INFO JPIC Gelar Pertemuan Tahunan di Palembang: Berdamai dengan Segenap Ciptaan

“Keserakahan dan kerakusan membuat alam dirusak dengan dalih eksplorasi. Apa yang tadinya ilegal justru dilegalkan, sementara rakyat sekitar tidak pernah merasakan manfaat nyata”.

Demikian disampaikan oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Pastor Yohanes Kristianto dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi Pembuka Pertemuan INFO JPIC 2025 yang digelar di Rumah Retret Giri Nugraha Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (19/8/2025) silam. Tampak hadir sebagai konselebran antara lain, Dekan Dekanat Palembang, Pastor Hyginus Gono Pratowo; Ketua JPIC, Pastor Fridus Derong OFM; dan Sekretaris JPIC, Pastor Pionius Hendi OFMCap.

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Pastor Yohanes Kristanto memimpin perayaan ekaristi

INFO JPIC merupakan singkatan dari Inter-Franciscans for Justice, Peace, and Integrity of Creation, yaitu sebuah forum komunikasi dan kerja sama antar tarekat Fransiskan dalam semangat untuk memperjuangkan keadilan, menegakkan perdamaian, dan merawat bumi sebagai rumah bersama. JPIC bukan sekadar program atau departemen di dalam Gereja, melainkan spiritualitas hidup yang terwujud dalam cara pandang, cara merasa, dan cara bertindak.

Agenda tahunan yang berlangsung pada 19–25 Agustus 2025 ini diikuti sekitar 70 orang peserta, terdiri dari biarawan-biarawati yang hadir mewakili 23 Tarekat Fransiskan di Indonesia. Perjumpaan ini mengusung tema utama, yaitu 800 Tahun Kidung Segenap Ciptaan: Berdamai dengan Segenap Ciptaan.

Lebih lanjut, Pastor Kristianto mengajak peserta untuk melihat kondisi bangsa yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ia menyoroti gaya kepemimpinan bangsa yang dianggap arogan, penuh kepentingan pribadi, dan jauh dari nilai-nilai Pancasila.

Para romo dan umat yang hadir dalam pembukaan INFO JPIC di Palembang

Imam yang pernah berkarya di Paroki St. Petrus dan Paulus Baturaja ini juga mengungkapkan keprihatinannya tentang penegakan hukum di Indonesia yang kerap tajam ke bawah namun tumpul ke atas dan mudah dimanipulasi demi keuntungan kelompok tertentu. Hal lain yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius adalah adanya kesenjangan sosial yang semakin menganga, dan praktik perdagangan manusia yang makin terstruktur.

“Kita dipanggil untuk menemukan kembali Allah dalam segenap ciptaan dan bertanggung jawab menyelamatkan Ibu Pertiwi. Indonesia sedang tidak baik-baik saja, namun selalu ada harapan bila kita berani bertindak,” tegas Pastor Kristianto.

Pertobatan Ekologis dan Inspirasi Fransiskus

Ada berbagai macam kegiatan yang dilakukan dalam pertemuan ini, seperti rekoleksi, seminar, diskusi tematik, sharing antar-regio, malam seni, dan kunjungan budaya. Namun, secara khusus perjumpaan para Fransiskan ini sekaligus menjadi kesempatan istimewa untuk merayakan 800 tahun Kidung Segenap Ciptaan (Il Cantico delle Creature) yang ditulis oleh Santo Fransiskus dari Asisi pada tahun 1225, di San Damiano. Di tengah penderitaan fisiknya, syair yang indah ini ia tuliskan sebagai kidung untuk memuji dan memuliakan Allah. Kidung ini juga mengingatkan manusia bahwa seluruh ciptaan adalah saudara, bukan objek eksploitasi.

Rangkaian Kegiatan seputar INFO JPIC di Palembang

Refleksi bersama atas warisan spiritual Santo Fransiskus dari Asisi itu menegaskan kembali pentingnya melakukan pertobatan ekologis, yakni perubahan pola hidup yang lebih peduli terhadap bumi. Hal ini sejalan dengan hasil rekomendasi Temu Pastoral Regio Sumatera di Nias yang menekankan 4 poin utama, salah satunya tentang pertobatan ekologis. Pertobatan ini tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan dalam langkah konkret, mulai dari aksi kecil individu hingga gerakan bersama yang nyata.

**Sr. M. Valentine FCh

Foto: Panitia INFO JPIC

Leave a Reply

Your email address will not be published.