ALDERA: Mahasiswa Bersuaralah!

Kuliah Umum dan Bedah Buku berjudul Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993 – 1999 berlangsung pada Jumat, 02/12 lalu di Gedung Yoseph Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) Palembang, Sumatra Selatan.  Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 300 peserta ini menghadirkan Dr. Pius Lustrilanang S.IP., M. SI., CSF, CFRA yang merupakan anggota VI BPK RI sebagai keynote speaker. Ia menjadi tokoh utama yang diceritakan dalam buku ALDERA (Aliansi Demokrasi Rakyat).

Dr. Pius Lustrilanang S.IP., M. SI., CSF, CFRA | Foto: KOMSOS KAPal

ALDERA DAN UKMC

ALDERA merupakan gerakan politik yang dirintis tahun 1993 untuk melawan rezim kala itu. Ketua IKA UKMC Okta Priandi dalam sambutannya, mengatakan bahwa mahasiswa sebagai simbol perjuangan tahun 1998. ALDERA adalah satu-satunya lembaga pergerakan yang ia kenal.

Michael Joseph, selaku moderator, mengungkapkan apa makna dari kata ALDERA. “ALDERA berasal dari bahasa Spanyol yang artinya perlawanan waspada,” jelas Mickey.

Pria yang akrab disapa Bung Mickey itu mengatakan bahwa ALDERA dan UKMC memiliki hubungan erat. Karena UKMC disebut sebagai perguruan tinggi pertama yang menjadi kampus pergerakan.

Peserta Kuliah Umum dan Bedah Buku ALDERA | Foto: KOMSOS KAPal

ALDERA: Biarkan Sejarah Mengungkap Kebenaran

Sementara Dr. M. Husni Thamrin, M.Si, Kajur Ilmu Komunikasi FISIP UNSRI hadir sebagai pembicara bersama Kemas Khoirul Muklis direktur lintas politika Indonesia. Ia mengatakan bahwa hal menarik dari buku ALDERA adalah perjuangan dari Pius Lustrilanang.

“Hal menarik adalah saya yakin tidak bercerita tentang heroisme, tetapi menceritakan tentang perjuangan Pak Pius. ALDERA merupakan evolusi dari setiap pergerakan idealisme sejarah dan politik,” ucap Pak Husni.

Ia sangat menyukai bagaimana sikap yang diambil oleh Pius, yang mengandung makna bahwa tidak perlu mengatakan yang benar dan salah. Biarlah sejarah yang mengatakan kebenaran itu sendiri.

Khoirul Muklis & Dr. M. Husni Thamrin, M.Si | Foto: KOMSOS KAPal

Mahasiswa Harus Bersuara

Ia mengatakan bahwa buku ALDERA bisa menjadi sebuah jawaban bagaimana mahasiswa punya idealisme dalam menghadapi kenyataan saat ini. Mahasiswa jangan bungkam, karena dalam pemikiran mahasiswalah letak perubahan.

“Realistisnya jangan pernah berhenti berikthiar. Berbicara! Jangan pernah mau dibungkam. Anda adalah orang merdeka yang memiliki pikiran merdeka. Suarakan!” tegas Pak Husni.

Rektor UKMC Dr. Antonius Singgih Setiawan, S.E., M.Si. | Foto: KOMSOS KAPal

Tantangan Mahasiswa Zaman Now

Khoirul Muklis memiliki perspektif bahwa buku ALDERA bisa menyambungkan semangat perjuangan gerakan mahasiswa, namun juga bisa menjadi sambaran petir bagi mereka.

“Satu hal yang bisa dikatakan melalui buku ini adalah kalau dahulu, kita pahami unjuk rasa itu dilakukan jika sudah ada hal-hal yang benar-benar ingin disuarakan. Sudah ada kesepakatan terlebih dahulu antar mahasiswa. Namun sekarang, bahasa unjuk rasa sudah banyak disalahgunakan. Kalau sekarang pinginnya mau menyampaikan sesuatu, tapi demo dulu. Kalau dulu harus ada dialog terlebih dahulu,” tutur Pak Muklis.

Menjadi mahasiswa era ini tidaklah muda. Sebab terjadinya perubahan yang sangat berbeda. Itulah yang dikatakan Pak Husni Tamrin. “Mahasiswa mempunyai hambatan untuk kembali menjadi mahasiswa idealis. Sebab mahasiswa punya masanya sendiri. Situasi saat ini memang sedang terjadi masa perubahan dari analog menjadi digital. Mereka tentu saja berhadapan dengan persoalan yang sangat berbeda dan  tidak dihadapi oleh saya dulu,”

Masa kini berhadapan dengan pola-pola pertumbuhan ala Eropa. Sehingga tantangannya lebih beragam. Namun ia berharap, jangan sampai ada mahasiswa yang terjebak.
Kalau pakai tolak ukur zaman dulu mungkin tidak akan sama. Tapi melihat situasi sekarang baginya mahasiswa sangat luarbiasa.

Sementara Pak Muklis menyampaikan bahwa perjangan yang dilakukan oleh Pius Lustrilanang dalam buku ALDERA sudah sangat jelas.

“Tugas ALDERA pada saat itu sudah tuntas dengan segala sistem-sistemnya. Kalaupun ada persoalan hari ini adalah tugas mahasiswa hari ini untuk memperjuangkannya. Tugasnya mahasiswa sekarang bagaimana menjaga semangatnya dalam menghadapi relaita masa sekarang,” tutur mantan ketua KPU Palembang ini.

Mengakhiri sesinya, Pak Husni mengajak mahasiswa untuk berani bersuara jika hal yang dirasa tidak benar dan tidak sesuai dengan peraturan yang ada.

“Anda punya kemerdekaan. Manfaatkan kebebasan yang anda miliki. Mari jangan hanya belajar untuk didikte. Ciptakan strategi untuk buat sesuatu yang baik. Jangan susah-susah mikir pokonya ketika anda ingin menyatakan kebenaran lakukanlah karena kita manusia bebas,” ajak Pak Husni.

Menegaskan kembali apa yang telah disampaikan oleh kedua pembicara, Pius Lustrilanang mengatakan bahwa pengaruh media sosial sangat besar sehingga sulit untuk menjadi aktivis jaman sekarang. “Tidak mudah jadi aktivis hari ini. Ada Instagram, TikTok, Youtube, drama Korea. Pokoknya berat jadi aktivis sekarang,” tuturnya.

Tidak Sekedar Nostalgia

Rektor UKMC Dr. Antonius Singgih Setiawan, S.E., M.Si. menyampaikan bahwa adanya kuliah umum ini bukan hanya sekedar bernostalgia, tetapi bagaimana mahasiswa mendapatkan inspirasi perjuangan. Perjuangan  yang tidak berhenti pada satu fase, tetapi tetap terus berjalan.

“Proses perjalanan yang dilakukan oleh Pak Pius dahulu diera di mana rezim sangat kuat dan tidak adanya kebebasan.  Kita berharap itu tidak akan terjadi lagi sekarang dan masa mendatang. Dahulu kita hidup dengan rezim sekarang kita hidup menurut kehendak sendiri. Maraknya  perkembangan teknologi membuat kita cenderung untuk tidak mau berjuang. Kita harus tetap berjuang supaya menjadi lebih baik lagi ke depan,” jelas Pak Singgih. ** Kristina Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.