. Saya sekolah di universitas umum di bidang komunikasi,” tuturnya.

“Pointnya, pada akhirnya bukan kemampuan, keahlian, kehebatan, tetapi kesetiaan dan kepercayaan yang terakumulasi sangat indah dalam pelayanan. Kita adalah Inter Mirifica, orang-orang yang mengagumkan. Kita adalah orang-orang yang terlibat dalam pelayanan untuk membantu uskup dan keuskupan,” jelas Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong ini.

Mgr. Hilarion Datus Lega, Ketua Komisi KOMSOS KWI, dalam presentasinya kepada para peserta Rapat Pleno Nasional KOMSOS KWI 2022

Inter Mirifica: Manusia yang Mengagumkan

Inter Mirifica atau dekret tentang upaya-upaya komunikasi sosial adalah salah satu dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini, menurut Uskup Datus, merupakan tonggak baru bagi Gereja Universal.

“Ada tiga hal yang mengagumkan. Pertama, Gereja Katolik menghargai sarana media dalam upaya-upaya mewartakan Kabar Gembira. Kedua, Gereja Katolik mempromosikan agar sarana-sarana modern harus dipakai, lalu berkembang lembaga-lembaga komunikasi seperti SIGNIS. Ketiga, siapa kita? Menurut Konsili Vatikan II siapa kita? Adalah Inter Mirifica, yang paling mengagumkan adalah manusia yang memiliki roh, spirit, hidup di antara benda-benda mati,” katanya.

Mgr. Datus melanjutkan,

“Kalau tidak cukup kesadaran bahwa Inter Mirifica itu adalah kita, kita ini tidak lebih dari departemen komunikasi, tapi kita ini makhluk yang begitu luhur. Kita adalah tuan di balik operasionalisasi media. Kalau tidak, pekerjaan kita tidak ada roh.”

Maksud Mgr. Datus, karya KOMSOS memang penting, tapi yang lebih dari itu adalah martabat manusia. Pekerja KOMSOS adalah manusia yang sangat mengagumkan.

Para peserta Rapat Pleno Nasional KOMSOS KWI 2022 sedang menyimak pemaparan Mgr. Hilarion Datus Lega

Hati Tulus Membuka Komunikasi Sejati

Uskup Datus mengutip Thomas J. Stanley, seorang penulis asal Amerika. Ia mengatakan hati yang jujur dan tulus ikhlas menjadi sumber sukacita. Inilah komunikasi sejati.

“Survei terhadap 70.000 orang kaya di Amerika. 100 faktor dalam hidup supaya orang bahagia. Tingkat IQ nomor 21, pendidikan nomor 23, NEM/ rangking nomor 30. Faktor- faktor teratas adalah kejujuran; disiplin; mudah bergaul; dukungan dari pasangan, teman, sejawat; kerja keras; cinta pekerjaan; kompetitif; dan pandai menjual ide,” jelasnya.

Kejujuran penting karena menumbuhkan love (cinta), membangun relasi yang baik, trust (kepercayaan).

“Kejujuran membuat sesama merasa aman dan nyaman. Orang menemukan dirinya sebagai manusia. Orang jujur bertindak atas nama kejujuran, bukan pura-pura. Tidak memutarbalikkan fakta. Katakan ya adalah ya, tidak adalah tidak,” kata Mgr. Datus.

Kejujuran bila diterapkan pelayanan KOMSOS membawa kesejatian. Inilah yang harus diusahakan oleh para pegiat KOMSOS.

Rapat Pleno Nasional Komisi KOMSOS KWI 2022 diikuti oleh 37 Komisi KOMSOS yang berasal dari keuskupan-keuskupan se-Indonesia. Mereka adalah 33 ketua Komisi KOMSOS, sedang 4 lainnya adalah utusan KOMSOS.

Adapun tema yang diangkat dalam Rapat Pleno Nasional Komisi KOMSOS KWI 2022 ini adalah “Berjalan Bersama di Era Disrupsi Komunikasi Sosial”. Dua kata awal “Berjalan bersama” terinspirasi dari Sinode para Uskup 2022 yang mengajak seluruh umat Allah untuk berjalan bersama dalam membangun Persekutuan,
Partisipasi dan Misi. Sedang Era Disrupsi Komunikasi Sosial menyoroti realita perubahan besar-besaran inovasi teknologi yang terus berlangsung, pasca pandemi Covid-19. Harapannya, Komisi KOMSOS dapat menyikapi era disrupsi ini dengan transformasi karya pelayanan.

** Kristiana Rinawati/ RP Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.