Renungan Harian Senin, 6 Oktober 2025

Yun. 1:1-17; 2:10; MT Yun. 2:2,3,4,5,8; Luk. 10:25-37; BcO Yes. 30:1-18; (H)

Kasih Sejati

Kasih itu menerima | Foto: Pinterest

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengetengahkan kepada kita dialog antara seorang ahli taurat dan Yesus tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal. Yesus mengajak ahli taurat itu belajar dari apa yang tertulis dalam Kitab Suci yang menegaskan syarat utama, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan, dengan segenap akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Salah satu ungkapan kasih itu terwujud dalam perkawinan yang merupakan persekutuan kasih yang kudus, bukan hanya sekadar ikatan lahiriah, melainkan juga ikatan rohani yang berakar pada Allah. Ketika seorang pria dan wanita dipersatukan dalam Sakramen Perkawinan, mereka berjanji di hadapan Allah untuk saling mengasihi dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan. Janji itu bukanlah sekadar kata-kata, tetapi sebuah komitmen seumur hidup yang menuntut kesetiaan, pengorbanan, dan kepercayaan.

Yesus menegaskan bahwa perceraian bukanlah kehendak Allah. Manusia mungkin mencari jalan keluar ketika menghadapi kesulitan dalam relasi, namun kasih sejati justru diuji dalam masa-masa sulit. Dunia modern sering mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah soal kepuasan diri, tetapi Injil mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kasih, kesetiaan, dan pengorbanan yang tulus.

Kesetiaan menuntut kerendahan hati. Tidak ada manusia yang sempurna, setiap pasangan membawa kelemahan dan keterbatasan. Namun di situlah cinta diuji: mampukah kita menerima kekurangan satu sama lain dan tetap mengasihi tanpa syarat? Allah hadir dalam setiap keluarga yang berusaha bertahan, saling mengampuni, dan tetap berpegang pada janji kasih.

Lebih luas lagi, pesan Yesus tentang kesetiaan ini berlaku bukan hanya untuk perkawinan, melainkan juga bagi setiap panggilan hidup: bagi seorang imam, biarawan-biarawati, anak dalam keluarga, maupun kita semua sebagai murid Kristus. Kesetiaan pada panggilan, tanggung jawab, dan iman kita kepada Tuhan adalah wujud nyata dari kasih yang sejati. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Fr. Oliver Dito Agung Bekam Saputra

Tingkat 1

Leave a Reply

Your email address will not be published.