Misteri Sakramen Mahakudus (23)

Iman Yang Berbahaya

(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)

“Tuhan jangan tinggalkan aku sendirian di sekolah kasih,

tapi dampingilah aku agar aku di jalan kesempurnaan,

seperti, bersama dan bersatu denganMu,

sehingga bukan aku yang hidup melainkan diriMu.” (St Gertrude)

Hosti Suci | Foto: Pinterest.com

Pengajaran dan Sharing

Banyak orang kristiani “memperbudak diri dengan nasib!” Menganggap situasi hidupnya saat ini sudah menjadi nasibnya yang harus diterima dengan pasrah.  Ada pula yang mempercayakan diri pada sesuatu yang berbahaya.

Mereka pergi ke tanah suci (Holy Land) di mana Tuhan kita lahir, menderita dan wafat untuk mengubah hidupnya. Ini iman yang berbahaya. Kita tidak perlu jauh-jauh dan mengeluarkan banyak biaya. Allah yang sama ada di dekat kita. Dia bertakhta di dalam Gereja, hanya beberapa langkah dari rumah kita.

St Paulinus berkata, “Kalau ziarah yang cukup jauh dan mahal pulang hanya membawa sejumlah debu atau sekapulir suci dari makam Yesus, mengapa kita tidak berkunjung kepada Sakramen Mahakudus saja, di sana Yesus yang sama bertakhta!”

Gereja Katolik tidak mengajarkan predestinasi atau fatalisme. Predestinasi adalah kepercayaan bahwa seseorang sudah ditentukan hidupnya oleh Allah sebelum lahir di dunia. Apa pun usahanya akan sia-sia. Ajaran predestinasi tidak mengenal pertobatan atau rahmat. Di sana juga tidak ada kehendak bebas. Yang ada adalah fatalisme.

Yang diajarkan oleh gereja Katolik adalah “kebebasan dan rahmat Allah!” Allah mengundang, memanggil dan memberi kemampuan untuk berbuat baik dan hidup dalam sukacita. Tetapi manusia diberi “kebebasan” untuk menentukan sikap. Manusia bisa menanggapi panggilan Allah tetapi juga bisa menolaknya.

Menolak Allah, berarti hidup dalam penderitaan, karena Allah adalah sumber hidup. Kita tidak bertaruh dengan nasib dan sesuatu yang berbahaya, tetapi kita diajak untuk berdialog dengan Allah; membangun relasi antara anak dan Bapa yang penuh kasih.

St. Paulinus, seorang biarawan, memberi kesaksian demikian:

“Saya melihat sesuatu yang menakjubkan berasal dari Sakramen Mahakudus. Saya melihat keinginan besar dari Tuhan kita Yesus menganugerahkan rahmat-Nya melalui sakramen ini!

Oh, betapa kudus misteri ini, Ya, Dialah Roti Kudus! Di sanalah Allah sendiri mencurahkan kuasa-Nya yang berlimpah! Ya, di mana lagi kalau bukan di Roti itu? Dalam Roti itu, Allah bertakta dan senantiasa bertindak untuk kita.

Mari kita tanamkan untuk tidak iri terhadap mereka yang sudah di surga karena di bumi ini pun kita memiliki Allah yang sama; kita bisa menyembah dan memuji-Nya seperti mereka. Itulah alasannya mengapa kita berdevosi kepada Sakramen Mahakudus.

Saya katakan ini, karena saya mengalami kemuliaan Allah dalam Sakramen Mahakudus menguasai jiwaku. Saya tidak bisa tidak bicara tentang sakramen ini; saya harus selalu berbicara – di sana Tuhan kita menyediakan diri untuk kita semua yang dikasihi-Nya. Saya tidak tahu, apa yang perlu kita lakukan untuk Yesus dalam Sakramen ini. Yang saya tahu Dia Agung, Mulia dan penuh kasih kepada kita!”

Jawaban Jiwa

Oh, engkau malaikat Seraphim, siapa yang layak untuk dengan manis penuh kasih berada di sekitarmu dan menyembah Tuhanku? Semua itu bukan hanya untuk dirimu tetapi juga untuk saya karena Raja Surga bertakhta dalam Sakramen Mahakudus.

Oh, malaikat yang manis, biarkan aku juga terbakar oleh Kasih Ilahi, dan kasihmu juga terus membakarku sebagaimana dirimu!

Oh Yesusku, ajari aku untuk mengenal kasih yang paling besar di mana Engkau menjadi manusia, yang membuat saya semakin memiliki keinginan untuk mencintai-Mu dan itu berkenan kepada-Mu. Engkau pasti membuat kasihku terus tumbuh berkembang! Aku mengasihi-Mu, Allah yang murah hati, dan aku akan selalu mencintai-Mu; dan hanya Engkaulah yang menjadi milikku.

Visitasi Bunda Maria

O, perawan yang mulia, St Bernardus memanggilmu, “ibu untuk yatim piatu!” dan St. Ephrem lebih dari itu, memanggilmu “sang penerima yatim piatu”. Para yatim itu tidak berbeda dengan para pendosa yang kehilangan Allah!

Berbahagialah aku yang menemukan engkau, ya Bunda Maria. Aku kehilangan Bapaku tetapi engkaulah ibuku yang pasti memampukan aku menemukan kembali.

Dalam hidupku yang malang ini aku memanggilmu untuk membantu dan menolongku. Apakah aku akan engkau kecewakan? Tidak! Karena St. Innocentius III berbicara tentang dirimu sebagai ibu yang pasti menjawab permohonan anaknya.

Beliau berujar, “Siapakah yang memanggil namamu, dan tidak diperhatikan?” Dan siapakah yang berdoa kepadamu dan tidak didengarkan atau tidak dibantu? Siapa yang hilang dan tidak engkau temukan? Oh ratuku, jika engkau menginginkan aku selamat mampukan aku untuk menyandarkan diri dan mempercayakan diriku kepadamu. Amin. **

Leave a Reply

Your email address will not be published.