Pagi itu, sejarah terukir di Keuskupan Tanjungkarang. Monseigneur Vinsensius Setiawan Triatmojo menerima tahbisan episkopal (tahbisan uskup), Senin (01/5). Senyum tak henti-hentinya terpancar dari wajah umat, yang tidak hanya dari Keuskupan Tanjungkarang saja, namun juga umat Keuskupan Agung Palembang yang hadir. Wajar saja, sebelum terpilih menjadi uskup 17 Desember 2022 lalu, ia adalah imam diosesan Keuskupan Agung Palembang.

Lagu Kristus Jaya mengiringi perarakan sekitar 40 uskup dan ratusan imam selebran, menuju altar Gereja Katolik Paroki Ratu Damai, Teluk Betung, Lampung. Tahbisan uskup yang akrab disapa Mgr. Avien ini dipimpin oleh Penahbis utama Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono dan penahbis pendamping Uskup Emeritus Mgr. Aloysius Sudarso SCJ dan Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap.


Usai mengundang kehadiran Roh Kudus, imam pendamping mengajukan kepada penahbis utama, agar Romo Avien ditahbiskan menjadi uskup. Setelahnya, surat penunjukkan dari Takhta Apostolik diperlihatkan kepada uskup penahbis utama dan pendamping, serta dibacakan oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo.
Lalu, ritus dilanjutkan dengan homili. Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, mengajak umat untuk merenungkan motto kegembalaan Mgr. Avien: In Verbo Tuo Laxabo Rete yang artinya tetapi karena Sabda-Mu, kutebarkan jala juga. Setelahnya, ia mengingatkan peran sesuai panggilan masing-masing dalam karya pelayanan.

Sabda Yesus Buka Horizon Baru
“Tetapi karena sabda-Mu, kutebarkan jala juga” (Lukas 5:5). Ini adalah sabda sakti. “Sabda yang menggerakkan, menggairahkan, dan dijadikan pedoman dalam menggembalakan umat,” kata Mgr. Paskalis.
Petrus, kata Mgr. Paskalis, meskipun mengenal Yesus, namun tetap punya situasi batin. Ia mengajak ribuan umat yang hadir untuk mengerti situasi batin Petrus saat itu. Petrus, seorang nelayan tahu tidak ada harapan untuk menangkap ikan, karena sebelumnya, dia sudah mencobanya semalaman.

“Tapi perintah Yesus ini mengejutkan Petrus. Petrus terbuka mengikuti perintah Yesus. Di sini Tuhan membuka suatu horizon (cakrawala) baru bagi Petrus. Bertolaklah lebih dalam dan tebarkan jalamu untuk menangkap ikan,” katanya.
Sabda Yesus ini, mendobrak kesempitan pandangan manusia yang hanya melihat soal-soal hidup berdasarkan pertimbangan akal.
“Tuhan meretas kemandekkan (kebuntuan) kita dalam menjalani hidup ini. Petrus melangkah lebih dengan percaya, bukan lagi dengan pemikirannya saja, tapi dia lebih percaya dengan Sabda Yesus,” lanjutnya.

Saat Petrus taat kepada Yesus, kata Mgr. Paskalis keindahan dan kegembiraan seorang yang beriman kepada Kristus dan Gereja-Nya terjadi.
“Bersama Kristus tidak ada jalan buntu. Selalu ada jalan baru mengatasi kehidupan ini, walaupun kita tahu menjadi pengikut Yesus tidak hidup enak-enak saja. Ada jalan salib. Ada jalan penderitaan, tapi kita tidak berhenti pada itu. Saya yakin, berjalan bersama Yesus, kita pasti keluar dari kesulitan-kesulitan hidup ini,” katanya.
Lemah Namun Punya Keutamaan
Mgr. Paskalis mengajak umat yang hadir untuk memerhatikan beberapa hal. Pertama, tapakilah perjalanan kehidupan dengan bersandar pada Firman Tuhan. “Mari membaca, mendengarkan, dan melaksanakan firman Tuhan. Gereja hidup atas dasar Firman Tuhan,” katanya.
Selain Firman Tuhan, Gereja akan bertumbuh tatkala anggotanya sadar bahwa kita ini orang berdosa. Meski demikian, kata Uskup Keuskupan Bogor, kita harus sadar akan peran kita dalam Gereja, baik uskup, imam, biarawan-biarawati, maupun umat awam. “Kita punya kelemahan, tapi kita punya keutamanan,” pungkasnya.

“Tuhan memberikan kepercayaan pada Petrus, dan sampai saat ini kepercayaan itu diberikan kepada Mgr. Vinsensius. Maka mari kita sadar akan peran kita masing-masing dan kita melakukan karya pastoral (pelayanan) dalam semangat Firman Tuhan yang menggerakan kita dan bertobat dari kebiasaan yang tidak baik,” ajaknya.







Setelah homili, perayaan berlanjut ke ritus penumpangan tangan dan doa tahbisan, yang menjadi bagian terpenting dalam suatu tahbisan uskup. Lalu, pengurapan minyak krisma, penyerahan Kitab Injil, pemasangan cicin uskup, pengenaan mitra, dan penyerahan tongkat gembala.

Mgr. Avien adalah sosok imam yang dikasihi oleh semua orang. Ini karena kepribadiannya yang baik. “Dia (Mgr. Avien) adalah sosok yang sederhana. Orangnya tidak neko-neko,” kisah Yustina Muliawati, kakak kandung Mgr. Avien.

“Dari kecil dia memiliki kepedulian dan sering berbagi. Contohnya dia punya tempe. Dia sembunyikan di bawah nasi. Saat lihat adik-adiknya kehabisan lauk, dia menawarkan lauknya,” kenangnya.

Dia berharap Sang Adik dapat menjadi gembala yang baik. “Tidak memilih-milih umat, care (peduli) dengan semua umat, dan tetap rendah hati,” harap anak pertama dari sembilan bersaudara ini. ** Kristiana Rinawati
