Dalam Audiensi Umum pada Rabu, Paus Leo XIV menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi tragis yang terus berlangsung di Sudan, khususnya di wilayah Darfur. Ia menegaskan bahwa banyak warga sipil, terutama di kota El Fasher, terjebak dalam kelaparan dan kekerasan akibat konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.
Paus menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera membuka koridor kemanusiaan dan memberikan bantuan bagi ratusan ribu orang yang menderita akibat perang, kelaparan, dan wabah kolera. “Saya dengan tulus memohon kepada para pihak yang bertanggung jawab dan kepada komunitas internasional agar segera memberikan tanggapan terkoordinasi untuk menghentikan bencana kemanusiaan ini,” tegasnya.

Selain itu, Paus juga mengingat para korban bencana alam di Sudan. Longsor besar yang dipicu banjir di Pegunungan Marra, bagian timur Sudan, menewaskan lebih dari seribu orang pekan ini. Ia mengajak umat berdoa bagi mereka yang meninggal maupun yang kehilangan tempat tinggal. Mengakhiri pesannya, Paus menekankan pentingnya jalan diplomasi. “Saatnya memulai dialog yang serius, tulus, dan inklusif di antara pihak-pihak yang berkonflik, demi mengakhiri peperangan dan mengembalikan harapan, martabat, serta perdamaian bagi rakyat Sudan,” ungkapnya.
Paus Leo XIV Doakan Ribuan Korban Banjir Bandang dan Longsor di Darfur, Sudan
Paus Leo XIV mengajak seluruh umat untuk mendoakan para korban banjir bandang dan longsor dahsyat di wilayah Darfur, Sudan, yang menewaskan lebih dari seribu orang. Dalam pesannya yang disampaikan dalam bahasa Inggris, Paus menekankan bahwa bencana ini meninggalkan “rasa sakit dan keputusasaan,” sementara wabah kolera kini mengancam ratusan ribu orang yang sudah lelah karena konflik dan kelaparan.

“Saya sangat dekat dengan rakyat Sudan, khususnya keluarga, anak-anak, dan para pengungsi. Saya berdoa bagi semua korban, dan saya meminta kalian semua untuk bergabung dalam doa bagi mereka yang terdampak longsor di Pegunungan Marra,” ujarnya. Paus juga memohon damai abadi bagi mereka yang telah meninggal serta penghiburan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan, sambil menegaskan, “Bahkan di tengah tragedi, semoga kita tidak pernah kehilangan harapan akan kasih Allah.”
Konteks Perang di Sudan
Sudan masih dilanda perang saudara yang pecah sejak April 2023 akibat perebutan kekuasaan antara militer Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces. Konflik ini telah menewaskan hingga 150.000 orang dan membuat sekitar 12 juta orang mengungsi.
Menurut organisasi kemanusiaan, krisis ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia, dengan 30 juta orang memerlukan bantuan mendesak. Rumah, sekolah, dan rumah sakit hancur, sementara layanan dasar lumpuh. Lebih dari 680.000 orang kini berada dalam kondisi rawan pangan yang ekstrem.
Ibu kota Darfur Utara, El Fasher, berada dalam pengepungan dan terpapar wabah kolera mematikan. Kota Kadugli di Kordofan Selatan dan El Obeid di Kordofan Utara juga mengalami situasi serupa, sementara PBB mengaku kesulitan mengirim bantuan.
Kedua belah pihak dalam konflik dituduh melakukan pelanggaran hukum internasional, termasuk kejahatan perang berupa pemerkosaan, penyiksaan, hingga pembunuhan warga sipil.
**Oleh Linda Bordoni
Foto: Vatican News dan Google
Diterjemahkan dan disadur ulang oleh Fr. Bednadetus Aprilyanto
