Yes. 7:1-9; Mzm. 48:2-3ab,3cd-4,5-6,7-8; Mat. 11:20-24
Penyakit Terbiasa

Saudara-saudari terkasih, pernahkah Anda menerima kebaikan yang begitu besar dari seseorang, tetapi menganggapnya sebagai hal yang biasa saja? Lewat bacaan hari ini, Yesus sedang menegur kota Khorazin, Betsaida, dan Kapernaum. Kota-kota ini adalah tempat di mana Yesus paling sering menyatakan kuasa-Nya, menyembuhkan yang sakit, dan membagikan kasih. Sayangnya, limpahnya berkat dan mukjizat itu justru membuat hati mereka tumpul. Mereka menjadi terbiasa melihat pekerjaan Tuhan, hingga akhirnya mukjizat tidak lagi menggerakkan hati mereka untuk berbalik kepada-Nya.
Sering kali, kita pun mengidap penyakit yang sama: “penyakit terbiasa”. Kita terbiasa bangun pagi dengan napas yang lega, terbiasa memiliki makanan di meja, dan terbiasa pulang ke rumah dengan selamat. Karena sudah menjadi rutinitas, kita lupa bahwa semua itu adalah mukjizat dan kebaikan Tuhan yang nyata. Bahayanya, ketika hati sudah tumpul oleh rutinitas, kita mulai mengandalkan diri sendiri dan merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan untuk menuntun jalan hidup kita.
Teguran Yesus dalam perikop ini sebenarnya bukanlah ungkapan kemarahan yang merusak, melainkan jeritan kasih seorang Sahabat yang terluka karena diabaikan. Tuhan menuntut pertobatan bukan karena Dia butuh pengakuan kita, melainkan karena Dia tahu bahwa tanpa pertobatan, kita sedang berjalan menuju kehancuran kita sendiri. Kebaikan-kebaikan Tuhan yang kita terima setiap hari seharusnya menjadi alarm atau pengingat yang membangunkan jiwa kita untuk semakin setia dan taat, bukan malah membuat kita makin keras kepala.
Saudara-saudari terkasih, mari kita ambil waktu sejenak untuk meneliti hati. Mukjizat terbesar dalam hidup ini bukanlah saat badai diredakan atau penyakit disembuhkan secara instan, melainkan saat hati kita yang keras ini mau melunak dan menyadari kehadiran-Nya. Jangan tunggu sampai Tuhan menarik berkat-Nya baru kita bersimpuh mencari-Nya. Sadarilah kebaikan-Nya hari ini, ucapkan syukur atas hal-hal kecil, dan izinkan kasih-Nya mengubah cara kita hidup dan bertindak. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Nikodemus Panggabean
