Madah Kristus Jaya menggema mengiringi barisan panjang para petugas liturgi, imam, dan uskup. Mereka berarak ke depan altar Gereja Katolik Paroki Katedral Santa Maria Palembang Kamis sore (07/03). Misa Krisma memahkotai Hari Studi Imam. Lebih dari 60 orang imam yang berkarya di Keuskupan Agung Palembang berkumpul di Gereja Katedral Santa Maria Palembang sore itu. Selain imam, hadir pula hampir 100 umat yang adalah awam dan religius selibat.

Ada dua peristiwa penting yang terjadi dalam Misa Krisma, yang biasanya diselenggarakan di pekan suci. Pertama, pemberkatan tiga minyak suci yang akan dipakai para imam untuk mendatangkan Roh Kudus atas umat Allah. Ketiga minyak itu adalah OS atau OC (Oleum Catechumenorum atau Oleum Sanctorum) yaitu minyak katekumen, SC (Sacrum Chrisma) yaitu minyak krisma, dan OI (Oleum Infirmorum) yaitu minyak orang sakit. Kedua, pembaruan janji imamat yang diikrarkan para imam dalam persatuan dengan uskup.
Mgr. Yohanes Harun Yuwono yang memimpin perayaan ini mengingatkan umat akan makna kehadiran Roh Kudus. Dia memulai homilinya dengan ilustrasi cerita. “Seseorang menulis kritik tentang kotbah pastor di medsos. Dia mengatakan, ‘Saya sudah ke gereja 30 tahun. Selama itu, mungkin sudah 3.000 kotbah yang saya dengarkan. Sekarang saya sadari, tak satu kotbahpun saya ingat. Saya kira, sia-sia kita ke gereja. Sia-sia jugalah para pastor berkotbah’,” kisahnya.
Berbagai macam komentar di sosial media pun dituai atas postingan itu. Banyak yang setuju, namun jemari berhenti mengetik, tatkala membaca satu komentar tanggapan. Isinya begini, “Saya sudah menikah 30 tahun. Saya sudah makan 10.920 kali masakan istri saya. Itu kalau dia masak sehari sekali. Tak satupun menu yang saya ingat. Tapi saya tahu, dia menghidupi saya. Andai dia tidak masak untuk saya, tentu saya sudah mati.”

Uskup Harun mengatakan, memang idealnya seorang imam Katolik mampu berkotbah seperti Yesus, di mana semua mata orang tertuju pada-Nya. “Namun nyatanya, kalau kami berkotbah, semua mata merem,” katanya disambung tawa umat yang hadir.
Diapun melontarkan pertanyaan, mengapa mata semua orang memandang kepada Yesus, saat dia berkotbah. Padahal, kotbah Yesus pun bukan hal baru.
“Karena Yesus menghidupi Roh Tuhan yang ada pada-Nya dengan penuh kesadaran. Dan karena itu, apa yang Dia lakukan dan katakan, sungguh ambil bagian dalam keseluruhan keberadaan kehendak Allah. Karena ambil bagian dalam keberadaan Allah inilah, hidup-Nya menghadirkan Allah.”
Ini karena Yesus adalah Allah. Namun sebagai manusia, Yesus tetap menjalankan kehendak Allah, kendati ia harus menderita dan wafat di salib. Bagaimana dengan para imam dan umat?
Uskup Agung mengatakan kalau Roh Kudus pun ada dalam diri umat waktu mereka dibaptis dan menerima Krisma. Roh Kudus sekali lagi mengurapi para imam, saat mereka ditahbiskan.

“Kita semua orang terurapi. Seharusnya kita sehati dan sepikir, menjadi pembebas mereka yang terbelenggu dari golongan dan bangsa apapun,” katanya.
Karena Roh Kudus mengurapi kita, kata bapak uskup, maka kita tidak boleh berlaku seperti orang yang dipenuhi roh setan. “Jaman sekarang, kehadiran kita dan kesaksian hidup kita semakin relevan di dunia yang merajarelanya begal, korupsi, kekerasan, human trafficking (perdagangan manusia). Orang yang diurapi Roh Allah menjauhi semuayang bernuansa kekerasan, baik fisik maupun psikologis,” pungkasnya.
Ia mengajak umat Allah memberikan kesaksian Roh Allah, dengan memperjuangkan nilai-nilai persaudaraan, kebaikan, keadilan, dan kejujuran.
“Orang yang tidak jujur terhadap sesama dan Tuhan, menyangkal Tuhan yang telah mengurapinya dengan Roh Kudus-Nya.”
Kepada para imam yang membarui janji imamat, dia berpesan agar tetap setia. “Tetaplah setia mengajar umat, walaupun kita banyak kelemahan dan tantangan. Roh Kristus ada pada Anda. Hidupilah dengan penuh kesadaran. Marilah kita tak jemu-jemunya berbuat baik terhadap sesama seperti Yesus,” tutupnya.
**Kristiana Rinawati

One thought on “Hidupilah Roh Kudus Jangan Roh Setan!”