Rm. 15:14-21; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Luk. 16:1-8; BcO Yer. 42:1-16; 43:4-7; (H)

Berani Jujur
Saudara-saudari terkasih, bacaan Injil hari ini menampilkan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur yang disampaikan Yesus kepada para murid-Nya. Perumpamaan ini barangkali sudah sering kita dengar. Dalam konteks zaman itu, bendahara bukan hanya seseorang yang mengelola keuangan, tetapi juga orang kepercayaan yang mengatur seluruh urusan rumah tangga tuannya—mulai dari keuangan, pengelolaan usaha, hingga urusan kepegawaian. Dengan tanggung jawab yang begitu besar, seharusnya ia menjadi pribadi yang jujur dan dapat diandalkan. Namun, realitanya berbeda. Ia justru menyalahgunakan kepercayaan itu dan melakukan pemborosan. Akibatnya, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan dipecat oleh tuannya.
Saudara-saudari terkasih, kisah ini tidak hanya berbicara tentang seorang bendahara, tetapi juga tentang setiap dari kita yang diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengelola hidup dan tanggung jawab kita masing-masing. Dalam keseharian, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan: memilih untuk bekerja atau bermalas-malasan, memilih untuk berinteraksi dengan sesama atau sibuk dengan diri sendiri, memilih untuk berbuat baik atau mengabaikan kewajiban kita. Sebagai orang beriman, pilihan yang kita ambil seharusnya bukan sekadar didasari oleh keuntungan pribadi, melainkan oleh tanggung jawab moral dan spiritual di hadapan Tuhan.
Yang menarik, Yesus mengatakan bahwa tuan itu memuji si bendahara bukan karena ketidakjujurannya, melainkan karena kecerdikannya dalam menghadapi situasi sulit. Ia mampu berpikir cepat untuk mencari jalan keluar agar tetap diterima oleh orang lain setelah kehilangan jabatannya. Dari sini Yesus mengajak kita untuk belajar bersikap bijak dan cerdas dalam menggunakan segala sumber daya yang ada—bukan untuk kepentingan diri semata, melainkan untuk membangun relasi dan menabur kebaikan bagi sesama.
Dalam hidup sehari-hari, kita pun sering tergoda untuk mengambil jalan pintas: tidak jujur, tidak setia, atau bahkan merugikan orang lain demi keuntungan pribadi. Injil hari ini mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap mamon, yaitu segala bentuk kekayaan atau harta duniawi yang bisa menjerat hati kita. Mamon bukan hanya soal uang, tetapi segala hal yang membuat kita lebih mengutamakan kepentingan diri daripada kehendak Tuhan.
Yesus menegaskan bahwa harta duniawi harus digunakan untuk tujuan yang kekal. Harta benda, jabatan, dan waktu yang kita miliki adalah sarana untuk berbuat kasih, membantu sesama, dan memuliakan Tuhan. Semuanya bersifat sementara, namun dapat menjadi jalan menuju kehidupan kekal bila digunakan dengan hati yang benar. Kita semua diberi kesempatan yang sama untuk memilih: apakah akan menjadi pengelola yang jujur dan bertanggung jawab, atau sebaliknya, menyalahgunakan kepercayaan yang Tuhan berikan.
Maka marilah kita dengan rendah hati mohon rahmat Tuhan agar dalam setiap langkah hidup dan keputusan yang kita ambil, kita selalu menyadari kehadiran-Nya. Semoga kita mampu mengelola setiap talenta, harta, dan tanggung jawab dengan jujur, bijak, dan penuh kasih, sehingga hidup kita menjadi berkat bagi sesama dan membawa sukacita bagi Tuhan sendiri.
Semoga Tuhan yang setia memberkati setiap usaha dan pilihan hidup kita.
Fr. Delho Panca Firdaus Sinaga-Tingkat 2
Foto: Pinterest
