Renungan Harian 6 September 2025

Rendah Hati

Murid Yesus memetik gandum | Foto: Pinterest

Saudara-saudari terkasih, bacaan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa aturan-aturan, termasuk tentang hari Sabat, sesungguhnya dimaksudkan untuk kebaikan manusia, khususnya mereka yang lemah, miskin, dan tertindas. Aturan iman seharusnya menjadi jalan menuju kebaikan, bukan beban yang membelenggu.

Dalam Injil kita dengar bagaimana orang-orang Farisi menegur Yesus dan para murid-Nya karena mereka memetik dan memakan bulir gandum pada hari Sabat. Mereka berkata, “Mengapa kamu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Tetapi Yesus menjawab dengan tegas, mengingatkan mereka akan kisah Daud yang memakan roti persembahan di Bait Allah—yang sesungguhnya hanya boleh dimakan imam—dan membagikannya juga kepada para pengikutnya. Yesus menutup dengan pernyataan penuh kuasa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Dengan kata lain, hukum Sabat tidak boleh menjadi aturan kaku yang menindas, melainkan sarana menuju keselamatan dan kebebasan sejati.

Aturan iman hanya bermakna bila dijalankan dalam kasih. Kasih tidak mengenal batas dan tidak memilih-milih siapa yang patut dibantu. Sayangnya, orang Farisi terjebak dalam kesombongan rohani dan iri hati, sehingga menjadikan aturan sebagai alat untuk menghakimi Yesus, bukannya sebagai jalan untuk memahami kehendak Allah.

Melalui Injil ini kita diajak untuk melihat segala sesuatu dengan mata kasih dan hati yang rendah. Kasih sejati harus nyata dalam tindakan konkret, terutama dalam membantu sesama yang menderita. Kita juga diingatkan agar tidak memaksakan cara beriman kita kepada orang lain, sebab iman sejati tumbuh dalam kebebasan dan keterbukaan pada kasih Allah.

Maka, marilah kita belajar rendah hati: tidak mudah curiga, tidak gampang menghakimi, dan selalu siap menghidupi kasih sebagaimana diteladankan Yesus. Belajarlah dari teladan orang Samaria yang penuh belas kasih, yang rela menolong tanpa memandang siapa yang ditolong. Inilah kehendak Kristus: agar kita menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan nyata melalui perhatian, kepedulian, dan pertolongan bagi sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Firgilius Firmus Klau

Tingkat 1- Calon imam KAPal

Leave a Reply

Your email address will not be published.