Membuka Diri

Saudara-saudari terkasih, sering kali kita merasa mampu mengatur hidup ini dengan rencana dan kekuatan kita sendiri. Namun, bacaan hari ini mengingatkan bahwa pikiran manusia itu rapuh, rencana kita mudah goyah. Hanya Roh Allah yang sanggup menunjukkan jalan yang benar. Betapa sering kita mengalaminya: ketika segala usaha sudah dicoba, ketika perhitungan kita gagal, barulah kita sadar bahwa tanpa Tuhan hidup kita kehilangan arah. Karena itu, yang kita butuhkan bukan sekadar kepintaran, melainkan kebijaksanaan dari Allah, agar hidup berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Seperti ungkapan lama mengatakan: “Homo proponit, sed Deus disponit” — manusia boleh merencanakan, tetapi Allah yang menentukan.
Surat Rasul Paulus kepada Filemon juga menyentuh hati kita. Paulus tidak memerintah dengan otoritas keras, melainkan berbicara dengan kelembutan kasih. Ia meminta Filemon menerima Onesimus, budaknya yang telah kembali, bukan lagi sebagai budak, tetapi sebagai saudara. Inilah kekuatan kasih Kristus: meruntuhkan tembok pemisah dan mengubah cara kita memandang sesama. Jika Kristus sungguh hadir di hati kita, kita tidak lagi menilai orang lain dari status atau kedudukannya, melainkan melihatnya sebagai saudara yang sama-sama dikasihi Allah. Alangkah indahnya bila kasih seperti ini menjadi dasar kehidupan kita dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat. Maka, kita pun diajak membuka hati dan pikiran untuk menghadirkan kasih itu dalam kehidupan nyata.
Namun, Yesus dalam Injil memberi syarat yang tidak mudah: siapa yang mau menjadi murid-Nya harus berani mengutamakan Dia di atas segalanya. Artinya, kita diajak mencintai Kristus lebih daripada harta, kenyamanan, bahkan diri kita sendiri. Mengikuti Kristus memang tidak selalu ringan, sebab ada salib yang harus dipikul. Tetapi salib itulah yang menjadi jalan menuju kebebasan sejati. Salib yang dahulu melambangkan kehinaan, kini—karena kasih Yesus—menjadi lambang keselamatan, kasih, dan kehidupan baru bagi umat-Nya.
Saudara-saudari, hati kita semua mendambakan kedamaian dan kebahagiaan sejati. Bacaan hari ini menyingkapkan kuncinya: membuka diri pada kebijaksanaan Allah, membiarkan kasih Kristus mengubah cara kita melihat sesama, dan berani mengutamakan Yesus di atas segalanya. Jika kita sungguh melakukannya, kita akan menemukan damai sejati, kasih yang murni, dan hidup yang penuh arti di dalam Dia.
**Fr. Tinon Bayu Dirgantara
Tingkat 5- Calon imam KAPal
