Krisis ekonomi dunia menimpa sejumlah negara di dunia. Di Afrika, misalnya, ada sejumlah Negara yang mengalami kebangkrutan. Setidaknya ada dua hal besar yang menyebabkannya. Pertama, Covid-19 yang melanda dunia selama tiga tahun, dan sekarang masih menimpa beberapa negara. Kedua, invasi Rusia terhadap Ukraina yang sudah berlangsung satu tahun lebih.
Wabah Covid-19 yang melanda dunia menyebabkan melayangnya banyak jiwa potensial dan banyak warga dunia yang kehilangan matapencaharian mereka. Sedangkan invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan terhentinya ekspor bahan-bahan kebutuhan pokok dunia dari Ukraina. Akibatnya, harga-harga melonjak tinggi, sehingga masyarakat tidak memiliki daya beli bahan-bahan kebutuhan pokok bagi hidup mereka.
Krisis ekonomi juga melanda Argentina selama bertahun-tahun. Selain disebabkan oleh dua hal di atas, Argentina juga terlilit hutang yang menumpuk. Negeri ini menjadi pasien tetap Dana Moneter Internasional (IMF) yang menggelontorkan hutang dalam jumlah besar. Negeri ini mesti gali lubang tutup lubang untuk mencicil hutang. Dalam beberapa tahun terakhir, Argentina telah meminjam lebih banyak hutang daripada sebelumnya, untuk mempertahankan rencana-rencana sosial dan sejumlah besar orang yang bekerja dalam ketergantungan dengan negara.

Romo Benediktus Mulyono SCJ, misionaris yang bekerja di Argentina, menuturkan bahwa Argentina memiliki banyak proyek sosial yang menggratiskan warganya dalam banyak hal. Proyek-proyek sosial itu adalah pendidikan negeri dari TK sampai Perguruan Tinggi, layanan kesehatan rumah sakit negeri dan bantuan sosial bulanan bagi mayoritas penduduk yang tidak memiliki pekerjaan tetap mendapatkan ‘bantuan tunai’.

Secara internal, kata Romo Mulyono, sistem perdagangan dan perekonomian tidak memiliki regulasi harga barang. Akibatnya, pengusaha bisa menetapkan harga yang mereka inginkan untuk produk mereka. Mereka terus-menerus mengubah harganya. Dalam tahun 2023 ini, misalnya, harga-harga sembako dan banyak barang meningkat 200% dibandingkan waktu Desember 2022 lalu.
“Agustus tahun lalu saya beli tepung tapioka per kilogram sekitar Rp 40.000. Maret 2023 ini per kilogramnya sekitar Rp 175.000. Pingin buat snack, gak jadi beli,” tulis Rm Mulyono SCJ.
Dalam situasi inflasi ini, nilai uang semakin berkurang. Pada gilirannya, bank sentral harus mencetak lebih banyak uang, tetapi tidak ingin mencetak uang dengan nilai yang lebih besar, karena ini akan mengakibatkan inflasi yang tidak dapat dikendalikan.

Sebenarnya Argentina merupakan negara makmur sejahtera bila ada kemauan untuk menata negara dengan baik. Pada tahun 1980-an, Argentina merupakan negara makmur nomor lima dunia. Namun sejarah panjang di negara yang sudah merdeka lebih dari 200-an tahun ini, membuat Argentina masuk dalam jurang inflasi yang sekarang ini sungguh membuat rakyat mengalami banyak kesulitan.
Sejarah panjang itu terbentuk dari siapa yang berkuasa, dialah yang punya selera. Gap antara kelompok-kelompok politik (partai politik) mempengaruhi cara pemerintah yang berkuasa mengelola negara tidak sebagaimana mestinya.
“Banyak orang mengatakan bahwa korupsi sudah menjadi ‘rahasia umum’ dilakukan oleh kalangan pejabat resmi,”
kata ROmo Mulyono
Mayoritas Beragama Katolik
Negara ini mayoritas penduduk beragama Katolik, hampir 70% katolik dari jumlah penduduk sekitar 47 juta. Namun gerakan ‘anti katolik’ dari kalangan pejabat dan kelompok tertentu yang juga notabene beragama Katolik hampir dikatakan menjadi hal yang biasa diperlihatkan. Bahkan sudah sejak ratusan tahun yang lalu diberlakukan semacam ’larangan’ untuk pelajaran agama Katolik di sekolah negeri.
Hal yang memprihatinkan lagi adalah umat yang menghadiri misa pada hari Minggu tidak sampai lima persen.

Intensi misa dari umat atau stipendium dan kolekte misa dikelola oleh masing-masing kapel (semacam Stasi). Setengah dari dua hal itu digunakan untuk perawatan kapel, kebutuhan ibadat atau perayaan. Setengahnya lagi diserahkan kepada bendahara paroki.
Dari 50% yang diterima bendahara paroki itu dipakai untuk membiayai operasional rumah pastoran, gaji karyawan (juru masak), BBM mobil Pastoran (mobil milik SCJ), iuran asuransi kesehatan 2 orang SCJ (2 SCJ lain ditanggung SCJ sendiri).
“Ini sangat besar per bulannya. Kalau ada ‘lebihnya’ baru kami dapat bagian sebagai ‘uang saku Romo’. Dan seringkali kami ‘tidak dapat jatah’,” kata Romo Mulyono yang berasal dari Paroki St Paulus Muara Bungo, Jambi, ini.
