Halloween atau All Saints Day?

Happy All Saints Day!! Selamat Hari Raya Semua Orang Kudus. Yups, kita, orang Katolik tidak merayakan Halloween, tapi kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus atau yang di barat dikenal dengan sebutan All Saints Day, All Hallows’ Day atau Hallowmas.

Tapi, tapi istilah All Hallows’ Day bukannya sama dengan Halloween? Wait, wait! Ayo kita cari perbedaan antara keduanya. Hallow, dalam bahasa Inggris Kuno, artinya holy atau sacred, yang kalau di terjemahkan dalam Bahasa Indonesia artinya suci.

Karena itu, istilah Halloween atau Hallows’ Eve, arti sebenarnya adalah malam orang-orang kudus. Ini mengacu pada malam sebelum perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus. Trus, bedanya apa dengan Halloween jaman dulu dan Halloween yang sekarang dirayain orang-orang modern?

Yuk kita liat satu-satu. Halloween berasal dari sebuah tradisi Celtic Day kuno Samhain, sebuah festival Gaelik yang menandai akhir musim panen dan awal musim dingin. Ciri khasnya mereka akan menghidupkan api unggun. Api dipercayai punya kekuatan pelindung.

Festival Samhain

Nah, Samhain adalah festival ambang batas, batas antara dunia ini dan dunia lain. Jika batasnya menipis, Aos Sí atau ‘roh’ akan lebih mudah masuk ke dunia kita. Konon, Aos Sí ini adalah dewa kafir. Maka dari itu, mereka yang merayakan Samhain, mempersembahkan makanan dan minuman, agar ‘roh’ dari alam lain itu tidak ngamuk dan manusia bisa selamat. Samhain secara historis terjadi di Irlandia, Skotlandia, dan Isle of Man (read: Sauin).

Pantheon

Then, apa hubungannya dengan Hari Raya Semua Orang Kudus? Well, you know, Gereja Perdana selalu mendapat penganiayaan, sehingga begitu banyak yang menjadi martir saat itu. Gereja Katolik memberikan hari-hari khusus untuk menghormati mereka. Misalnya, pada tahun 607, Kaisar Phocas mempersembahkan Kuil Pantheon Romawi kepada Paus Bonifasius IV.

Paus Bonifasius IV lantas memindahkan patung-patung dewa kafir dan menguduskan Pantheon bagi Perawan Maria dan semua martir yang meninggal dalam kurun waktu 300 tahun pertama, sesudah Kristus, tepatnya pada 13 Mei tahun 609 M.

Di abad-abad berikutnya, Hari Semua Orang Kudus ini menggeser waktu perayaannya oleh Paus Gregorius III menjadi tanggal 1 November, yang kita tahu, 1 November berasal dari tradisi Celtic Day kuno Samhain.

The next question is: apakah Hari Raya Orang Kudus sama dengan perayaan Samhain?

Tentu tidak sama! Pada Hari Raya Semua Orang Kudus, Gereja merayakan mereka yang sudah berada dalam kebahagian abadi di surga. Siapa mereka? Mereka adalah para kudus, yang ada dalam kanon Gereja Katolik. You know, they are santo-santa yang sangat familiar, yang namanya kita sandang saat kita dibaptis. Juga, semua orang Kristen yang sudah berbahagia di surga, yang namanya mungkin tidak tercatat dalam kanon Gereja.

Kalau dalam perayaan Samhain, mereka memberi makan ‘roh’ agar tidak mengganggu manusia, maka Hari Raya Semua Orang Kudus not like that. Mereka yang sudah berbahagia di surga, seturut Tradisi Gereja, senantiasa mendoakan kita di hadapan Allah. Selain memohon doa, kita juga meneladan kesetiaan iman mereka kepada Kristus dan Gereja-Nya.

The last, apakah perayaan Halloween jaman now sama dengan old Halloween or All Saints Day?

Well, lumrahnya, anak-anak jaman sekarang hanya merayakan Halloween sebagai suatu party, yang maknanya tidak begitu jelas. But, bagi kita orang Katolik, tidak ada yang namanya Halloween seperti itu, tapi kita memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus. **

Kristiana Rinawati (diolah dari berbagai sumber; Photo: Pinterest)

Leave a Reply

Your email address will not be published.