
Senin (17/2) lalu, para peserta SIGNIS Indonesia menginjakkan kaki di Bumi Sriwijaya. Di Kota Pempek ini, sejumlah 30 peserta dari berbagai daerah mengadakan Rapat Anggota SIGNIS Indonesia ke-51. Usai misa pembuka bersama Mgr. Yohanes Harun Yuwono, mereka disambut dengan Tari Tanggai khas Palembang untuk menyambut tamu.
Selain untuk mengadakan pertemuan, rapat anggota ini juga memperluas wawasan para peserta SIGNIS Indonesia dalam hari studi. Pada hari Selasa (18/2), sesi pertama hari studi dipaparkan oleh Dr. Hendro Setiawan, dosen STT (Sekolah Tinggi Teologi) Sriwijaya Palembang. Beliau membawa tema “SIGNIS Indonesia Menabur Harapan Ditengah Tantangan Zaman.”
Para anggota SIGNIS dapat memberi pengharapan kepada umat melalui media komunikasi Katolik di zaman teknologi yang semakin modern seperti AI, Quantum Computing, Robot, metaverse dan Biotechnology. Di era ini, manusia semakin menjadi satu dengan teknologi. Namun, penggunaan teknologi ini dapat memberi pengaruh terhadap relasi manusia. Manusia menjadi semakin individualis, egois, dan mengalami krisis identitas.
“Adanya gadget sendiri sudah memuaskan individualisme sehingga mengabaikan relasi antar sesama, bahkan dengan Tuhan. Kita memilih pertemanan yang dapat memenuhi kebutuhan dan rasa individualisme,” ucap penulis buku ‘Manusia Utuh’ ini.
Pria keturunan Tionghoa ini juga menyampaikan bahwa individualisme bisa mengakibatkan bunuh diri, aborsi, semakin maraknya LGBT, fenomena kaum muda yang tidak mau menikah dan child free.
“Mengutip buku Nexus, banyak informasi yang tidak dicerna dengan baik dan hanya memuaskan ego. Hal ini membuat egoisme semakin meningkat tetapi membuat SQ (Spiritual Quotient) semakin menurun. Makin banyak pengetahuan informasi tetapi tidak ada kerangka yang menyatukan. Hal ini akan membuat orang semakin bingung,” tutur Hendro.
Dengan individualisme yang kuat, orang-orang semakin kehilangan makna hidup. Manusia meninggalkan sekularisme dan kembali pada agama, tapi tidak menghayati agamanya dengan benar. Agama hanya dianggap sebagai pemenuhan krisis identitas.
“Orang bukan mencari yang tulus, tetapi apa yang memuaskan diri. Ini sebuah gelombang yang besar yang dihadapi oleh seluruh umat manusia.”
Lebih lanjut, mantan ketua LP3KD Palembang ini mengatakan bahwa egoisme, individualitas, krisis identitas mengarah pada Toxic Faith. Karena Individualisme begitu kuat, maka ini menjadi tugas bersama seluruh umat. Maka, salah satu jalan yang dapat dipilih adalah membangkitkan harapan yang baik melalui media-media Katolik. Hal ini dilakukan agar orang-orang yang memiliki krisis identitas dan kehilangan makna hidup mendapatkan kembali pengharapan.
“Peziarah Pengharapan di Dunia Komunikasi Sosial”

Sesi kedua dipaparkan oleh Romo Agoeng Noegroho, Pr dengan tema “Peziarah Pengharapan di Dunia Komunikasi Sosial.” Para anggota SIGNIS diajak untuk berkaca pada tahun Yubelium dan pesan gereja agar setiap pribadi mengalami pembebasan akbar dan pengampunan secara umum, serta membangun kembali relasi bersama dengan Tuhan.
Romo Agoeng juga mengatakan bahwa harapan adalah sebuah keharusan bagi orang Katolik, orang yang memiliki pengharapan hidup, dan hidup secara berbeda dengan memiliki hidup yang baru.
Pekerja media komunikasi Katolik mesti menerima dan melihat kepentingan tugas perutusan. Selain itu, fokus dan mencintai tugas yang diemban juga menjadi poin penting yang perlu ditanamankan dalam diri.
“Seperti Daud yang seorang gembala, kita adalah orang biasa yang diutus oleh Tuhan sehingga mampu menumbangkan Goliath, yang dalam hal ini adalah tantangan-tantangan dalam dunia teknologi dan komunikasi.”
** Kristina Yuyuani Daro
