30 Langkah Menuju Kesucian (6)

Mencintai Kristus Yang Tersalib

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)

Mencintai Kristus yang tersalib | Foto: Pinterest

Doa

“Oh, Yesusku; Engkau Tuhan dan Allahku,
Bagaimana mungkin aku bisa melupakanMu,
Bagaimana aku bisa mengasihiMu lebih dari segala sesuatu,
Oh Yesus yang menderita; oh Yesus yang penuh kasih;
Biarlah kenangan yang indah ini selalu hidup di hatiku!” Amin.

Pengajaran


Kalvari adalah Sekolah Cinta Kasih


St. Fransiskus de Sales berkata, “Puncak Kalvari adalah benar-benar sekolah cinta kasih. Yesus Tuhan yang Ilahi menyembunyikan diri di balik tembok kemanusiaanNya; luka-lukaNya menjadi seperti marmer putih yang dipahat dengan pena emas sebuah kalimat yang berbunyi: Aku mengasihimu!”

Peristiwa Salib ini jauh lebih berbicara daripada sabdaNya sendiri: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya!” (Yoh 15:13). Yesus adalah manusia yang mewartakan kepada kita bahwa Allah mencintai kita tanpa batas dan tanpa syarat: “Kita telah dibeli dengan harga yang mahal!”(1Kor 6:20).

Kristus Mempertaruhkan Hidup-Nya demi Keselamatan Kita


“Belaskasih dan keadilan adalah dua tangan Allah, tetapi belaskasih adalah tangan kananNya yang pertama bertindak untuk mencintai manusia!” (Bossuet). Kapan Allah mulai berbelaskasih? Melalui nabiNya, Ia berkata, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal!” (Yer 31:3).

Ia mengasihi kita sejak manusia diciptakan! Setiap individu yang menyadari misteri atau transcendensi hidup, akan suara hati dan kerinduan hatinya, ia tahu bahwa ia telah menerima anugerah kodrati dan rahmat dari Sang Pencipta. Anugerah itu semacam “perangkat Ilahi” yang memampukan manusia menangkap pesan dari surga sampai suatu saat ia menerima kemuliaan Allah yang akan dianugerahkanNya.


Pemberian “perangkat Ilahi” itu adalah tanda betapa Allah mencintai kita sejak kita diciptakan. Celakalah manusia yang menolak bimbingan Allah melalui dorongan kodrati itu dan menolak belaskasih yang lainnya. Ia berdosa melawan terang dunia; ia jatuh ke dalam dosa justru ketika dalam belaian kasih Allah. Ia tidak menggunakan “perangkat Ilahi” dalam tubuhnya untuk menerima bimbingan dari yang Ilahi. Kepada orang seperti ini Allah akan menggunakan tangan kiriNya (keadilan) untuk menghukumnya. Penghakiman senantiasa diperuntukkan bagi orang yang melawan Allah! Namun demikian Allah adalah tetap Bapa yang penuh belaskasih kepada ciptaanNya yang adalah anakNya itu. Kalau dia bertobat tetap ada kesempatan bagi jiwanya.

Demi Keadilan, Yesus Menderita


Manusia adalah ciptaan yang paling tinggi; bahkan disebut anak Allah. Selain belaskasih, Allah harus bertindak adil kepada siapapun. Mereka yang hidup dalam belaskasihNya tentu tidak akan dihukum. Tetapi mereka yang berdosa, yang menolak belaskasihNya harus menerima hukuman sebagai wujud keadilan Allah. Si pendosa harus dihukum.


Tetapi manusia mana yang mampu menanggung hukuman dosa? Tak seorangpun yang mampu! Yang mampu hanyalah Allah yang memanusia. Dialah Kristus. Kristus harus merendahkan diri; dia harus menderita dan wafat di kayu salib. Inilah peristiwa Allah merendahkan diri di depan Allah BapaNya. Dialah Penyelamat yang mengambil dosa umat manusia dari sejak Adam dan Hawa sampai dunia berakhir. “Allah telah menyerahkan AnakNya sendiri bagi kita semua!” (Rom 8:32).


Ia telah mengambil alih hukuman yang semestinya menimpa manusia termasuk kita. Dia mengambil tempat kita sebagai orang hukuman dan sekaligus tempat Allah yang penuh belaskasih. Dia rela dihukum sebagai wujud keadilanNya karena Dia berbelaskasih.

Dialah pengantara antara Allah dan manusia.
St Ignasius berguman: “Ketika Sang Juruselamat menderita, keilahianNya tertutup dan kesucianNya ditinggalkan untuk mengalami penderitaan yang paling kejam!” Bila kita menyadari dan merefleksikan kasih dan deritaNya itu, bisakah hati kita tak tersentuh? Bisakah hati kita tetap keras? ”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia, kita dibenarkan oleh Allah!” (2Kor 5:21).


“Lihatlah dan sadarilah betapa banyaknya bukti cinta Kristus kepada kita, Ia telah menyerahkan hidupNya kepada kita!” (St.Teresa). “Kalau kita kagum akan karya Penciptaan – betapa baiknya Dia menciptakan alam semesta untuk manusia, maka semestinya kita lebih kagum lagi tatkala merenungkan karya Penebusan – betapa luar biasanya Dia mencintai kita!” (St Bernardus).

Buket Rohani


“Betapa besar, Dia mengasihiku!”

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.