Pertumbuhan benih iman itu dimulai pada tahun 1991. Saat itu komunitas umat Katolik di sekitar Payo Selincah, khususnya di Lorong Mojopahit, Lorong Madrasah, hingga sekitar Marene dan Kasang Pudak, Provinsi Jambi perlahan terbentuk. Mereka menjadi bagian dari umat Paroki St. Teresia Jambi. Jarak dari Selincah ke pusat paroki yang berada di pusat Kota Jambi relatif jauh. Jarak, keterbatasan sarana transportasi, waktu tempuh, dan kondisi ekonomi umat menjadi pertimbangan tersendiri jika harus secara rutin mengantar anak-anak ikut pendampingan Bina Iman Anak Katolik (BIAK) di pusat paroki.
Kondisi itu memantik perhatian dan inisiatif umat untuk menyelenggarakan pembinaan bagi anak-anak secara mandiri. Beberapa tokoh Katolik seperti Markus Wio, Stanislaus Tana, Rahayu, dan Winhelmus Helmy bersama umat pun sepakat untuk mendirikan kapel yang dapat menjadi tempat aneka kegiatan umat, seperti pembinaan BIAK, latihan koor, dan pembelajaran katakumen.

Berkat upaya bersama, akhirnya sebuah kapel sederhana dengan dinding papan dan lantai semen persembahan keluarga Winhelmus Helmy pun berdiri di atas tanah milik Stanis Laustana. Bangunan ini kemudian dikenal dengan sebutan Kapel Mojopahit. Meski dengan kondisi yang sederhana, kerinduan mereka untuk memiliki tempat kegiatan umat pun terwujud. Selain untuk kegiatan pembinaan umat, dalam perjalanan kapel ini juga dipakai untuk Perayaan Ekaristi bagi umat yang dilayani sebulan sekali.
Pesatnya perkembangnya umat dan semakin banyaknya kegiatan yang dilaksanakan di Kapel Mojopahit, kembali menggugah semangat para tokoh umat di Selincah, seperti Markus Wio, Winhelmus Helmy, Fitalis, Birma Sihombing, Stanislaus Tana, Aloysius Eddy Mong, Rahayu, Servianus, dan Gerardus Niga, untuk memiliki gedung gereja yang lebih memadai untuk umat di wilayah Jambi Timur. Umat umumnya adalah orang Flores, Jawa, Batak, Tionghoa, dan Nias.
Rencana pendirian dan pembangunan gedung gereja tersebut dimulai dengan membentuk panitia pembangunan. Winhelmus Helmy menghibahkan tanah seluas 16 tumbuk (1600 meter persegi) yang berlokasi di Lorong Kendali Sodo Jalan Baru/Lingkar Timur untuk menjadi lokasi gereja baru. Di bawah ‘bendera’ Keluarga Besar Maumere (KBM) dengan Markus Wio sebagai ketua, panitia ini kemudian mengurus berbagai hal yang berhubungan dengan perizinan pembangunan gedung gereja kepada pemerintah.
Dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan, Panitia pun pada 21 Mei 2000 resmi mengajukan perijinan pendirian gereja kepada Walikota Jambi. Setelah melalui perjalanan panjang dan kisah yang berliku liku, perjuangan yang gigih dan terus-menerus tersebut pun menghasilkan buah yang manis. Pada tanggal 1 Mei 2003 Pemerintah Kota Jambi akhirnya menerbitkan Izin Pembangunan Gedung Gereja dengan ketentuan Panitia diminta mengajukan permohonan IMB ke Dinas Tata Kota Jambi. Setelah tiga tahun berselang, pada tahun 2005 IMB pun akhirnya terbit.
Santa Maria Ratu Rosario
Terbitnya IMB membawa semangat baru bagi Panitia dan seluruh umat untuk segera melanjutkan proses pembangunan. Berbagai upaya dilakukan agar kerinduan akan hadirnya gedung gereja yang baru segera terwujud. Dalam proses itu, Tuhan bekreja dengan cara yang tak terduga, banyak umat dan penderma ikut ambil bagian dalam pembangunan.
Pada awalnya, Panitia ingin memberi nama gedung gereja yang baru dibangun dengan nama Reinha Rosari. Namun, dalam perjalanan nama itu diganti menjadi Gereja Santa Maria Ratu Rosario. Alasan penggantian nama adalah karena nama Reinha Rosari telah menjadi nama pelindung umat wilayah dari sekitar Talang Banjar hingga Selincah. Selain itu, umat juga percaya bahwa berdirinya gedung gereja adalah buah dari doa Rosario yang dengan setia mereka doakan bersama di dalam keluarga, lingkungan, dan berbagai kelompok kategorial. Umat yakin bahwa lewat perantaraan doa bersama Santa Maria Ratu Rosario, harapan-harapan mereka telah dikabulkan Tuhan.

Penantian panjang itu pun purna. Pada 28 Oktober 2007, Gereja Santa Maria Ratu Rosario pun akhirnya diberkati oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ dan diresmikan oleh Wali Kota Jambi, H. Arifin Manaf.
**RD. Titus Jatra Kelana
Foto: Komsos KAPal dan SMRR Payo Selincah
