Ziarah merupakan salah satu tindakan konkrit untuk memanifestasikan iman dalam ranah publik dan realitas ruang waktu. Dalam sebuah perjalanan ziarah, kita secara terbuka menyatakan iman kita bahwa kehidupan kita di dunia ini sesungguhnya merupakan suatu proses peziarahan menuju ke tanah air surgawi, yang merupakan persinggahan akhir dalam hidup kita. Selain itu ziarah juga merupakan ungkapan nyata akan iman kita bahwa “Yang Ilahi telah masuk ke ruang dan waktu manusia”.

Ziarah: Ungkapan Iman
Ziarah sebagai suatu latihan rohani, sudah dikenal sejak awal mula Kekristenan. Mulanya orang gemar berziarah ke Tanah Suci, khususnya ke tempat-tempat yang berhubungan dengan sengsara dan kebangkitan Tuhan. Pendirian Basilika Makam Suci (yang oleh orang-orang Kristen Yunani disebut sebagai “Basilika Kebangkitan”) merupakan tanda akan suburnya minat untuk berziarah ke Tanah Suci pada masa lampau. Selain Tanah Suci, kota Roma juga menjadi tempat yang diminati sebagai tujuan ziarah.
Peziarahan ke Roma biasanya diarahkan ke kunjungan ke makam Rasul Santo Petrus dan Paulus, serta kunjungan ke Uskup Gereja Roma yang merupakan pengganti Petrus sebagai pimpinan Dewan Para Uskup. Yang terakhir ini biasanya dilakukan dengan mengunjungi Basilika Agung Penyelamat Mahakudus dan Santo Yohanes Pembaptis di Jalan Lateran yang merupakan Katedral Keuskupan Roma dan karena itu merupakan gereja ‘milik’ Paus sendiri. Sementara itu Basilika Santo Petrus di Vatikan adalah ‘milik’ para Patriarkh Konstantinopel. Akhirnya, peziarahan juga dihubungkan dengan Santa Perawan Maria, bahkan dewasa ini sekitar 80% dari tempat-tempat peziarahan yang ada selalu dihubungkan dengan Santa Perawan Maria, termasuk di Indonesia.

Gereja Kelahiran
Hari ini, Jumat (02/06), Magdatama Group melanjutkan ziarah untuk mengenang tahapan hidup Yesus. Memasuki gereja yang menandai tempat kelahiran Kristus itu berarti harus merunduk. Satu-satunya pintu masuk di tembok depan yang mirip benteng ini tingginya sekitar 1,2 meter. Pintu masuk sebelumnya ke Gereja Kelahiran di Bethlehem diturunkan sekitar tahun 1500 untuk menghentikan para penjarah membawa gerobak mereka masuk. Bagi orang Kristiani, tampaknya pantas untuk membungkuk sebelum memasuki tempat di mana Tuhan merendahkan diri untuk menjadi manusia.

Informasinya, gereja ini dibangun oleh kaisar Justinian pada abad ke-6 menggantikan gereja asli Constantine Agung, dibangun di atas gua yang dihormati sebagai tempat kelahiran Kristus, dan didedikasikan pada tahun 339 M.
Injil tidak mengatakan bahwa Yesus lahir di sebuah gua, tetapi ada referensi tertulis tentang gua Kelahiran sejak tahun 160 M. Bahkan saat ini di perbukitan Yudea, keluarga tinggal di rumah primitif yang dibangun di depan gua alami yang digunakan untuk penyimpanan atau untuk melindungi hewan.

Ketika Gereja Kelahiran yang asli dibangun, gua itu diperbesar untuk memberi ruang bagi para peziarah dan palungan perak dipasang. Dikisahkan pula, Orang Persia menginvasi Palestina pada tahun 614 dan menghancurkan banyak gereja. Mereka menyelamatkan Gereja Kelahiran Yesus ketika mereka melihat sebuah mozaik di dinding bagian dalam yang menggambarkan Tiga Orang Bijak dalam pakaian Persia.

Pada tahun 1482 Raja Edward IV mengirim kayu ek Inggris dan berton-ton timah untuk memperbarui atap. Pada abad ke-17 bangsa Turki menjarah timah untuk dicairkan menjadi peluru. Atapnya membusuk dan sebagian besar mosaik kaya di dinding bagian tengah hancur. Unesco memasukkan basilika ke dalam daftar situs warisan dunia pada tahun 2012.

Selain Gereja Kelahiran, juga ada situs bersejarah yakni Gua ‘Natal’. Realitas situs rohani ini Jauh dari gambar kartu Natal pada umumnya. Tempat kelahiran Kristus adalah gua batu yang remang-remang. Alih-alih bintang di atasnya. Di lantai marmer Grotto of the Nativity bertuliskan “Hic de Virgine Maria Jesus Christus natus est” (Di sini Yesus Kristus lahir dari Perawan Maria).
Padang Gembala
Gua-gua tempat para gembala ”menjaga kawanannya” masih berlimpah di daerah timur Betlehem. Injil Lukas memberi tahu kita, seorang malaikat mengumumkan kelahiran Yesus. Kabar baik malaikat tidak diberikan kepada orang yang mulia atau saleh, tetapi kepada pekerja dengan reputasi rendah. Literatur Yahudi menempatkan “gembala” sebagai salah satu pekerjaan yang paling dibenci pada masa itu, tetapi Yesus harus mengidentifikasi dirinya dengan pekerjaan ini ketika dia menyebut dirinya “Gembala yang Baik” (Yohanes 10:11).

Tradisi yang terkait dengan Ladang Gembala memiliki tiga kemungkinan lokasi sebagai versi yang berbeda. Pertama, bagian timur Beit Sahur terdapat gereja Ortodoks Yunani berkubah merah di sebuah situs yang dikenal sebagai Kaniset el-Ruat (Gereja Para Gembala). Situs ini diidentifikasikan dengan Menara Alkitab Edar (Menara Kawanan) tempat Yakub menetap setelah istrinya Rahel meninggal. Eusebius (AD 265-340) mengatakan menara, 1000 langkah dari Betlehem, menandai tempat di mana para gembala menerima pesan malaikat. Penggalian di sini telah menemukan serangkaian peninggalan yang berasal dari gereja bawah tanah abad ke-4 berlantai mosaik , yang konon dibangun oleh St Helena, ibu dari kaisar Constantine.

Kedua, punggung utara Beit Sahur, sekitar 400 meter sebelah utara situs Ortodoks, sebuah situs Katolik terletak di daerah yang disebut Siyar el-Ghanam (Tempat Pemeliharaan Domba). Kapel Malaikat berbentuk tenda, dirancang oleh arsitek Italia Antonio Barluzzi , berdampingan dengan sisa-sisa gereja abad ke-4 dan biara pertanian kemudian. Lukisan di kapel menggambarkan pengumuman malaikat kepada para gembala, para gembala memberi penghormatan kepada Yesus dan para gembala merayakan kelahiran Mesias. Di luar kapel ada gua untuk ibadah kelompok kecil. Daerah ini dikelola oleh Fransiskan.
Ketiga, Ke arah timur dari gereja Yunani dan Katolik adalah Lapangan padang rumput yang dipenuhi pohon pinus. Di sini pusat rehabilitasi YMCA berisi gua-gua besar dengan sisa-sisa tembikar.

Gua Susu
Situs ini berada di dalam gereja Milk Grotto Chapel. Tidak jauh di selatan Gereja Kelahiran di Bethlehem terdapat sebuah kuil yang disebut Gua Susu, di jalan dengan nama yang sama. Sebuah gua tidak beraturan yang dilubangi dari batu putih lembut, situs ini suci bagi peziarah Kristen dan Muslim. Ini terutama sering dikunjungi oleh ibu baru dan wanita yang sedang mencoba untuk hamil. Dengan mencampur kapur putih yang lembut dengan makanan mereka, dan berdoa kepada Our Lady of the Milk, mereka percaya itu akan meningkatkan jumlah susu mereka atau memungkinkan mereka untuk hamil.

Deretan surat berbingkai dan gambar bayi yang dikirim dari seluruh dunia ke Gua Susu membuktikan keefektifan “susu bubuk” dan doa. Menurut tradisi, ketika Maria dan Yusuf melarikan diri dari tentara Herodes dalam perjalanan mereka ke Mesir, mereka berhenti di gua ini sementara Maria merawat bayi Yesus. Setetes susu Maria jatuh di atas batu dan batu berubah menjadi putih.

Dikisahkan bahwa Para Fransiskan mendirikan sebuah gereja di sekitar Milk Grotto pada tahun 1872. Orang-orang Betlehem dan pengrajin lokal mengungkapkan kecintaan mereka pada situs tersebut dengan mendekorasi kuil dengan ukiran mutiara. Pada tahun 2007 sebuah kapel modern yang didedikasikan untuk Bunda Allah dibuka. Itu terhubung ke gereja Milk Grotto melalui sebuah terowongan, yang memungkinkan penambahan kapel lebih lanjut di ruang bawah tanah.

Berziarah di tempat seputar kelahiran dan masa kanak-kanak Yesus, kita diajak untuk berrefleksi. Kepergian para gembala ke Betlehem secara tegas dan nyata dapat menggambarkan suatu ziarah hidup iman yang sesungguhnya. Bahwa sejak dari semula Tuhan yang telah memberikan kita kabar sukacita tentang kelahiran-Nya senantiasa mengharapkan agar kita bersedia meluangkan waktu, memberi diri untuk sebuah perjumpaan, berjumpa dengan Dia. Dia yang dalam kesederhanaan dan kemiskinan, tidak hanya lahir di kandang hina dan dibaringkan dalam palungan hewan, tetapi Sang damai sejati itu lahir dan dibaringkan juga dalam setiap hati yang mau datang dan berjumpa. Hati yang mau menyapa, hati yang sesudah perjumpaan itu lalu bersukacita dan berkobar mewartakan bahwa telah lahir baginya Kristus Tuhan.

Maka kita pun boleh berjumpa dengan Maria, Yosef dan Yesus itu tidak harus jauh-jauh karena mereka hadir dalam keluarga-keluarga kita, hadir dalam hidup kita; asalkan kita mau mengalami perjumpaan itu. Mau meninggalkan kesibukan dan kesenangan pribadi untuk merasakan hangatnya Ia terbaring dalam hati yang damai dan penuh kasih, hati yang dihiasi pengampunan dan persaudaraan, yang merasa senasib dengan kita. Pengalaman perjumpaan itu harus memberanikan kita untuk mewarta kabar keselamatan, kabar sukacita, bahwa Ia telah menjadi manusia dan tinggal bersama kita.
Kini Betlehem adalah sebuah hati, dan sebuah perjumpaan dengan Maria, Yusuf dan sang bayi natal, Yesus sang Juruselamat kita, dapat dialami dalam doa dan perayaan sakramen Gereja. Kini kita patut bersyukur dan gembira, Betlehem itu adalah keluarga-keluarga kita yang mengalami juga kelahiran-Nya yang membawa sukacita. Saatnya kita berani menjadi saksi-Nya mewarta kabar sukacita melalui kebaikan-kebaikan kita. Kesaksian yang tak jarang harus melintasi “via dolorosa”.




Via Dolorosa
Via Dolorosa adalah sebuah jalan di Kota Yerusalem Kuno. Jalan ini diyakini adalah jalan yang dilalui Yesus sambil memanggul salib menuju Kalvari. Jalur yang berkelok-kelok dari benteng Antonia ke arah barat menuju Gereja Makam Kudus, berjarak sekitar 600 meter. Rute tersebut didirikan pada abad ke-18 berdasarkan peristiwa penyaliban Yesus pada abad ke-1 M, tetapi signifikansinya bagi orang beriman melintasi batas ruang dan waktu hingga saat ini.

Saat ini ditandai dengan 14 Stasiun Salib, lima stasiun terakhir terletak di dalam Gereja Makam Suci. Empat belas stasiun di sepanjang jalan ini menandakan peristiwa yang disebutkan dalam Perjanjian Baru dan tradisi Katolik. Bagi sebagian besar peziarah biasanya akan berhenti di masing-masing dari 14 Stasiun Salib untuk berdoa dan refleksi. Kami pun melakukan hal demikian dengan cara melakukan devosi Jalan Salib.

Via Dolorosa merupakan lambang kasih Tuhan kepada manusia. Yesus telah menunjukkan jalan yang seharusnya dilalui oleh para pengikutnya. Melalui ketaatan Yesus sampai mati di kayu salib, manusia memperoleh penebusan dihadapan Tuhan. Nilai terdalam yang dapat dipelajari adalah sikap kemartiran beralaskan Kasih.
Via dolorosa adalah tujuan hidup Kristus! Ia datang untuk masuk dalam “jalan penderitaan”. Suatu tujuan yang tentu sangat berbeda dengan manusia pada umumnya. Jika kebanyakan dari manusia berusaha dan berjuang untuk menghindarkan diri dari salib dan penderitaan, Kristus justru sebaliknya. Kemuliaan-Nya terpancar melalui salib dan penderitaan, yang secara implisit mencerminkan hakikat mendasar dari iman kristiani.

Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang baru, sudah jauh-jauh hari Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup Kristen yang sejati itu tidak lepas dari salib dan penderitaan (Mat. 16:24). Karena tidak ada mahkota tanpa salib. Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan di dalam Kristus, maka Via Dolorosa bukan hanya rute yang dilalui Kristus, namun juga rute perjalanan iman kita. Kekristenan yang sejati akan selalu melalui rute jalan ini, via dolorosa.
Jalan salib kehidupan pada akhirnya bermuara pada iman, yakni suatu usaha konkrit untuk menunjukkan perbuatan-perbuatan (Yak 2:14-26) berkualitas yang dihasilkan oleh permenungan atas perlawanan terhadap penderitaan. Sebuah penerimaan yang kreatif, bukan untuk memujanya, melainkan untuk mengubahnya menjadi jalan pembebasan. Itulah sebabnya, Salib Yesus tidak berhenti pada pemakaman, melainkan berakhir di peristiwa kebangkitan.

Iman akan kebangkitan berarti menghidupkan komitmen membangun kehidupan bermartabat yang membebaskan manusia dari cengkeraman ketidakadilan, kelaliman dan ketamakan, menciptakan kehidupan yang aman, damai dan sejehtera. Yesus sudah menunjukkan jalan, mari kita berani melaluinya.

Gereja Makam Suci
Gereja Makam Suci (Gereja Makam Kudus) yang dalam bahasa Latin dituliskan sebagai Sanctum Sepulchrum dan dalam bahasa Inggris Church of the Holy Sepulchre adalah gereja Katolik di Kota Lama Yerusalem. Gereja makam suci ini adalah tempat suci dan paling dihormati dalam agama Katolik.
Gereja makam suci berdiri di Kota Tua Yerusalem yang bertembok kokoh juga luas. Gereja ini menjadi tujuan peziarahan sejak abad ke-4, sebagai tempat wafat dan kebangkitan Yesus. Situs ini dipercaya oleh banyak orang sebagai Golgota, tempat di mana Yesus disalibkan dan kubur Yesus yang kosong, di mana dikatakan Ia pernah dikuburkan, tetapi kemudian bangkit dari kematian. Gereja tersebut dibangun saat situs penyaliban, makam, dan kebangkitan Yesus, telah dilindungi oleh dua keluarga Muslim Palestina, yaitu Nuseibeh dan Joudeh selama lebih dari 1.000 tahun.


Gereja Makam Kudus didirikan pada abad ke-4 oleh umat Kristen di Yerusalem, saat Sultan Saladin merebut Yerusalem dari tentara Salib pada 1187 lampau. Dia memerintahkan dua keluarga Muslim yang menjadi penjaga gereja, yakni keluarga Al-Husseini Joudeh dan keluarga Nuseibeh. Hingga saat ini, keluarga Al Husseini memegang kunci gerbang gereja, sedangkan keluarga Nuseibeh bertugas membuka dan menutup pintu gereja. Gereja tersebut digunakan oleh enam denominasi kuno, Katolik Roma, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Ortodoks Suriah, Ortodoks Etiopia, dan Ortodoks Koptik. Setiap mazhab memiliki biarawan yang bermukim di kompleks gereja.

Arsitektur gedung gereja menggunakan model arsitektur kubah. Arsitektur tersebut umum digunakan di bangunan gereja dan masjid di seluruh penjuru Tanah Suci Tiga Agama Samawi. Model arsitektur kubah tersebut pada awalnya adalah milik gereja Ortodoks Bizantium yang kemudian dilestarikan oleh Islam pada saat tentara Islam merebut wilayah-wilayah politik Kekaisaran Bizantium pada abad ke-VII Masehi. Bangunan tersebut dikelola bersama oleh beberapa komunitas Gereja Kristen Tradisional seperti Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Ortodoks Siria, dan Gereja Ortodoks Etiopia.
Dalam bangunan gereja suci ini terdapat beberapa makam dari tokoh penting seperti Raja Baldwin VI yang meninggal disebabkan karena sakit kusta pada usia yang masih muda. Baldwin adalah keturunan Geofrey dari Boillon, salah seorang pejuang pertama dalam Perang Salib Pertama. Ribuan umat Kristiani dari seluruh penjuru dunia mengunjungi Gereja ini untuk mengenangkan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, terutama dalam Perayaan Jumat Agung dan Minggu Paskah setiap tahun.

Gereja Makam Suci terletak di Yerusalem. Gereja ini dipercaya sebagai tempat penyaliban serta makam Yesus atau Nabi Isa. Ribuan peziarah dari seluruh dunia mendatangi tempat ini. Uniknya, juru kunci dan penjaga gereja tersebut bukanlah berasal dari umat Nasrani. Sejarah mencatat setelah penaklukan pemimpin Muslim atas Yerusalem pada 1187, meletus perselisihan di antara denominasi Kristen terkait siapa yang harus memegang kunci serta membuka dan menutup pintu gerbang gereja. Kesepakatan pun diambil, dua keluarga Muslim dipercaya untuk menjaga Gereja Makam Suci untuk mencegah perselisihan lebih lanjut.


Keluarga Joudeh dan Nusseibeh yang berasal dari Kota Yerusalem sudah berbagi tanggung jawab selama berabad-abad. Keluarga Joudeh bertugas sebagai pemegang kunci gerbang Gereja Makam Suci. Sementara keluarga Nusseibeh bertanggung jawab untuk membuka gerbang serta memberikan izin peziarah untuk masuk dalam gereja.
Keluarga Joudeh sudah memegang kunci tersebut selama beberapa generasi. Kunci yang telah berusia 500 tahun tersebut mempunyai panjang 12 inci dengan pegangan logam segitiga. Sementara kunci yang berusia 850 tahun sudah lama rusak setelah digunakan berabad-abad. Di rumahnya, Joudeh menyimpan foto kakek serta kakek buyutnya yang pernah memegang tugas tersebut. Selain itu, keluarganya juga menyimpan kontrak bersejarah yang menganugerahkan pekerjaan ini kepada keluarganya. Menurut Joudeh, tugas tersebut adalah warisan keluarga.

Sementara, keluarga Nusseibeh bertugas untuk membuka pintu gerbang serta mengizinkan umat kristiani untuk masuk ke dalam gereja. Saat Nusseibeh tiba di gereja pada pagi hari, ia kemudian mengambil kunci dari Joudeh dan menaiki tangga untuk membuka kunci atas. Nusseibeh kemudian turun dari tangga untuk membuka kunci yang lebih rendah. Dia membuka pintu gereja untuk para peziarah. Semua proses tersebut dilakukannya dari pagi hingga malam hari dan kemudian gereja kembali dikunci.

Sebuah kisah menarik yang memiliki pesan perihal toleransi. Hal ini juga membuat arti kemartiran, sebuah kesaksian hidup yang saling menjaga dan menghormati. Kendati tak viral atas rutinitas buka tutup pintu gereja, namun di sana tersimpan hal vital guna terbitnya kedamaian.

Martir Zaman Now Mampu Membedakan antara Viral dan Vital
Berziarah ke tempat ini, kita disapa untuk kembali menghidupi semangat kemartiran. Menjadi saksi iman di zaman ini, bukan yang penting viral namun hal vital yang pantas diutamakan. Ingat, viral belum tentu vital. Era teknologi yang semakin canggih membuat manusia seolah-olah tidak bisa lepas dari gadget. Media sosial menjadi model interaksi modern bagi manusia. Ada saja hal-hal yang ingin kita bagikan ke sebanyak mungkin orang, teman media sosial kita. Perilaku demikian seakan-akan mencipta paradigma baru bahwa yang viral pasti benar, yang viral pasti vital (penting). Masa kini, dibutuhkan kecerdasan dalam bermedia-sosial. Jangan menjadi orang bodoh yang membagikan hal-hal bodoh di media sosial; yang berakibat membodohi banyak orang yang menerimanya. Inilah locus baru zaman ini untuk bersaksi tentang iman kekatolikan. Kemartiran di era teknologi.
Membaca kata “viral”, biasanya jari ingin segera klik dan melihat. Begitupun dengan kata “viralkan”, pengen segera men-share di kanal medsos yang dimiliki. Mengapa kita begitu gandrung dengan kata “viral”. Ada apa dengan kata viral? Kata viral secara etimologis berarti penyebaran penyakit disebabkan virus. Namun sejak era 90-an, kata viral masuk ke ranah marketing dan internet. Di tahun 1996, Jeffrey Rapport, seorang profesor di Harvard Business mencetuskan konsep viral marketing. Seperti virus, kini berita, info kesehatan atau kecelakaan, sampai info gempa bumi cepat tersebar. Bahkan perihal iman kekatolikan pun demikian pula. Informasi yang kian berlimpah, mudah aksesnya, dan murah beban datanya bersliweran di internet via sosmed/grup chat.
Guna mempercepat peredaran informasi, banyak pihak kini menggunakan kata viral. Berikut beberapa sebabnya. Pertama, persepsi kita pada kata viral bersifat deterministic: kita meyakini berita ini baru, tersebar cepat dan aktual. Kedua, dalam kata viral ada kebaruan/aktual. Keaktualan berita adalah esensi penting produk jurnalistik selain factual. Ketiga, kadang dalam keviralan ada keanehan. Keempat, tak dapat disangkal, berita viral demi mendulang klik sebanyak-banyaknya. Jadi, secara linguistik, kata viral mengalami peyorasi. Maknanya yang dulu sempit dan spesifik untuk persebaran penyakit dari virus. Kini kata ini menjadi diksi penting dunia informasi teknologi untuk menarik minat klik, like, dan share.

Uraian tadi semakin mempertegas bahwa viral tidak sama dengan benar. Viral tidak sama dengan vital, alias esensial dan penting menyangkut inti kehidupan manusia. kita sebagai pengguna media sosial kerap kali cepat mempercayai apa yang sedang viral, tanpa menguji kebenarannya. Seolah-olah apa yang sudah beredar dan terkenal pasti benar dan vital.
Tingginya angka pengguna internet dan media sosial yang bermentalitas demikian, dapat menjadi ladang subur untuk menyebar-luaskan hoax (kebohongan). Indonesia sendiri telah mempunyai Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang memiliki tujuan untuk melindungi masyarakat Indonesia dari kejahatan digital dan pencurian data di internet. Dengan adanya hukum yang menaungi, seharusnya pengguna internet dapat dengan bijak menyampaikan pendapatnya dan apa yang di share (dibagikan).
Mari bijaksana dalam ber-media sosial. Sebelum share atau membagikan sesuatu, belajarlah untuk mempertimbangkan faedah dan kebenaranya. Jika itu berkaitan dengan kebencian, kekesalan, dan kemarahan, urungkan niat untuk membagikan di medsos. Jika ada kabar yang kita belum tahu pasti kebenarannya, lebih baik tahan diri untuk membagikannya. Karena itu juga sangatlah berbahaya. Mungkin bisa jadi viral, tapi belum tentu benar. Kesalahan informasi bisa mengakibatkan kerugian materi bahkan jiwa.
Menjadi martir masa kini berarti menjadi pengguna medsos yang benar untuk memviralkan hal yang benar. Jadilah pengguna medsos yang bijak untuk memviralkan hal yang vital. Barangkali pola ini membuat ada tak viral bahkan sunyi sepi bagai makan. Namun percayalah dari makan suci, Kristus bangkit untuk melakukan yang vital yakni menebus dosa dunia. Semoga jiwa kemartiran kita pun dilandaskan pada yang vital, bukan sekedar yang penting viral.
**Widhy

Luar biasa. Terimakasih byk ya Romo utk ceritanya