Aku pergi ke Hong Kong dengan sejuta mimpi. Melihat tetangga-tetanggaku yang lebih dahulu ke Hong Kong dan semuanya terlihat sukses, aku berharap yang sama. Kesuksesan mereka terlihat dari rumah-rumah mereka yang direhap menjadi megah dan dengan mobil diparkir di teras mereka. Terlihat mentereng! Hidup mereka berubah.
Meskipun aku tidak tahu, apakah keluarga mereka terjaga dan harmonis. Tentu bukan urusanku. Aku sendiri berjuang hebat untuk mempertahankan perkawinan atau keluargaku. Suamiku pengangguran dan tidak ada usaha kuat dalam dirinya untuk mencari nafkah, malah terus berjudi dan mabuk-mabukan.
Kami mempunyai dua anak, yang bungsu sakit, entah apa istilah sakitnya, yang jelas membutuhkan biaya besar untuk operasi. Di sisi lain, aku hanyalah seorang buruh tani. Semakin berat hidupku, karena tinggal di rumah mertua yang sering marah-marah tanpa alasan yang jelas.
Singkat kata, kami terjerat kemiskinan yang akut. Aku pikir, kemiskinan yang menjadi pangkal dari semua beban ini. Melihat tetanggaku dan juga mendengarkan saran-saran mereka, aku menatap Hong Kong dengan harapan setinggi langit. Aku harus bekerja di sana, itulah tekadku. Meskipun tanpa restu suami dan mertua, aku nekad memproses diri untuk bisa bekerja di Hong Kong.
Aku sadar, kenekatan ini sangat mahal harganya. Aku merasa menjadi istri dan ibu dua anak yang kurang bertanggung jawab. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa berharap pada suami, yang malas-malasan dan tidak bisa diandalkan. Melihat dua anak kecilku, aku hanya menangis pedih dalam hati, takut mereka tidak akan dirawat dengan baik oleh suami dan ibu mertuaku.
Namun kepergianku, semata-mata untuk mereka, untuk mengobatkan kedua anakku yang sakit-sakitan, yang membutuhkan biaya besar dalam pengobatannya. Berangkatlah aku ke Hong Kong, yang kata orang disebut sebagai negeri beton, negeri yang dipenuhi dengan beton-beton (bangunan-bangunan) pencakar langit.

Mimpiku semakin tinggi, meskipun tidak setinggi teman-teman dan semua tetanggaku yang sudah lebih dahulu di Hong Kong. Aku tidak bermimpi membangun rumah megah, membeli mobil, dan aneka macam kemewahan yang telah banyak mengubah para pekerja migran ketika mereka pulang ke kampung halaman. Cita-citaku sekedar mendapatkan biaya yang cukup untuk membiayai operasi atau biaya pengobatan anak-anakku, dan semoga masih ada sisa biaya yang dipakai untuk membuka usaha kecil-kecilan.
Begitu sampai di Hong Kong, aku dijemput agen dan diantarkan ke rumah majikan. Bayangan negeri beton sudah langsung berubah, karena aku di bawah di pinggiran Hong Kong, bukan di dalam bangunan yang megah dan tinggi. Aku bekerja di sebuah desa, pinggiran bukit, di mana rumah-rumah terbangun hampir seragam, bangunan bertingkat dengan maksimal sampai tiga lantai.
Aku diminta majikanku, sepasang keluarga muda, untuk menemani dan merawat orangtuanya, ibu dari ibu majikan. Mereka tidak tinggal bersama ibunya. Jadi, aku tinggal berdua dengan seorang nenek. Dengan keterbatasan bahasa, tentunya menjadi masa yang amat sulit bagiku untuk mengawali pekerjaan dan hari-hariku di pinggiran Hong Kong, yang jauh ke mana-mana.
Minggu pertama, nenek yang kujagai masih belum begitu memberikan beban. Sebetulnya, tidak banyak pekerjaan berat yang harus kukerjakan. Rumah kecil, tidak butuh waktu lama untuk membersihkan. Mencuci baju sudah terbantu dengan mesin suci. Memasak tidak membutuhkan banyak tuntutan, karena permintaan nenek hanya cukup direbus, tidak perlu bumbu ini dan itu.
Namun, memasuki minggu kedua, nenekku mulai kurang sabar dengan kelambatanku untuk memahami apa yang diperintahkan kepadaku. Marah dan ngomel-ngomel menjadi makananku sehari-hari. Bahkan tidak jarang memukul lengan kananku. Untuk yang terakhir ini, aku shock! Tidak menyangka ia melakukan hal itu, meskipun tidak begitu sakit pukulannya. Tetapi karena hampir setiap hari ia memukulku di tempat yang sama, lama-lama lengan kananku memar.
Aku sadar, berada dalam kesulitan besar, aku berada di tempat yang salah. Dalam kesempatan libur di hari biasa, aku bertemu dua teman dari Indonesia yang berlibur dengan duduk-duduk di sebuah taman. Dari merekalah aku tahu karena ternyata mereka tidak jauh bekerja dari tempatku, bahwa nenekku itu memang kasar dan sudah banyak yang bekerja di tempatku, tetapi tidak ada yang krasan.
Ketika kuceritakan bahwa tanganku memar-memar, mereka menyarankan aku untuk melarikan diri saja. Mengingat juga aku tidak mengenal siapa-siapa, selain mereka berdua, aku berpikiran itulah jalan yang terbaik.
Tapi bagaimana dengan mimpi-mimpiku? Bahkan setelah bertahan tiga bulan pun, aku belum menerima gaji! Aku terbayang anak-anakku, yang sangat membutuhkan biaya pengobatan. Aku juga terbayang, suami dan mertuaku pasti akan mencibir kalau aku pulang tanpa membawa uang. Aku berada di “persimpangan jalan.” Tidak tahu, apa yang harus kulakukan. Oh… Tuhan apa yang harus kulakukan? (bersambung…)
Hong Kong, 21 Februari 2023
Agustinus Guntoro SCJ
