Suasana penuh semangat tampak mengemuka di Pendopo Paroki Santo Petrus Kenten Palembang pada Sabtu (25/10/2025) pagi. Sebanyak 170 peserta yang berasal dari berbagai paroki dan kelompok kategorial di seluruh wilayah Keuskupan Agung Palembang hadir dalam seminar Hari Pangan Sedunia (HPS) 2025 bertajuk Membangun Jejaring Pendistribusian Pangan Sehat yang Berkelanjutan.
Ketua Panitia Perayaan HPS, N. Suseno, dalam sambutannya menyampaikan bahwa bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan jasmani, melainkan juga wujud kasih dan tanggung jawab sosial terhadap sesama serta bumi ciptaan Tuhan. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan HPS 2025 merupakan kelanjutan dari semangat perayaan HPS yang telah bergulir pada tahun 2023 di Dekanat III Bengkulu dengan tema Bumi Sehat, Pangan Sehat dan tahun 2024 di Dekanat II Belitangdengan tema Cipta dan Cinta Pangan Sehat.

“Tema tahun ini mengajak kita semua untuk tidak hanya bersyukur atas anugerah pangan, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya membangun jejaring dan kerja sama lintas wilayah, lintas paroki, bahkan lintas keuskupan dalam menjaga keberlanjutan pangan yang sehat dan adil bagi semua.”
Selanjutnya, Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang, Pastor Laurentius Rakidi, dalam sambutannya menekankan agar HPS tidak hanya menjadi agenda tahunan yang bersifat seremonial, melainkan perayaan yang membawa perubahan nyata.
“Saya berharap agar perayaan ini tidak hanya menjadi jadwal rutin, tetapi setiap kali kita merayakannya, ada sesuatu yang baru dan bermakna. Kita perlu mengambil langkah konkret yang sesuai dengan tema, yakni membangun jejaring pendistribusian pangan sehat yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Pastor Rakidi juga menyinggung tentang kesulitan yang dialami oleh produsen pangan lokal dalam memasarkan hasil produksi mereka. Ia berharap melalui materi seminar yang disajikan para peserta memperoleh wawasan baru dan menemukan peluang kolaborasi yang dapat membantu proses pengembangan dan pemasaran pangan sehat, sekaligus memperkuat kesejahteraan bersama.
Sementara itu, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Pastor Yohanes Kristianto, dalam sambutannya memberikan refleksi mendalam mengenai makna sosial dan iman dari peringatan HPS. Ia menyoroti keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang masih menghadapi masalah serius seperti kemiskinan, stunting, dan ketimpangan ekonomi.
“Indonesia yang katanya menuju negara maju masih menyimpan luka sosial yang mendalam. Ada anak kecil meninggal karena kekurangan gizi, dan banyak yang masih hidup dalam ketidaklayakan. Ini menjadi cermin bagi kita semua, dimana wajah pemerintah dan juga wajah Gereja yang seharusnya hadir memberi empati dan solidaritas?” terangnya.

Pastor Kristianto mengajak seluruh peserta untuk memaknai Hari Pangan Sedunia sebagai panggilan bagi Gereja untuk menampilkan wajah kasih Allah melalui tindakan konkret dalam masyarakat. “Kita ingin memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat. Anda semua adalah wajah Gereja yang hadir di tengah dunia. Jika gerakan ini terus berlanjut, maka pada saatnya nanti bukan lagi sekadar kegiatan, tetapi akan menjadi sebuah gerakan besar yang berdampak luas bagi kesejahteraan bersama,” pungkasnya.
Seminar Hari Pangan Sedunia ini menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas yang mengedepankan nilai iman, solidaritas, dan tanggung jawab ekologis. Hadir sebagai pemateri seminar antara lain Sekretaris Komisi PSE Konferensi Waligereja Indonesia, Pastor Aegidius Eko Aldilanto O.Carm dan Koordinator Kerasulan Sosial Konferensi Yesuit Asia Pasifik (JCAP), Pastor Adrianus Suyadi SJ.
Melalui dialog, berbagi pengalaman, dan pembelajaran bersama, Gereja di Keuskupan Agung Palembang kembali meneguhkan komitmennya untuk menjadi pelopor dalam memperjuangkan pangan yang sehat, adil, dan berkelanjutan bagi seluruh ciptaan.
**Fr. Bednadetus Aprilyanto
Foto: Komsos KAPal
