75 Tahun Panti Asuhan Rumah Yusup: Wadah Pembinaan Karakter Kemanusiaan dan Militansi Iman

Panti Asuhan Rumah Yusup sering disingkat dengan kata PARY. Bunyi kata ini mengingatkan orang (khususnya Jawa) dengan sebuah tumbuhan yang dekat dengan manusia, bahkan menjadi sebuah kebutuhan pokok sehari-hari orang Indonesia, yakni Pari (bhs. Jawa); Padi (bhs. Indonesia).

Salah satu filosofi Jawa mengatakan, “Ngelmu pari tansaya isi tansaya tumungkul” (semakin berisi, semakin merunduk). Filosofi ilmu padi yang ditunjukkan dalam pitutur ini menegaskan pentingnya sikap rendah hati agar tidak jatuh dalam sikap sombong. Ibarat biji padi, ketika biji padi tumbuh semakin besar maka posisi dari padi tersebut akan merunduk. Hal ini menandakan padi mempunyai isi yang berkualitas dan besar, namun dia selalu melihat ke bawah. Maknanya, jika kita semakin memiliki banyak ilmu, maka hendaklah selalu memupuk sifat kerendahan hati.

Romo Ignatius Wahyudi

PARY beralamat di Jln. Kol. Burlian, Desa Pusar Baturaja, kini telah berusia 75 tahun. Perayaan puncak digelar dengan acara sarasehan dan Misa Syukur pada 01-02 Juli lalu. Tema yang diangkat adalah Duc In Altum (Bertolak lebih dalam). Sebuah tema yang senada dengan filosofi pari (padi) tadi; semakin berumur hendaknya semakin rendah hati.

“Seperti perintah Yesus kepada Simon Petrus ‘Duc In Altum’ untuk bertolak jauh ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala untuk menangkap ikan…” (bdk. Luk 5:4), saya merenungkan bahwa di usia 75 tahun ini, Panti Asuhan Rumah Yusup diajak untuk bertolak lebih dalam. Peristiwa ini menjadi kesempatan yang baik melihat dan merefleksikan kembali karya agung Tuhan yang dinyatakan melalui para pendiri Panti Asuhan Rumah Yusup,” kata RD Ignatius Wahyudi.

Ia mengatakan, meski banyak tantangan dan perjuangan yang begitu sulit, tidak terbersit sedikitpun para romo pendiri untuk mengakhiri karya agung ini hingga saat ini. “Di bawah naungan St. Yusup, sebagai bapa pelindung PARY, para pendamping pun menimba inspirasi agar kami mampu menjadi Bapa Yusup di zaman ini, untuk hadir dengan sepenuh hati dan penuh kasih,” kata Romo Ignas.

Menurutnya, selama 75 tahun PARY berdiri, pasti banyak melahirkan alumni yang berkualitas, memberi warna dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yang sekaligus menjadi harapan bagi PARY di usia 75 ini, semakin berkualitas dalam pendampingan bagi anak-anak yang membutuhkan.

“Berani untuk bertolak jauh lebih dalam, membenahi diri, dengan melanjutkan misi yang dihidupi oleh para pendiri,” urai RD Ignastius Wahyudi, Direktur Panti Asuhan Rumah Yusup Baturaja.

RD Ignas mengatakan, Keuskupan Agung Palembang (KAPal) menetapkan tahun 2023 sebagai Tahun Syukur. Bapa Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, mengajak umat mensyukuri anugerah iman yang diwariskan oleh para pendahulu, khususnya para missionaris.

“Bersama KAPal, Panti Asuhan Rumah Yusup (PARY) merayakan perayaan syukur 75 tahun. Melalui PARY, Gereja Katolik hadir meneruskan amanat Yesus, yakni menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Salah satunya adalah menjadi penolong sesama yang “lemah”, baik secara material maupun secara spiritual,” kata Romo Ignas.

Ia mengatakan bahwa kehadiran PARY di tanah Baturaja menjadi bukti bahwa Gereja Katolik KAPal sungguh peduli akan masalah sosial.

“Kehadiran PARY adalah sebuah sejarah peradaban manusia seperti yang sudah dirintis oleh pendahulu sampai sekarang,” jelas Imam Projo KAPal kelahiran Bangunsari, 3 April 1992, ini. **

RD Widhy

Leave a Reply

Your email address will not be published.