Yes. 65:17-21; Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b; Yoh. 4:43-54; BcO Im. 16:2-28.

PERCAYA SAJA
Saudara-saudara terkasih, pernahkah kita merasa sangat cemas hingga sulit memejamkan mata? Entah karena masalah ekonomi, kesehatan, atau keretakan dalam keluarga, ada saat-saat ketika beban hidup terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Dalam situasi seperti itu kita sering merasa tak berdaya. Kisah dalam Injil hari ini tentang seorang pegawai istana mengingatkan kita bahwa bahkan orang yang memiliki jabatan dan kekayaan pun bisa mengalami kerapuhan yang sama. Ketika anaknya sakit keras, ia menyadari bahwa semua kekuatan duniawi tidak mampu menolongnya. Pada saat itulah ia datang mencari Yesus.
Hal yang menarik dalam kisah ini adalah cara Yesus menolongnya. Yesus tidak datang ke rumahnya, tidak menumpangkan tangan, bahkan tidak melakukan tindakan yang tampak luar biasa. Ia hanya berkata, “Pergilah, anakmu hidup.” Bayangkan jika kita berada di posisi pegawai istana itu. Mungkin kita akan memohon agar Yesus datang langsung, atau meminta tanda yang lebih meyakinkan. Namun justru di situlah iman diuji: apakah kita berani percaya hanya pada sabda Tuhan.
Pegawai istana itu memberi teladan yang indah. Ia percaya pada perkataan Yesus dan pulang ke rumahnya. Ia berjalan tanpa bukti di depan mata, tetapi hatinya sudah dipenuhi harapan karena memegang janji Tuhan. Sering kali kita justru melakukan kebalikannya: kita ingin melihat hasil terlebih dahulu baru percaya. Padahal iman yang sejati adalah keberanian untuk tetap melangkah meskipun jawaban Tuhan belum terlihat.
Menariknya, mukjizat itu ternyata terjadi tepat pada saat Yesus mengucapkan sabda-Nya, meskipun si ayah baru menyadarinya kemudian. Ini menjadi penghiburan bagi kita semua: Tuhan mendengar doa kita sejak saat pertama kita berseru kepada-Nya. Walaupun kita belum melihat perubahan, Tuhan sudah mulai bekerja dalam cara yang sering kali tidak kita sadari.
Pada akhirnya, peristiwa itu bukan hanya membawa kesembuhan bagi anak pegawai istana, tetapi juga membawa seluruh keluarganya kepada iman. Dari sini kita belajar bahwa kesulitan hidup kadang menjadi jalan yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Mari kita belajar untuk tidak hanya mencari mukjizat-Nya, tetapi sungguh mencintai Dia yang memberi mukjizat. Semoga Tuhan senantiasa menguatkan iman kita dan memberkati langkah hidup kita semua.
**Fr. Ignasius Seda-Tingkat I
Foto: Pinterest
