Kristus adalah Kakak Kita dan Mempelai Jiwa
(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000)

Doa
“Oh, Guru Ilahiku,
Tolonglah aku untuk mengerti rahmat Baptis yang mengagumkan,
Di mana hatiku dikuduskan, Allah senantiasa bersamaku,
Penebusku tinggal di dalamku,
Dan Roh Kudus bertakhta di hatiku!
Tolonglah aku ya Tuhan, dan singkapkan mistei ini.” Amin.
Pengajaran

Yesus adalah ‘Kakak Tua’ Kita
St. Paulus mengatakan bahwa “Yesus lahir pertama sebelum yang lain” (Rom 8:15). Dan Penebus kita sendiri senang memanggil kita “sahabat”, Ia berkata kepada wanita di kuburan, “Pergilah katakan kepada saudaraku bahwa saya bangkit dari mati!” (Mat 28:10). “Sejak kita menjadi anak Allah, Kristus sungguh adalah kakak kita. Kita memiliki Bapa dan ibu yang sama dengan Kristus. Yesus berkata: Bapa kami yang di surga dan Ia memberikan Maria kepada kita sebagai ibu kita. Kepada Yohanes yang mewakili kita, Ia berkata, “Itu ibumu!” Ia ingin agar semua orang berada dalam satu komunitas. Dalam Dia, kita bersaudara. Bisa jadi kita masih sering “rendah diri, minder – merasa tidak pantas menjadi adik Yesus!” Tetapi Allah sungguh ingin agar kita berelasi satu sama lain dan dengan Yesus sebagai anggota keluarga. Siapa saja yang bersahabat dengan kita akan memiliki hidup baru berkat kuasa Yesus.

Kristus Mempelai Jiwa
Bossuet mengatakan: “Siapa saja yang dekat dan bersahabat dengan kita, dalam kuasa Kristus memiliki karakter baru, dan relasinya lebih mesra dan manis seperti relasi mempelai pria dan wanita yang saling mencintai. Sebagaimana mempelai yang mencintai, Kristus mencurahkan aneka rahmat, memenuhi jiwa dengan sukacita sejati, memberikan diriNya kepada kita. Ia tidak hanya memberikan apa yang Ia miliki, tetapi diriNya sendiri yang diberikan kepada jiwa sebagai mempelai yang dicintaiNya!” Tindakan memberikan diri itu seiring dengan ungkapanNya – di mana Ia sering menyebut diriNya sebagai mempelai (lihat Mat 9:15; 25:1).
Jiwa sungguh mempelai yang dicintaiNya. Yesus rindu “gayung disambut” – kita membalas cintaNya sampai kita satu pikir, satu kasih, satu kata, dan satu motivasi denganNya dalam segala hal. St Teresia berkata, “Ia ingin agar kita mencintaiNya, dan Ia mencintai kita dengan kasih yang hangat, sepenuh hati, pokoknya relasi yang biasa dinikmati oleh pasangan yang saling mencintai.” Ia minta agar kita mencintaiNya secara total dan sepenuh hati! Itulah yang harus terus-menerus kita lakukan. Yesus adalah kakak kita dan sekaligus mempelai jiwa. Praktisnya relasi kita dengan Kristus serta relasi dengan sesama berkualitas relasi dua mempelai yang saling mencintai: sederhana, lembut, sepenuh hati dan penuh dedikasi serta ketulusan.

Kita adalah Bait Roh Kudus
Tuhan dan Penebus kita berkata, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya!” (Yoh 14:16). Permintaan itu dikabulkan, yaitu dengan mencurahkan Roh Kudus kepada kita. Maka Roh Kudus adalah karunia dari Yesus untuk kita. Roh Kudus adalah “kasih Allah yang dicurahkan kepada kita” (Rom”5:5). St Paulus mengatakan bahwa Roh Kudus itu dicurahkan kepada hati kita, sehingga “tubuh kita adalah Bait Roh Kudus, dan Ia bertakhta di dalamnya!” (1Kor 3:16).
St Cyprianus mengingatkan kita, “Perhatikan dan hati-hatilah, kalian hidup sebagai Bait Roh Kudus. Setiap orang yang mencari Allah harus mampu melihat Dia ada dalam dirimu! Jangan mengecewakan mereka!”
Barangsiapa yang setiap hari menyadari kebenaran ini, ia akan menemukan sumber kesucian. Ia akan merasakan cinta Allah seperti kasih Yesus kepada BapaNya. Ia mencintai kita sebagai tempat kehadiran-Nya. Kita harus mencintai Dia karena Dia adalah Allah; karena Ia sumber kasih yang abadi. Tidak ada yang lebih indah daripada KASIH.
Kita harus mencintai dia melebihi segala sesuatu karena Dia akan mencurahkan rahmat yang berlimpah-limpah. Gereja menamai Dia dengan ungkapan yang indah, “Pemberi segala rahmat; penerang hati; penghibur yang sangat baik; tamu jiwa yang menyenangkan; kepada mereka yang setia pada kebenaran ini, Ia pasti menganugerahkan aneka keutamaan; kematian yang menyenangkan dan sukacita abadi,” kata Paus Leo XIII.
Buket Rohani
“Datang dan tinggallah dalam jiwaku, ya Roh Kudus, maka aku akan menjadi baru!”
**Yohanes Haryoto SCJ
