Misteri Sakramen Mahakudus (22)

Mencari Kekasih Jiwa

(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)

“Di atas ranjang pada malam hari

Kucari jantung hatiku.

Kucari, tetapi tak kutemui dia.

Aku hendak bangun dan berkeliling kota;

Di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan,

Kucari dia jantung hatiku.

Kucari, tetapi tak kutemui dia.

Aku temui peronda-peronda kota.

“Apakah kamu melihat jantung hatiku?” (Kid 3:1-3)

Sakramen Mahakudus | Foto: Pinterest.com

Sharing Iman

Dalam Kidung Agung sang mempelai mencari kekasihnya tetapi tidak menemuinya. Ia menanyakan kepada semua orang yang dia jumpainya: “Apakah kalian melihat jantung hatiku?” Yesus sudah tidak terlihat di dunia ini, tetapi kalau jiwa yang mencintai-Nya ingin menemui-Nya, ia selalu bisa menjumpai-Nya dalam Sakramen Mahakudus. Yang mulia Fr. Yohanes Avila men-share-kan imannya demikian, “di antara sekian banyak tempat ziarah, yang paling saya senangi adalah sebuah gereja yang di dalamnya ada Sakramen Mahakudus yang ditakhtakan!”

Dialog Jiwa

Ya Allah Tuhanku, Engkaulah kekasih jiwaku! Sungguh sangat mengagumkan kasih-Mu padaku: tak terbatas dan tak bersyarat. Engkau ya Yesusku sudi merendahkan diri dan tinggal di antara kami manusia! Tidak berhenti di situ, tetapi Engkau menyatukan diri dengan hati kami dalam wujud sekeping roti!

Oh, Sabda yang menjadi daging, Engkau sungguh agung dalam kerendahan hati-Mu. Di sana Engkau menunjukkan kasih yang sangat agung dan mulia. Bagaimana aku dapat membalasnya? Bagaimana aku dapat mencintai-Mu dengan seluruh kesadaranku seperti  Engkau telah mencintaiku?

Sungguh aku sangat mencintai-Mu, maka aku ingin menyenangkan hati-Mu dengan sekuat tenagaku mengatasi kesenanganku sendiri. Ingin kusadari bahwa kesukaanku adalah menyenangkan-Mu oh, Yesus dan Tuhanku.

Engkau adalah kekasih jiwaku dan segalanya bagiku. Buatlah aku terus-menerus lapar tinggal Bersama-Mu di hadapan Sakramen Mahakudus; menyambut-Mu dalam Komuni Suci agar Engkau masuk dalam hatiku dan senantiasa menemaniku. Betapa tidak sopannya bila aku tidak menerima-Mu yang mengundangku secara manis dan murah hati.

Oh, Tuhanku bebaskanlah aku dari keterikatan aneka ciptaan-Mu, sampai Engkau saja yang menjadi fokus perhatian dan cintaku. Aku sunggguh mencintai-Mu, oh Tuhan yang Mahamurah. Aku tidak mengiinginkan kesenanganku dan kepuasanku.

Tuhan Yesus terimalah keinginan baikku, orang berdosa yang berniat mencintai-Mu ini.  Bantulah aku dengan rahmat-Mu! Berbahagialah aku karena mulai saat ini ke depan aku tidak lagi menjadi “intipnya” neraka, tetapi bersukacita dalam kasih Allah yang abadi. Tuhan Yesus, aku mencintai-Mu. Engkaulah harta kekayaanku melebihi yang lain.

Visitasi Bunda Maria

Bunda Maria Perawan yang termulia, aku telah melawan Yesus puteramu, maka kini aku datang menghadapmu mohon belaskasihmu agar aku bisa membaharui hidupku. Jangan katakan ‘tidak’ karena engkau bisa membantuku seperti kata St. Bernadus: “Bunda Maria adalah pelayan permohonan!” Hanya engkaulah yang bisa membantu jiwa yang dalam keadaan bahaya.

St. Ephrem menyebutmu “penolong mereka yang di pinggir jurang!” Siapakah orang yang dipinggir jurang itu? Hanyalah aku! Aku telah kehilangan Allah dan layak kalau aku dilempar ke dalam neraka. Aku tidak tahu persis apakah Tuhan Allahku masih sudi mengampuniku. Tetapi engkau bisa menyelamatkan aku dari jurang kehancuran hidupku ini!

Hanya darimu aku masih memiliki harapan untuk menjadi baik, untuk pengampunan dosaku, untuk memulihkan nama baikku dan tentu aku mengharapkan surga! Aku rindu tetap menjadi satu dengan mereka para penghuni surga.

Bunda Maria aku pasti akan memujimu atas belaskasihmu yang menyelamatkan aku. Bunda, engkau sungguh pengantara orang berdosa kepada Allah. Aku akan memuji belaskasihmu selama-lamanya. Ya, aku akan menyanyikannya sekarang dan selama-lamanya. Amin. **

Leave a Reply

Your email address will not be published.