30 Langkah Menuju Kesucian (7)

Mencari Kesatuan dengan Pribadi Allah Tritunggal

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000)

Allah Tritunggal Mahakudus | Foto: Pinterest.com

Doa

“Oh, Guru Ilahiku,
Tolonglah aku untuk mengerti rahmat Baptis yang mengagumkan,
Di mana hatiku dikuduskan, Allah senantiasa bersamaku,
Penebusku tinggal di dalamku,
Dan Roh Kudus bertakta di hatiku!
Tolonglah aku ya Tuhan, dan singkapkan misteri ini” Amin.

Pengajaran


Rahmat Penebusan


St.Paulus lebih suka berbicara kebaikan daripada kemahakuasaan Allah. Kebaikan itu nyata sejak Sang Penebus turun ke bumi, dan Allah saat itu “menyatukan kita dengan diriNya melalui Kristus” (2Kor 5:18). Peristiwa Inkarnasi itu membangun kembali ikatan kasih antara Allah dan kita sebagai ciptaan pilihanNya yang sempat terputus akibat dosa Adam dan Hawa. Kita disambungkan lagi dengan setiap pribadi Allah Tritunggal. St. Bonaventura mengkalimatkan demikian, “Dengan rahmat penebusan, jiwa kita menjadi: pertama anak Bapa yang kekal, kedua mempelai Kristus, ketiga menjadi Bait Roh Kudus”.

Allah adalah Bapa Ilahi


“Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah!”(1 Yoh 3:1). Itu adalah kalimat yang mengungkapkan kelahiran baru secara kodrat. Kelahiran itu terjadi atas inisiatif Allah yang mencintai kita, dan tujuannya ialah agar kita tidak lagi menjadi hamba melainkan sahabat yang mencintai Bapa seperti Dia mencintai kita.


Tuhan Yesus selalu mengingatkan kebenaran ini kepada murid-muridNya. Dengan senang hati Dia terus-menerus mengingatkan hal itu sampai Ia berkata, “Kalian hanya mempunyai satu Bapa, yaitu Bapa yang di surga” (Mat 23:9) “Kalian harus berdoa demikian: Bapa kami….” (Mat 6:9) “Aku pergi ke BapaKu dan Bapamu!” (Yoh 20:17). Kalau “Allah adalah bapa kita, Ia pasti lebih baik daripada semua bapa di dunia!” (St Teresia). “Sungguh tidak ada orang yang seperti Bapa kita!” (Agustinus), dan Ia adalah bapa dan ibu yang ideal. Ia senantiasa mencintai dan menghibur kita seperti kata Nabi Yesaya, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu” (Yes 66:13).

Kasih kebapaan Allah ini sangat menyentuh hati manusia. Kualitas ini disebut piety. St Thomas mengatakan, “Piety adalah perasaan iman yang sempurna. Allah lebih senang, bila kita mencintaiNya sebagai Bapa daripada sebagai Pencipta. Relasi anak dan Bapa lebih sederhana dan lebih dekat serta menyentuh hati. Karena agama, kita menyembah Allah; dengan piety kita mencintai Dia dan menyembahNya tanpa henti. Agama menguduskan jiwa; piety membuat hati senantiasa ada di dalam Allah – tinggal bersamaNya. Agama menghadirkan Allah dengan para hamba yang setia; piety menghadirkan seorang anak yang mengasihi Bapanya dan senantiasa memandang Dia sebagai Bapa yang baik!”


Semestinya sifat kebapaan Allah dan keputraan kita, menuntun kita pada langkah menuju kesucian hidup, dan kita masing-masing on becoming – dalam proses menjadi Yesus yang lain (alter Christi). Selayaknya kita mencintai Kristus seperti adik mencintai kakaknya; mengasihi dengan kasih yang mendalam, intim tanpa melupakan sikap hormat yang pantas; tanpa rasa takut yang membekukan jiwa, mengecilkan hati, membuat kita tak berdaya dan yang ujungnya membuat kita tidak memiliki keyakinan diri. St. Paulus mengingatkan kita, “Kalian tidak menerima roh perbudakan lagi, tetapi roh anak angkat, di mana kita menyebut Allah “Abba ya Bapa!” (Rom 8:15).

Buket Rohani


“Betapa indahnya kita diperkenankan mencintai Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus!”

Yohanes Haryoto SCJ

One thought on “30 Langkah Menuju Kesucian (7)

Leave a Reply

Your email address will not be published.