“Saya masuk seminari itu, (karena) ingin menjadi seperti guru agama atau mengajar orang di desa. Itu pengalaman dari Tanjung Enim,” kata Romo Laurentius Suwanto SCJ.

Setelah ditahbiskan menjadi imam, 27 November 1997, Romo Suwanto pernah bertugas di paroki, namun hanya sebentar. Setelahnya, dia diutus melayani di bidang pendidikan calon imam SCJ. Hal ini tidak sejalan dengan cita-citanya.
“Lalu saya mengatakan kepada superior, saya itu cita-citanya bekerja dengan umat. Untuk mengembangkan Gereja lokal. Superior coba meyakinkan saya, bahwa dengan bekerja di formatio, saya juga berpartisipasi, bahkan bisa lebih luas, daripada saya bekerja di satu paroki,” tutur Romo Wanto, yang saat ini melayani di Pastoral Care Charitas Hospital Palembang.

Romo Wanto saat itu menerima tugas perutusan dengan sukacita. Benar saja. Dia menemukan kegembiraan sebagai seorang formator.

“Dan inilah yang menggembirakan. Ketika saya hadir dalam tahbisan orang-orang yang pernah saya dampingi di formatio, baik di novisiat maupun di skolastikat, baik di Filipina maupun di Vietnam. Saya merasa, oh, partispasi saya juga sampai di sana, ternyata benar apa kata superior, bahwa partisipasi saya dalam membangun Gereja itu lebih luas, dari pada saya bekerja di satu paroki, karena turut andil dalam pembentukkan calon-calon imam yang akan berkarya di banyak tempat,” kisah Romo Wanto, yang kelahiran Tugumulyo, 7 Agustus 1961 ini.
Dalam permenungannya, Romo Wanto mengatakan, begitu banyak hal yang menjadi alasan baginya untuk bersyukur. Terlebih, karena dia merasa Tuhan selalu menyertainya.
“Tetapi bagi saya yang paling menyentuh adalah seperti yang dalam bacaan pertama tadi, bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan. Sikap kepasrahan yang memang seperti Paulus ucapkan, walaupun dalam penjara, tapi bersukacita dalam Tuhan. Sukacita bukan karena hal-hal yang lahiriah, tapi penderitaan yang dialami Paulus juga membawa sukacita, karena dia percaya kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkannya,” tandasnya.
** Kristiana Rinawati
