Paus Leo XIV dalam eksortasi apostolik pertamanya berjudul Dilexi te (“Aku telah mengasihi engkau”) menegaskan bahwa iman sejati tidak dapat dipisahkan dari cinta kepada orang miskin. Dokumen ini menjadi undangan bagi seluruh umat beriman untuk mengenali Kristus yang hadir dalam diri mereka yang miskin, tersingkir, dan menderita. Paus Leo mengingatkan bahwa kasih kepada Tuhan selalu menuntut wujud nyata dalam pelayanan kasih kepada sesama, sebab cinta tanpa kepekaan sosial hanyalah bentuk kesalehan yang kosong.
Melalui Dilexi te, Paus Leo menegaskan kesinambungan ajaran sosial Gereja dari masa ke masa. Ia menapaki jejak para pendahulunya—dari Yohanes XXIII, Paulus VI, Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, hingga Fransiskus—yang semuanya menyoroti pentingnya perhatian terhadap kaum miskin sebagai pusat misi Gereja. Ia menegaskan bahwa “opsi preferensial bagi orang miskin” bukan bentuk diskriminasi, melainkan cerminan hati Allah yang berbelas kasih kepada mereka yang lemah dan tertindas. Dalam wajah orang miskin, kata Paus, kita menemukan penderitaan Kristus sendiri.

Eksortasi ini mengajak umat melihat kemiskinan bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga sosial, moral, rohani, dan budaya. Paus Leo menyoroti munculnya bentuk-bentuk kemiskinan baru yang lebih tersembunyi namun mematikan, di tengah sistem ekonomi yang menumpuk kekayaan bagi segelintir orang sementara banyak lainnya terpinggirkan. Ia memperingatkan bahwa ketimpangan sosial adalah akar dari penyakit masyarakat modern, dan menolak pandangan yang menyederhanakan persoalan kemiskinan hanya sebagai akibat kemalasan individu.
Paus Leo mengecam budaya pembuangan yang membiarkan jutaan orang kelaparan dan tak memiliki tempat layak di dunia modern. Ia menolak gagasan bahwa kemajuan ekonomi otomatis membawa kesejahteraan bagi semua, sebab realitas menunjukkan jurang ketidakadilan yang semakin melebar. Bagi Paus, ukuran keberhasilan sejati suatu bangsa bukanlah pertumbuhan ekonomi semata, melainkan sejauh mana mereka memuliakan martabat manusia yang paling kecil. Karena itu, Gereja dipanggil untuk menjadi suara kenabian yang mengingatkan dunia akan penderitaan mereka yang dilupakan.
Dalam Dilexi te, Paus Leo juga menyinggung realitas migrasi, yang mencerminkan wajah kemanusiaan yang terluka. Ia menegaskan bahwa Gereja harus memandang para migran bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai saudara yang perlu diterima, dilindungi, dipromosikan, dan diintegrasikan. Ia mengutip peristiwa tragis Alan Kurdi, bocah pengungsi Suriah yang tenggelam di laut, sebagai simbol kejatuhan nurani dunia yang kehilangan rasa iba. Di balik setiap migran yang ditolak, katanya, Kristus sendiri mengetuk pintu hati kita.
Paus Leo juga menaruh perhatian besar pada penderitaan perempuan dan anak-anak, yang seringkali mengalami “kemiskinan ganda” akibat kekerasan, pengucilan, dan ketidakadilan sosial. Ia menekankan bahwa kemiskinan bukanlah takdir atau kebetulan, melainkan hasil dari struktur sosial yang tidak adil dan sistem ekonomi yang menindas. Karena itu, Gereja tidak cukup hanya berkhotbah atau berdoa, melainkan perlu bertindak nyata dalam solidaritas dan pembelaan terhadap martabat manusia.
Sebagai teladan, Paus Leo menyinggung para kudus dan ordo religius yang selama berabad-abad menghidupi semangat “Gereja miskin untuk kaum miskin”: Santo Fransiskus dari Asisi, Santa Teresa dari Kalkuta, dan banyak ordo yang mendedikasikan diri untuk merawat yang sakit, mendidik yang miskin, serta membebaskan yang tertawan. Ia juga menegaskan hak atas pendidikan sebagai bagian dari martabat manusia yang harus dijamin bagi semua orang. Pendidikan, menurutnya, bukanlah hadiah, tetapi kewajiban moral dan sosial.
Menutup pesannya, Paus Leo menegaskan bahwa orang miskin bukan sekadar objek belas kasih, melainkan subjek pewartaan Injil. Mereka adalah bagian dari keluarga besar Gereja, bukan orang luar yang ditolong, tetapi saudara yang menyadarkan kita akan makna sejati iman. Gereja yang menutup diri dari mereka, kata Paus, kehilangan rohnya sendiri. “Iman yang sejati,” tegasnya, “tak dapat dipisahkan dari cinta kepada orang miskin, sebab di dalam diri merekalah Kristus hadir dan berbicara kepada dunia.”
Oleh: Salvatore Cernuzio
Diterjemahkan dan disadur ulang oleh Fr. Bednadetus Aprilyanto
Foto: vatican news
