“Bapa Suci Paus Leo XIV menyatakan bahwa relasi dalam Gereja janganlah berdasarkan logika kekuasaa hirarkis tetapi harus berdasarkan logika kasih, sinodal berjalan bersama. Dalam kasih tak ada seorang pun dikecualikan, tak didengarkan dan tak mendengarkan. Semua orang dipanggil berpartisipasi dalam misi. Ajakan Paus ini perlu kita dalami dalam SAGKI ini, bagaiamana kita mendengarkan Roh Kudus dengan semnagat dialog, semangat persaudaraan dan berani berbicara tentang kebenaran dengan terbuka dan berani.”
Demikian diungkapkan oleh Uskup Bandung sekaligus Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC dalam sambutannya saat membuka SAGKI 2025 yang digelar di Ballroom Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Senin (3/11/2025) petang.
Sidang yang dilaksanakan dalam bingkai perayaan Tahun Yubileum ini dibuka dengan Perayaan Ekaristi meriah yang dipimpin oleh Mgr. Antonius Subianto OSC. Kegiatan yang mengusung tema Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian dan akan berlangsung pada 3-7 November 2025 ini dihadiri 37 uskup aktif, 4 uskup emeritus, dan 374 peserta terdiri dari imam, biarawan, biarawati, dan awam wakil dari setiap keuskupan seluruh Indonesia.
Sidang Lima tahunan ini menjadi kesempatan untuk melihat bersama arah Gereja Katolik Indonesia, berefleksi, dan menampilkan diri secara nyata dalam menaggapi tantangan jaman, serta menjadi tanda harapan yang nyata.
Ketua Panitia Pelaksana SAGKI 2025, Romo Alfons Widhiwiryawan SX, dalam sambutannya mengutip pesan mendiang Paus Fransiskus tentang panggilan Gereja untuk berjalan bersama seluruh umat manusia dan menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih.
“Paus Fransiskus mengingatkan bahwa pengharapan adalah wajah kasih yang tidak pernah menyerah. Ia tersenyum bahkan ketika dunia menangis. Sebab di dalam luka-luka manusia Kristus menanam benih kebangkitan. Kutipan ini menjadi jiwa dari seluruh permenungan kita. Gereja dipanggil untuk berjalan bersama seluruh umat manusia yang terluka dan menghadirkan wajah Allah yang damai penuh belaskasih”, ungkap Romo Alfons.
Nuansa kebhinekaan mewarnai rangkaian pembukaan Sidang Agung ini. Acara pembukaan SAGKI melibatkan banyak elemen umat, bukan hanya dari wilayah Keuskupan Agung Jakarta saja tetapi juga dari keuskupan lainnya. Semua peserta mengenakan pakaian adat dari masing-masing daerah, mulai dari ujung Sumatera sampai dengan ujung Papua.
Dalam kesempatan seremoni pembuka, Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Republik Indonesia, Mgr. Piero Pioppo secara pribadi menyampaikan terima kasih atas kerja sama Gereja Indonesia, dorongan, dan semangat yang telah diberikan, serta atas doa-doa yang menguatkan. Ia mengungkapkan bahwa di Eropa Gereja tampak lemah dan menua. Maka ia akan membawa pengalaman di Indonesia ke Spayol, tempat tugasnya yang baru.
Seraya mengungkapkan bahwa ada banyak hal-hal indah yang dimiliki Gereja Indonesia secara berlimpah, Nuntius juga menyampaikan harapannya. “Mari kita bersatu dalam doa dan karya, tidak hanya beberapa hari sidang ini tetapi senantiasa, sebab kita yakin bahwa dalam persekutuan dengan Tritunggal Mahakudus dan dengan dibantu oleh perlindungan keibuan Perawan Maria, kita dan Gereja-Gereja Lokal kita akan selalu berjalan sebagai peziarah pengharapan yang memelihara anugerah iman,” ajak Mgr. Pioppo.
Pembukaan Sidang Agung semakin meriah dan lengkap dengan beragam sajian tarian dari anak-anak, remaja, dan Orang Muda Katolik yang menggambarkan keragaman budaya Indonesia.

Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono hadir bersama 8 utusan dari Keuskupan Agung Palembang, yaitu Sekretaris Keuskupan, Romo Alexander Pambudi SCJ; Direktur Diosesan Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI), Romo Yohanes Sigit Winarno SCJ; Sr. M. Carolisa FCh, Leonardus Sutrisno, Melkyor The Foress (Dekanat Palembang), Teresia Ari Sukarni (Dekanat Jambi), Hieronimus Legino, dan Bisma (Dekanat Bengkulu).

**Romo Yohanes Sigit Winarno SCJ
Foto: Dokumen Pribadi
