Hal Berpuasa

Saudara-saudari terkasih, pada hari ini kita mendengarkan dialog antara Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat mengenai puasa. Mereka membandingkan kebiasaan murid Yohanes yang berpuasa dengan murid Kristus yang tidak melakukannya. Menghadapi pertanyaan itu, Yesus memberikan jawaban yang menegaskan makna sejati dari puasa, sekaligus melunakkan hati dan pikiran yang keras sehingga mampu memahami maksud yang sebenarnya.
Sering kali orang memandang puasa hanya sebatas tidak makan dan tidak minum dalam jangka waktu tertentu. Namun, Yesus mengingatkan bahwa puasa lebih dari itu. Puasa adalah jalan untuk menyadari bahwa manusia sungguh bergantung pada Allah dan merindukan kehadiran-Nya. Melalui puasa, kita diajak merenungkan hidup kita setiap hari—dalam sikap, perkataan, maupun tindakan. Karena itulah Yesus menegaskan bahwa bagi para murid yang sedang bersama-Nya, saat itu memang belum waktunya untuk berpuasa, sebab segala yang biasanya dicari melalui puasa sudah mereka temukan dalam diri-Nya.
Yesus ingin mengajak orang Farisi, ahli Taurat, dan juga kita semua untuk masuk ke dalam makna puasa yang sejati. Puasa bukan hanya meninggalkan makanan, melainkan kesiapan untuk hidup dalam kebaruan: berani meninggalkan yang lama, melangkah ke hidup yang baru, dan membuka hati tanpa menghakimi.
Sebagai murid Kristus, kita pun diajak untuk menyadari dasar panggilan kita, yakni kerendahan hati. Puasa adalah doa yang hidup sekaligus wujud kerendahan hati, yang menegaskan bahwa kita sepenuhnya bergantung pada kuasa dan kasih Allah. Dengan berpuasa, kita memohon anugerah, pencerahan, pengampunan, dan sukacita, sehingga kita semakin mengenal diri sendiri dan semakin peka akan kehadiran Tuhan yang setia mendampingi perjalanan hidup kita.
Marilah kita bersama-sama memohon berkat Tuhan, agar iman dan hidup kita selalu diperbarui, sehingga tetap segar, penuh daya, menghasilkan buah, dan menjadi berkat bagi banyak orang. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Delho Sinaga
Tingkat 2- Calon imam KAPal
