Renungan Harian Senin, 22 September 2022

Ezra 1:1–6; Mazmur 126:1–6;

Lukas 8:16–18; BcO: Yesaya 3:1–15; (H)

Menjadi Pelita

Menjadi pelita bagi yang lain| Foto: Pinterest

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, bacaan-bacaan hari ini mengajak kita merenungkan karya Tuhan yang luar biasa dalam hidup umat-Nya. Dalam Kitab Ezra, kita mendengar kisah yang sungguh menakjubkan tentang bagaimana Tuhan menggerakkan hati Raja Koresh dari Persia untuk membebaskan bangsa Israel dari pembuangan di Babel. Bayangkan, setelah 70 tahun hidup dalam penderitaan dan kerinduan akan tanah air, tiba-tiba datang kabar gembira bahwa mereka boleh pulang dan membangun kembali Bait Allah di Yerusalem.

Dalam Injil Lukas, Yesus memberikan kita perumpamaan yang sangat sederhana namun mendalam tentang pelita. Dia berkata bahwa tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau meletakkannya di bawah tempat tidur. Tujuan pelita adalah untuk menerangi, memberikan cahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Begitu juga dengan kita sebagai murid Kristus. Setelah mengalami kasih dan kebaikan Tuhan, setelah merasakan pembebasan dari “pembuangan” seperti bangsa Israel, kita tidak boleh menyimpan berkat itu untuk diri sendiri.

Kita boleh bertanya diri, Sudahkah kita menjadi pelita yang menerangi lingkungan kita? Ataukah kita justru menyembunyikan terang itu karena berbagai alasan – mungkin karena malu, takut dianggap munafik, atau merasa belum cukup baik untuk menjadi teladan? Yesus mengajarkan bahwa pelita harus diletakkan di atas kaki dian supaya semua orang yang masuk dapat melihat terangnya. Artinya, iman kita, kasih kita, kebaikan kita, harus nampak dan bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, menjadi pelita yang menerangi bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Di rumah, kita bisa menjadi sumber kedamaian dan kasih bagi keluarga. Di tempat kerja, kita bisa menjadi pribadi yang jujur, pekerja keras, dan membantu rekan kerja yang kesulitan. Di lingkungan masyarakat, kita bisa menjadi warga yang peduli dan siap membantu tetangga yang membutuhkan. Semua ini adalah cara kita meletakkan pelita di atas kaki dian, bukan menyembunyikannya.

Akhirnya, seperti bangsa Israel yang dipulihkan Tuhan dari pembuangan, kita pun terus mengalami pemulihan dan pembebasan dalam hidup kita melalui kasih Kristus. Dan seperti pelita yang harus menerangi, kita dipanggil untuk membagikan terang itu kepada dunia yang sering kali masih gelap karena kebencian, ketidakadilan, dan ketidakpedulian. Mari kita berdoa agar Roh Kudus memampukan kita mendengar sabda Tuhan dengan hati yang terbuka, dan memberikan kita keberanian untuk menjadi pelita yang bersinar terang di tengah dunia ini. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita.

Fr. Clementio Simanullang

Tingkat 4-Calon imam KAPal

Leave a Reply

Your email address will not be published.