“Rendah Hati”

Mengenal Bapa Lewat Hati yang RendahFr. April

Rendah Hati | Foto : Pinterest

Renungan Singkat: Matius 11:25-27

Dalam Injil Matius 11:25–27, kita mendengar doa syukur Yesus yang amat menyentuh hati. Ia memuji Bapa karena telah menyembunyikan hal-hal ilahi dari orang bijak dan pandai, namun mewahyukannya kepada orang kecil. Ini bukan sekadar kontras antara yang pintar dan bodoh, melainkan ajakan untuk merenungkan sikap hati. Orang “bijak dan pandai” di sini menunjuk pada mereka yang merasa cukup, yang mengandalkan kemampuan diri dan menutup hati terhadap karya Allah. Sebaliknya, “orang kecil” adalah mereka yang bersikap rendah hati, terbuka, dan menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah.

Yesus kemudian menyatakan bahwa semua telah diserahkan kepada-Nya oleh Bapa. Dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya. Pernyataan ini sangat dalam. Yesus menegaskan bahwa relasi-Nya dengan Bapa adalah relasi yang unik, penuh kasih dan keintiman, dan bahwa hanya melalui Dia, kita dapat mengenal Allah Bapa secara sejati. Pengakuan ini bukan hanya ajaran teologis, melainkan undangan personal untuk menjalin relasi dengan Yesus, supaya kita pun mengenal Bapa.

Dalam dunia yang semakin mementingkan pencapaian, logika, dan kekuatan intelektual, sabda Yesus ini menjadi panggilan untuk kembali kepada sikap anak kecil: rendah hati, percaya, dan terbuka pada bimbingan Roh Kudus. Kita mungkin memiliki banyak pengetahuan agama, fasih berbicara tentang iman, tetapi tanpa hati yang sederhana dan doa yang tulus, pengetahuan itu bisa menjadi hambatan untuk sungguh mengenal Allah.

Hari ini, marilah kita bertanya dalam hati: Apakah aku sudah membuka diriku sepenuhnya kepada Yesus, sehingga Dia dapat menyatakan Bapa kepadaku? Apakah aku masih terlalu mengandalkan pemikiranku sendiri, ataukah aku mau belajar menjadi kecil di hadapan Allah?

Dengan hati yang rendah dan penuh syukur, marilah kita mendekat kepada Yesus. Sebab hanya Dia jalan kepada Bapa. Dalam Dia, kita menemukan bukan hanya pengetahuan, tetapi hidup yang sejati.

Mari bermenung, Tuhan memberkati.

**Fr. Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.