“Literasi Digital: Makin Cakap Digital!” Slogan ini menggema di Christosophia Catholic Center Medan, Minggu (06/08). Bukan tanpa alasan literasi ini digelar. Pesatnya perkembangan di dunia digital tidak bisa dibendung. Berbagai urusan menjadi mudah. Namun, ada juga dampak negatif yang ditimbulkan.
“Risiko penipuan online, cyber bullying, dan hal-hal negatif lainnya. Oleh karena itu, penggunaan media digital harus dibekali literasi, agar (masyarakat) dapat menggunakan media digital dengan lebih baik lagi,” kata Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc., M.M.

Tentang penggunaan media sosial, Romo Antonius Gregorius Lalu, sekretaris eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengatakan, “Kita semua harus menjadi tuan-tuan dan puan-puan dari teknologi. Dalam sinode para uskup, kami mau berjalan bersalma, bekerja sama dengan pihak pemerintahan dengan Aptika Kominfo, untuk menggelar literasi digital ini,” jelasnya.

Era Revolusi Industri 4.0 & Society 5.0
Saat ini, kata Dr. Relita Buaton, S.T., M.Kom., kita berada di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0.
“Era revolusi industri 4.0 trennya digital internet dan sistem cerdas. Revolusi industri secara fundamental mengubah cara hidup,” kata ketua STMIK Kaputama Binjai, yang menjadi narasumber pertama siang itu.
Selanjutnya, dia mencontohkan bagaimana dulu, cara manusia berkomunikasi: menulis surat, mengirimkannya ke kantor post, dan harus menunggu beberapa saat, baru sampai. Sementara di jaman ini, informasi dikirimkan begitu cepat.
Tentang era society 5.0, ia menjelaskan bahwa pusat hidup manusia jaman ini adalah teknologi.
“Bagaimana agar kita bisa cakap digital? Mulai saja dulu. Bagaimana mulai? Gunakan media sosial: Tiktok, Youtube, facebook. Jangan lagi melarang anak menggunakan media sosial. Karena lewat media itulah kita dapat memperoleh pengalaman, pembelajaran di sana,” himbaunya.
Perkembangan digital, menurut Relita Buaton, harus diimbangi dengan skill pengguna. “Skill baru garus dibangun. Supaya bisa digital, harus mulai dengan internet. Mulai dengan sosial media. Artificial intelligence membantu kita.”
Selain menjadi pengguna aktif internet, pengembangan skill juga mencakup kemampuan soft skill pembuatan konten.
“Lingkungan yang terus berubah, menuntut kita untuk cepat beradaptasi. Kita harus berubah dengan yang pinter masak, dia (juga) harus pinter motret. Kalau kita bisa masak, harus pinter motret apa yang kita masak. Harus pintar juga memasarkan,” kata Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si., narasumber kedua.

Waspada Kejahatan Media Digital
Ignatius Haryanto S.Sos., M.Hum., memaparkan bahwa kita harus bijak menggunakan media sosial. Bijak dalam arti, durasi akses media sosial tidak berlebihan dan waspada hoax atau berita bohong yang sangat mungkin terjadi. Ia mencontohkan bagaimana modus penipuan (phishing) yang marak terjadi di media sosial WhatsApp, di mana banyak penipu yang mengirim link berbentuk undangan digital, resi pengiriman belanja online, maupun pranala atau link.
“Maka yang harus dilakukan adalah bersikap kritis, tidak mudah percaya begitu saja,” katanya. Intinya, kita tidak boleh langsung mengakses link yang dikirimkan ke kita.
Tentang keamanan data, baik di media sosial maupun di handphone, ia menyarankan kepada sekitar 200an peserta seminar yang hadir untuk menggunakan password yang sulit. “Jangan menggunakan tanggal lahir, mudah ditebak,” katanya.
Ia juga menyarankan penggunaan two factor verification atau otentifikasi dua tahap, sehingga begitu data kita akan diretas, ada pemberitahuan dalam bentuk verifikasi, yang melindungi data kita.
Literasi digital: Cerdas dan Bijak dalam Bermedia Sosial yang adalah hasil kerjasama Kominfo, KOMSOS KWI dan KOMSOS Keuskupan Agung Medan ini mengawali rangkaian rapat KOMSOS Regio Sumatera yang akan berlangsung hingga 9 Agustus mendatang.
** Kristiana Rinawati
