PW St. Andreas Kim Tae-gon dan Paulus Chong Hasang
1 Timotius 6:13–16; Mazmur 100:2–5; Lukas 8:4–15;
BcO: 2 Raja-raja 15:1–5,32–35; 16:1–8; (M)
Penabur yang Setia

Saudara-saudari terkasih, bacaan Injil hari ini mengetengahkan kepada kita kisah Yesus yang mengajar menggunakan perumpamaan penabur. Pada pagi-pagi buta itu keluar dari rumahnya dan mulai menaburkan benih. Benih yang ditabur itu ada yang jatuh di pinggir jalan, ada yang jatuh di tanah yang berbatu, ada yang jatuh juga di tanah yang bersama duri, dan yang keempat, benih itu jatuh di tanah yang subur. Ia tentu berharap benih yang ditaburkan itu akan tumbuh subur dan akhirnya menghasilkan panen berlimpah.
Dalam dunia pertanian kiranya ada dua faktor utama yang menentukan agar benih bisa tumbuh, yakni kualitas benih dan kondisi tanah. Selain dua hal itu, tentu cuaca atau iklim juga menjadi salah satu faktor penting yang mendukung berhasilnya penanaman benih dengan hasil buah yang melimpah.
Yesus mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menabur kebaikan, kesaksian hidup, dan kasih karena setiap tindakan dan perkataan kita adalah benih yang akan tumbuh dan menghasilkan buah. Kita harus fokus pada bagaimana “tanah yang baik” mengerti, menyimpan, dan menghasilkan buah dalam ketekunan dan berani menabur kasih, sukacita, persaudaraan di hati dan tanah yang tepat, serta berserah pada kekuatan Tuhan untuk menumbuhkan benih itu hingga berbuah menjadi berkat bagi banyak orang lain, seperti pohon yang menghasilkan banyak biji untuk tumbuh menjadi pohon berikutnya.
Melalui Sabda Yesus hari ini kita juga dihantar kepada suatu kesadaran pentingnya refleksi, melihat dan memeriksa diri kita dengan teliti. Dalam hidup sehari-hari ada banyak tawaran dunia yang akan membuat kita tidak berakar dan bertumbuh, seperti benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu. Refleksi yang sungguh dapat mengarahkan kita pada suatu kesadaran untuk menjalani kehidupan yang lebih baik pantas dihadapan-Nya. Orang bijak pernah berkata, sebab hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dijalani.
Marilah kita membuka hati untuk menjadi lahan yang subur agar benih-benih kebaikan yang ditaburkan dalam diri kita tumbuh dan berkembang dengan subur. Kita diajak supaya menjadi tanah yang subur. Berani membuang “batu-batu” keraguan, mencabut “semak duri” yang mengganggu, dan membuka diri kita sepenuhnya untuk hidup seturut kehendakNya, mengusahakan supaya semakin banyak benih menemukan tanah yang baik dan tidak membiarkannya tinggal di tanah gersang/lahan yang beronak duri. Hal ini bisa kita mulai dari diri kita dan dalam keluarga kita masing-masing.
Fr. Antonius Vianto Jefri Ansa R.G
Tingkat 1-Calon imam KAPal
