Berbahagia dalam Kemiskinan di Hadapan Allah

Saudara-saudari terkasih, dalam perikop Injil hari ini Yesus menyampaikan Sabda Bahagia dengan cara yang mendalam dan penuh tantangan. Ia mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kekayaan, status sosial, atau kesenangan duniawi, melainkan pada sikap hati yang benar di hadapan Allah.
Yesus berkata, “Berbahagialah, hai kalian yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 6:20). Mengapa Yesus menyebut orang miskin sebagai yang berbahagia? Apakah orang miskin sungguh merasa bahagia dengan keterbatasan yang mereka alami? Untuk menjawabnya, kita bisa menengok Seruan Apostolik Evangelii Gaudium No. 197, di mana Paus Fransiskus menegaskan bahwa hati Allah memiliki tempat istimewa bagi orang miskin.
Seluruh sejarah keselamatan ditandai dengan kehadiran orang kecil. Yesus sendiri lahir dalam kesederhanaan, dibesarkan dalam keluarga sederhana, dan memilih untuk hadir bagi mereka yang miskin, tertindas, dan tersingkir. Ia bahkan menyamakan diri-Nya dengan mereka: “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan” (Mat 25:35). Dengan demikian, orang miskin sungguh berbahagia karena Allah sendiri berpihak pada mereka dan menjanjikan Kerajaan-Nya bagi mereka.
Bagi kita sebagai umat beriman, sabda bahagia ini mengajarkan bahwa kita semua pada dasarnya adalah “miskin” di hadapan Allah. Kita selalu membutuhkan kasih dan rahmat-Nya, sebab hanya Allah yang mampu memenuhi hidup kita. Maka, marilah kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, percaya pada penyelenggaraan-Nya, dan dengan rendah hati mengakui bahwa tanpa Dia kita tidak sanggup apa-apa.
Semoga pada akhirnya kita pun layak mendengar sapaan Yesus yang penuh penghiburan itu: “Berbahagialah, hai kalian yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah.” Semoga Tuhan memberkati kita semua.
** Fr. Romualdus Dwi Saputra
Tingkat 2- Calon imam KAPal
