“Hidup Bebas demi Allah”

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara secara terus terang kepada para murid-Nya tentang penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya. Ini adalah pewartaan tentang salib yang akan segera Ia pikul, suatu bentuk ketaatan dan penyerahan total kepada kehendak Bapa. Namun menariknya, perikop ini langsung dilanjutkan dengan kisah tentang pajak Bait Allah. Ketika Petrus ditanya apakah gurunya membayar pajak, Yesus menjawab bahwa sebenarnya, sebagai Anak Raja dalam hal ini Anak Allah, Ia sebenarnya bebas. Namun, demi tidak menjadi batu sandungan, Yesus tetap memilih untuk “membayar”, bahkan dengan cara yang Ajaib yaitu dengan memerintahkan Petrus untuk memancing dan mengambil uang dari mulut ikan.
Pesan rohaninya sangat dalam: Yesus menunjukkan bahwa kebebasan sejati bukan untuk digunakan semaunya, melainkan untuk melayani dan membangun keharmonisan. Ia tidak terikat oleh kewajiban hukum manusia, tetapi Ia taat demi kasih dan damai. Di sinilah kebijaksanaan kasih dinyatakan: rela melepaskan hak demi kebaikan bersama.
Sikap inilah yang juga sangat nyata dalam diri Santa Klara dari Assisi, yang kita peringati hari ini. Sebagai wanita bangsawan, Klara memiliki segala hak istimewa duniawi. Namun ia melepaskan semuanya untuk hidup miskin dan bersatu dengan Kristus yang miskin, mengikuti jejak Santo Fransiskus. Klara menunjukkan bahwa kekudusan bukanlah tentang kekuasaan atau kemegahan, tetapi tentang kerendahan hati, pelayanan, dan penyerahan diri total kepada kehendak Allah.
Klara juga seperti Yesus dalam Injil hari ini, ia memilih hidup dalam kemiskinan dan ketergantungan total kepada Allah. Ia bebas, tetapi ia memilih untuk mengikatkan diri pada Kristus. Hidupnya menjadi kesaksian bahwa kebebasan sejati ditemukan bukan dalam memiliki banyak hal, tetapi dalam melepaskan diri dari keterikatan dunia demi mencintai Allah dengan sepenuh hati.
Marilah kita belajar dari Yesus dan Santa Klara: untuk tidak melekat pada hak, gengsi, atau ego. Sebaliknya, mari kita gunakan kebebasan kita untuk melayani, mencintai, dan menjadi berkat, bahkan ketika itu berarti melepaskan sesuatu yang menurut dunia berharga. Dalam melepaskan, kita justru menerima rahmat yang lebih besar: hidup dalam Allah.
Tuhan memberkati.
** Fr. Bednadetus Aprilyanto
