Renungan Harian Jumat, 13 Maret 2026

Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34; BcO Kel. 35:30-36:1; 37:1-9; (U)

Tuhan menjagamu.

Hidup yang Dibarui

Saudara-saudari terkasih, suatu sore Pak Budi duduk melamun di teras rumahnya. Ia merasakan kehampaan yang aneh di dalam hatinya. Padahal selama masa Prapaskah ini ia merasa telah menjalankan pantang dan puasa dengan sangat disiplin, hampir tanpa cela. Namun anehnya, ia justru merasa semakin mudah marah kepada bawahannya di kantor dan kurang sabar menghadapi istrinya di rumah. Ia merasa telah memberikan “kurban” besar kepada Tuhan melalui rasa lapar dan haus, tetapi jiwanya tetap terasa gersang.

Dalam lamunannya itu Pak Budi mulai menyadari sebuah kekeliruan. Ia begitu sibuk menjalankan aturan-aturan iman, tetapi lupa untuk benar-benar “pulang” kepada Tuhan sebagai pribadi. Pantang dan puasanya berubah menjadi ritual yang kering karena ia lebih fokus pada piring yang kosong daripada hati yang dipenuhi kasih. Ia rajin berpuasa, tetapi pelit dalam memberi maaf. Ia tekun berdoa, tetapi kurang peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitarnya.

Perlahan Pak Budi menyadari bahwa Prapaskah bukanlah perlombaan untuk menahan diri dari makanan, melainkan kesempatan untuk memperluas kapasitas hati. Ia pun mulai mengubah arah hidupnya. Ia belajar lebih sabar mendengarkan keluh kesah rekan kerjanya dan membawa suasana yang lebih lembut ke dalam keluarganya. Dari sana ia merasakan bahwa imannya mulai hidup kembali dan tindakannya perlahan memancarkan kebaikan.

Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini Yesus mengingatkan kita tentang perintah yang paling utama: mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dengan jelas Yesus menegaskan bahwa kasih jauh lebih utama daripada segala kurban bakaran dan persembahan. Tanpa kasih, praktik keagamaan kita mudah berubah menjadi rutinitas yang kosong.

Karena itu, makna terdalam dari Prapaskah adalah perubahan hati—dari hati yang kaku menjadi hati yang mampu mengasihi. Pantang dan puasa seharusnya membantu kita menjadi lebih peka, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama. Maka hari ini, marilah kita mencoba satu tindakan kasih yang nyata, terutama kepada orang yang selama ini sulit kita ampuni atau kita abaikan. Dengan cara itulah kita semakin dekat dengan Kerajaan Allah. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Natalius Alan Dwi Putra Sihombing-Tingkat I

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.